Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.443
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



23 desember 2010 00:07

Sejarah Kota Putussibau

Sejarah Kota Putussibau

Judul Buku
:
Sejarah Kota Putussibau
Penulis
:
Karel Juniardi
Penerbit:
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Pontianak
Cetakan:2008
Tebal
:
xvi + 35 halaman
Ukuran
:
14, 5 x 20, 5 cm
 

Di negeri ini masih banyak kota-kota yang berbatasan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang belum banyak diekspos. Banyak orang yang baru mengetahui kalau ada kota yang bernama Putussibau. Tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sebelah timur kota ini, berbatasan dengan kota Serawak Malaysia.

Letak geografis yang dekat dengan Malaysia ini menjadikan Puttusibau sebagai kota yang penuh warna kehidupan sosial. Tidak sedikit dari penduduk kota ini yang keluar masuk Malaysia dengan mudah. Di antara penduduk kota ini ada juga yang terikat kawin-mawin. Barang-barang yang dijual di pasar Putusibau banyak yang berasal dari Malaysia.

Secara sederhana, jika Anda ingin mengetahui kondisi kota perbatasan ini, Anda dapat membaca buku kecil ini. Meskipun dilakukan berdasar penelitian yang singkat, buku ini cukup memberikan informasi tentang Kota Putussibau. Sebuah kota dengan sejarah berdiri yang sederhana dan unik.

Sejarah Kota

Nama Putussibau merupakan gabungan dari dua kata, yaitu putus dan sibau. Putus berarti terbelah atau membelah dan sibau adalah nama sungai kuno yang membelah kota tersebut. Sungai ini dinamakan sibau karena di sepanjang kanan dan kiri sungai tumbuh pohon sibau yang berbuah mirip rambutan. Oleh penduduk, daun sibau dahulu biasa digunakan sebagai pewarna tikar. Jika ditumbuk dan direbus, daun sibau akan mengeluarkan warna merah. Pewarna ini tidak akan luntur dan hilang terkena air. 

Menurut cerita rakyat yang ada, dahulu terdapat pohon sibau yang besar sekali dan entah kenapa pohon itu tumbang membelah sungai. Dari situlah nama kota ini bermula (h. 8-9). Cerita ini menjadi legenda kota yang dipercaya penduduk Putussibau hingga sekarang. Melalui cerita ini penduduk mengikatkan identitas budaya dan sosialnya. Sebagai penduduk perbatasan, meski mereka sering keluar masuk Malaysia, namun sejarah kota ini mengikat mereka untuk selalu mengimajinasikan Indonesia sebagai tempat lahir.

Penduduk Putussibau adalah keturunan dari orang Dayak Taman dan Kantu’. Namun hanya Dayak Taman yang dalam perkembangannya menetap di Putussibau. Anak keturunan Dayak Taman inilah kemudian yang menurunkan generasi Putussibau sekarang ini. Sementara itu, Dayak Kantu’ bermigrasi ke hilir sungai. Kedua suku ini berasal dari pedalaman hutan Kalimantan Timur. 

Dalam perkembangannya, wilayah Putussibau kedatangan orang-orang Dayak Kayan. Mereka disinyalir sebagai warga kerajaan Selimbau yang pernah berkuasa di wilayah Putussibau. Namun setelah kedatangan Belanda, kerajaan ini hancur. Konon penduduk Putussibau beragama Islam. Hal itu disebabkan oleh pengaruh Dayak Kayan yang sudah memeluk Islam.

Dilema di Wilayah Perbatasan

Letak wilayah yang berdekatan dengan Malaysia, menyebabkan masyarakat kedua wilayah saling berinteraksi. Interaksi menjadi sebuah ruang yang intensif untuk saling bertukar informasi dan membandingkan kemajuan antar wilayah. Pada kondisi ini, ketika ternyata wilayah Malaysia terlihat lebih maju daripada Indonesia, tidak sedikit orang Indonesia yang memilih menyekolahkan anaknya ke Malaysia. Hal ini sebenarnya dirasakan dilematis sekaligus sedih oleh warga Indonesia, kenapa justru Malaysia yang mencukupi kebutuhan mereka?

Hal ini tentu saja menjadi kritik bagi pemerintahan Indonesia untuk membangun wilayah perbatasan lebih baik lagi. Hal ini juga menjadi kritikan terhadap pemerintah daerah untuk memperhatikan perkembangan masyarakatnya yang ada di perbatasan. Dilema ini harus diselesaikan dengan sebuah program dan strategi pembangunan yang seimbang. Jika tidak maka tidak mengherankan apabila  terdengar sebuah berita banyak orang-orang perbatasan yang berpindah kewarganegaraan.

Perpindahan kewarganegaraan merupakan indikasi negatif akan adanya ketidakpercayaan warga negara terhadap pemimpinnya. Warga negara beranggapan bahwa pemimpin mereka kurang memperhatikan mereka. Ibarat seorang orangtua yang tidak memperhatikan anaknya. Jika orangtua perhatian, tentu sang anak tidak mungkin akan mencari orangtua yang lain. Dalam konteks, ekstrimnya hal ini akan berakibat pada semangat nasionalisme warga negara. Kebanggaan terhadap bangsa sendiri akan hilang jika negara tidak perhatian terhadap warganya.

Apa yang dialami oleh masyarakat Sebatik di Nunukan, Kalimantan Timur harus menjadi pelajaran pemerintah pusat dan daerah. Seperti diketahui, masyarakat Sebatik yang berbatasan dengan Malaysia banyak yang memilih menyekolahkan anaknya ke Malaysia daripada ke Nunukan. Hal itu dikarenakan fasilitas di Malaysia lebih baik. Dalam bidang kesehatan mereka juga lebih memilih ke klinik-klinik di Malaysia.

Sebenarnya jika dicermati secara mendalam, dilema masyarakat perbatasan ini juga dialami oleh masyarakat kota besar yang jauh dari perbatasan. Seperti yang banyak diberitakan di media-media cetak maupun elektronik, banyak warga Indonesia yang lebih suka berobat ke Singapura atau Australia, karena menganggap pelayanan dan fasilitas di rumah sakit di Indonesia tidak baik. Orang-orang Indonesia yang berduit tidak lagi memikirkan biaya yang besar, tetapi pelayan dan fasilitas yang memadai. Jika demikian adanya, maka yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan layanan dan fasilitas layanan publik di manapun di negeri ini.

Yusuf Efendi (res/49/12-10).

Dibaca : 4.442 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi