Sabtu, 20 September 2014   |   Ahad, 25 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.080
Hari ini : 8.290
Kemarin : 15.705
Minggu kemarin : 230.267
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.138.711
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



21 desember 2010 00:07

Alat Muzik Tradisional Brunei

Alat Muzik Tradisional Brunei

Judul Buku
:
Alat Muzik Tradisional Brunei
Penulis
:
Hajah Kaipah Binti Abdullah
Penerbit:
Dewan Bahasa dan Pustaka, Brunei Darussalam
Cetakan:Kedua, 2002
Tebal
:
xiv + 78 halaman
Ukuran
:
15 x 22, 6 cm
 

Alat muzik (Indonesia: musik) tradisional adalah alat kesenian yang tidak akan mati. Sedari dulu, alat musik memiliki banyak fungsi bagi kehidupan manusia. Sebagai alat penghibur, sarana upacara adat, penanda identitas seseorang, dan lebih luas alat musik merupakan penanda kebudayaan sebuah bangsa. Sayangnya, ketika zaman sudah modern, alat musik tradisional mulai ditinggalkan oleh pemiliknya. Namun tidak sedikit pula pemilik kebudayaan tersebut berusaha melestarikannya.

Setidaknya pandangan ini pula yang coba dihadirkan oleh buku di hadapan Anda ini. Brunei Darusslam sebagai bagain dari kebudayaan besar, yaitu kebudayaan Melayu, memiliki beragam alat musik tradisional yang penting untuk dilestarikan agar tidak punah. Dalam buku ini, Anda dapat membaca setidaknya 13 alat musik tradisional Brunei Darussalam. Semua alat musik ini sekarang ada yang hanya menjadi koleksi, namun ada pula yang masih sering dimainkan, misalnya dalam acara-acara tertentu, seperti memeriahkan perkawinan.

Anda mungkin sudah dapat mengira-ngira alat musik apa saja yang dibahas dalam buku ini, karena Brunei Darussalam adalah salah satu bangsa rumpun Melayu, yang tentu saja alat-alat musik tradisionalnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Perkiraan Anda ini tidaklah meleset, karena buku ini memang membahas alat-alat musik tradisional seperti gong (h. 12) atau gandang labik (h. 13). Peralatan ini dahulu menjadi bagian dari kebudayaan leluhur Brunei yang mungkin telah terjadi akulturasi dengan budaya Indonesia atau leluhur rumpun Melayu lainnya.

Alat-alat tersebut tidak hanya sama dalam hal bentuk dan fungsinya saja, akan tetapi juga dalam hal wujud, bahan, dan pembuatannya. Gong misalnya, wujudnya adalah seperti piring besar yang tengahnya menonjol ke atas. Pada benjolan itulah tempat memukul. Gong terbuat dari lempengan besi tembaga yang tebal yang dibuat oleh seorang pande besi yang mumpuni dan memiliki ilmu. Tidak sembarang orang dapat membuat gong, karena gong adalah juga salah satu alat musik disakralkan oleh masyarakat Melayu Brunei tradisional.

Melayu yang Satu

Melayu adalah nama sebuah suku terbesar di dunia ini. Kebesaran suku Melayu terbukti dari daerah persebaran mereka yang luas dan (meskipun tidak menjamin) banyaknya ditemukan beragam kesamaan budaya di wilayah-wilayah persebaran tersebut, salah satunya alat musik. Apa yang dapat disimpulkan dari realitas ini?

Suku Melayu tidak hanya ditandai dengan leluhurnya yang tersebar, tetapi juga hasil budayanya. Kesamaan hasil budaya ini memperkuat asumsi bahwa Melayu adalah besar dan satu. Kesamaan-kesamaan di atas secara tidak langsung sebenarnya menunjukkan bahwa kebudayaan Melayu adalah satu, Melayu yang satu. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada alasan antarpuak Melayu di manapun berada untuk bersengketa. Melayu adalah nama sebuah ‘suku’ besar sekaligus nama persatuan itu sendiri.  

Kesamaan-kesamaan ini juga menjadi satu tanda bahwa melalui musik segala perbedaan itu hilang. Karena itu tidak sedikit pergelaran musik dihelat dalam sebuah acara amal. Tujuannya untuk mengumpulkan dana bagi korban bencana tertentu. Musik digunakan karena musik dapat melintasi batas-batas tertentu, ras, agama, suku, atau teritori. Tidak sedikit pula artis luar negeri yang menjadi idola masyarakat meskipun mereka tidak memahami bahasa sang artis.

Ketika orang-orang yang berbeda berkumpul dalam sebuah pagelaran musik, maka yang ada dalam imajinasi mereka adalah keinginan untuk meluapkan kegembiraan melalui musik yang ada, tanpa memperdulikan perbedaan mereka. Secara psikologis, ketika penonton histeris karena mendengar keindahan suara alat musik atau keindahan suara penyanyinya, maka yang ada dalam jiwa orang tersebut adalah kepuasan.

Kolaborasi

Orang Melayu yang tersebar di seluruh dunia memiliki kesenian dan alat musik tradisonal yang ribuan jumlahnya. Hal itu merupakan modal sosial yang berharga bagi keberlangsungan kehidupan orang Melayu. Melalui alat-alat musik tradisional yang ada, orang Melayu dapat memajukan kebudayaan Melayu agar sejajar atau bahkan lebih dengan kebudayaan bangsa lain. Namun tugas ini terasa berat, karena sekali lagi, alat musik tradisional sudah mulai dilupakan oleh para generasi muda Melayu.

Realitas ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pemerhati kesenian Melayu dan orang-orangtua Melayu untuk mendidik generasi penerus mereka agar mencintai kesenian mereka sendiri, dan itu tampaknya sudah mulai tumbuh. Paruh awal akhir abad 20 dan awal abad 21, mulai banyak bermunculan kelompok musik yang memadukan antara musik tradisional dan modern. Menurut mereka, musik tardisional memiliki kelebihan yang dapat dipadukan dengan musik modern. Perpaduan keduanya dapat menghasilkan musik yang memenuhi selera zaman.

Di kalangan Melayu tersebutlah nama seperti Vicky Sianipar. Pemuda Batak yang mencoba memadukan musik tradisional Batak dengan musik modern. Saat ini, karya-karya kolaboratif Vicky telah terkenal dan diakui dunia. Hal ini semoga menjadi semangat generasi muda Melayu lainnya untuk mencintai musik tradisional mereka. Semangat mereka harus satu, yaitu melestarikan musik tradisional Melayu dan memajukannya sesuai perkembangan zaman.

Yusuf Efendi (res/48/12-10).

Dibaca : 8.394 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat