Beranda »
Resensi Buku » Upacara Adat dan Kesenian Khas pada Masyarakat Melayu Kayong Kabupaten Ketapang
21 desember 2010 00:07
Upacara Adat dan Kesenian Khas pada Masyarakat Melayu Kayong Kabupaten Ketapang
Judul Buku
| : | Upacara Adat dan Kesenian Khas pada Masyarakat Melayu Kayong Kabupaten Ketapang |
Penulis
| : | Lisyawati Nurcahyani, dkk |
| Penerbit | :
| Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Pontianak |
| Cetakan | : | 2007 |
Tebal
| :
| viii + 69 halaman |
Ukuran
| :
| 14, 5 x 20 cm |
Suku Melayu Kayong juga disebut dengan orang Ketapang. Kayong sendiri sebenarnya merupakan nama sebuah sungai yang mengalir di daerah Ketapang, Kalimantan Barat (h. 23).
Buku di hadapan Anda ini, meski sederhana dan kecil adalah buku yang penting untuk dibaca, khususnya oleh Anda pengkaji silang budaya. Buku hasil penelitian Jarahnitra Ketapang ini membahas tentang sebuah suku Melayu yang mendapat julukan “berbeda” meskipun mereka tinggal di wilayah persebaran Melayu. Suku tersebut adalah suku Melayu Kayong di Kalimantan Barat.
Buku ini ditulis untuk mendokumentasikan suku-suku kecil yang ada di Kalimantan Barat, selain suku Dayak yang terbesar. Dalam konteks ini, buku ini harus diapresiasi untuk pendataan penduduk dan mengontrol eksistensi suku tersebut. Suatu ketika, jika ternyata suku tersebut mulai sedikit dan nyaris punah, negara dapat bergerak untuk menyelamatkannya. Usaha yang sama seharusnya perlu dilakukan untuk pulau-pulau kecil di Indonesia yang hingga kini masih banyak yang belum diberi nama dan dijaga.
Tentang Sebutan Melayu
Secara umum, kata Melayu dipahami sebagai nama sebuah suku besar. Yaitu sebuah suku yang hidup di wilayah Asia hingga kepulauan Madagaskar, Afrika. Diaspora suku Melayu telah terjadi dalam ratusan hingga ribuan tahun, karena itu wajar jika persebarannya sangat luas. Selain itu, suku Melayu juga dikenal sebagai kaum pedagang yang suka berekspansi.
Akan tetapi, kata Melayu terkadang menjadi julukan yang khusus mengarah kepada kelompok masyarakat yang memiliki adat istiadat kebudayaan khas tersendiri meskipun kelompok masyarakat tersebut hidup di wilayah tempat tinggal suku Melayu secara umum. Dalam konteks keinginan para puak Melayu yang ingin bersatu, maka realitas ini terasa aneh. Bukankah seyogyanya jika penduduk yang tinggal di wilayah Melayu maka disebut orang Melayu, tidak usah diberi embel-embel Melayu Riau, Melayu Kalimantan, Melayu Palembang, Melayu Singapura, atau Melayu Malaysia? Bukankah ini justru menegasi istilah Melayu serumpun?
Seperti provinsi Kalimantan Barat, provinsi ini secara geografis historis adalah daerah persebaran suku Melayu, termasuk orang Dayak adalah juga orang Melayu. Akan tetapi, masyarakat Kalimantan Barat tetap menyebut masyarakat Ketapang dengan sebutan khusus, yaitu Melayu Kayong (terkadang ditulis Kayung). Penyebutan ini dikarenakan suku Melayu Kayong memiliki adat istiadat yang berbeda (khas), yakni lebih terasa budaya Islamnya, dibandingkan dengan umumnya orang Kalimantan Barat (Dayak). Sementara itu, secara kebudayaan disebabkan oleh keinginan dasar manusia yang selalu ingin mengklasifikasikan sesuatu agar sesuatu tersebut berbeda dengan yang lain, meskipun jika diurutkan pada pokoknya sama. Hal ini dapat dilihat dalam bidang biologi yang mengurutkan species binatang atau tumbuhan hingga sekecil-kecilnya.
Memang dalam realitasnya, adat istiadat kebudayaan orang Melayu Kayong tampak banyak dipengaruhi oleh ajaran Islam. Baik istilah maupun waktu pelaksanaan upacara adat misalnya, banyak menggunakan istilah-istilah yang juga digunakan dalam ajaran Islam, seperti upacara mandi safar. Safar adalah nama salah satu bulan dalam kalender Islam. Namun demikian, jika dicermati secara mendalam, adat istiadat Melayu Kayong juga banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha serta kepercayaan pada animisme dan dinamisme yang dahulu pernah ada di Kalimantan. Sebut saja seperti upacara adat bayar niat makam keramat tujuh, upacara buang-buang penyakit, upacara tepung tawar, atau upacara buang-buang tali pusar.
Adanya pengaruh ajaran budaya lain dalam adat istiadat Melayu Kayong semakin nyata jika mencermati sejarah asal-mula leluhur orang Melayu Kayong.
Berbagai cerita rakyat yang berkembang mengatakan bahwa Melayu Kayong adalah keturunan Jawa yang dibawa oleh Prabu Jaya dari Kerajaan Majapahit. Yang terdampar di daerah sungai Pawan yang disebut juga dengan Kuala Kandang Kerbau. Atas permintaan istrinya, Putri Junjung Buih, Prabu Jaya membangun permukiman yang kemudian dinamakan Kayong (h. 23).
Semangat Lain
Data di atas membuktikan bahwa ternyata diaspora leluhur Melayu menjadikan kemajemukan kebudayaan orang Melayu. Melayu menjadi warna-warni dan dapat masuk ke semua lini, Melayu yang cair. Data ini seharusnya menjadi semangat orang Melayu untuk memajukan kebudayaan Melayu. Kebudayaan Melayu dapat dikolaborasikan dengan kebudayaan lain, baik tradisional maupun kontemporer.
Semangat kemajemukan ini seharusnya justru menjadikan orang Melayu semakin percaya diri. Mereka menjadi tidak takut untuk bergaul dengan kebudayaan lain yang berbeda, karena bisa jadi antarkebudayaan ada persinggungan yang positif. Dari semangat inilah seharusnya akan muncul semangat persatuan antarpuak Melayu di manapun mereka berada.
Penyebutan suku Melayu menjadi lebih kecil memang terkesan dilematis. Satu sisi diperlukan untuk membedakan dalam konteks klasifikasi sosial. Namun, disisi lain ini menjadi bumerang jika masyarakat umum mengikuti klasifikasi tersebut dan menganggap itulah Melayu yang sebenarnya, seperti umumnya Melayu yang dianggap pasti Islam.
Yusuf Efendi (res/47/12-10).
Dibaca : 4.742 kali.