Selasa, 28 April 2026   |   Arbia', 11 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 3.866
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



23 desember 2011 07:07

Telatah Wak Atan

Telatah Wak Atan

Judul Buku
:
Telatah Wak Atan
Penulis
:
Mosthamir Thalib
Editor:Nur Rosyidah
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan:Agustus, 2007
Tebal
:
xvi + 157 halaman
Ukuran
:
11 x 17, 8 cm
 

Selain pantun, kebudayaan Melayu ternyata juga kaya dengan kelakar. Di ranah Riau, tersebutlah cerita-cerita rakyat seperti Pak Ande, Musang Berjanggut, Pak Belalang, Yong Dolah, atau ahli nujum. Cerita-cerita rakyat tersebut lebih banyak mengisahkan tentang keluguan dan kelucuan masyarakat dalam menyikapi kehidupan yang terkadang pahit.

Di warung-warung kopi, biasanya orang-orang berkumpul untuk membicangkan perilaku orang. Di zaman modern ini, ketika era otonomi daerah menggelora di setiap daerah di negeri ini, perilaku pejabat sangat menarik untuk dikelakarkan. Pejabat sebagai sumber kelakar maupun olok-olok memang menjadi tren. Entah karena masyarakat yang tidak punya pekerjaan atau karena tingkah laku pejabat tersebut yang aneh (untuk tidak menyebut gila). Tampaknya yang kedua ini yang benar.

Salah satu kelakar Melayu tentang pejabat di Riau yang menarik untuk dibaca adalah buku di hadapan Anda ini. Buku mungil ini merupakan kumpulan tulisan Mosthamir Thalib, seorang jurnalis di Harian Tribun Riau. Tulisan-tulisan ini pada mulanya sebuah tulisan singkat tentang perilaku lucu dari masyarakat dan pejabat di Riau yang dimuat di Tribun Riau sebulan sekali. Untuk mencerahkan masyarakat agar mereka mengetahui tingkah laku pemimpin yang merka pilih, akhirnya tulisan-tulisan tersebut dibukukan.

Dalam buku ini Anda akan menemukan cerita-cerita lucu tentang pejabat Riau. Dari mulai yang disebut wakil rakyat (h. 6), wakil preman (h. 11), demam proyek (h.37), hingga jidat tak mancung, dagu disorong-sorong (h. 137). Kelakar-kelakar ini merupakan kritik penulis terhadap perilaku wakil rakyat mereka yang duduk di gedung dewan. Dalam buku ini, Anda juga akan menemukan sebuah sikap apatis, dilematis, dan sarkastis dari orang Melayu.

Apatis ketika mereka berhadapan dengan pejabat yang seperti tidak tahu malu dan kepala batu. Dilematis ketika mereka akan melawan namun satu sisi mereka harus memilih salah seorang sebagai wakil rakyat, sementara orangnya hanya itu-itu saja.

Mimpi Rakyat Kecil

Mungkin sudah dipahami oleh banyak orang di negeri ini, bahwa mereka salah memilih wakil rakyat. Mereka juga merasa menyesal mencoblos orang yang salah. Foto dan suaranya saat kampanye saja yang kelihatan bagus. Tetapi setelah duduk di atas, mereka tak lebih dari seekor piranha yang tega memakan sesama ikan. Ketika kejenuhan rakyat sudah memuncak karena melihat tingkah laku wakilnya, terkadang mereka bermimpi, bagaimana seandainya mereka yang jadi wakil rakyat.

Mimpi ini tentu saja hanya tinggal mimpi, karena yang memimpikan orang seperti Wak Atan. Orang kampong tidak sekolah dan miskin. Meski dia terkadang memiliki ide yang bagus, namun politik negeri ini tidak memperbolehkan orang miskin ikut politik. Meskipun juga Wak Atan banyak memiliki pengikut setia, tapi itu hanya segelintir. Politik negeri ini membutuhkan setidaknya lima belas ribu pendukung. Mereka tidak setia tidak masalah, yang penting saat hari pencoblosan mereka memilih pemimpinnya. Kesetiaan dapat dibeli dengan uang.

Politik yang seharusnya pesta rakyat berubah menjadi pesta kalangan orang berduit dan berkuasa. Rakyat kecil hanya menjadi penonton dan sewaktu-waktu dapat digiring untuk masuk ke kandang macan tertentu. Ketika mereka sudah masuk kandang, mereka akan dimakan oleh sang penggiring. Masyarakat sadar akan hal ini, akan tetapi mereka tidak dapat mengelak karena pada sisi yang lain mereka miskin atau lebih tepatnya dimiskinkan.

Tokoh Wak Atan dalam tulisan ini seakan merepresentasikan keadaan di atas. Wak Atan adalah orang kampong dan miskin namun terkadang berani dan kritis memprotes pejabat yang berkunjung ke desanya. Namun protes Wak Atan hanya didengarkan oleh pejabat tersebut. Wak Atan pun pasif, diam dan merenungi kebodohannya karena memilih perjabat tersebut. Di negeri ini, hampir mayoritas masyarakat seperti Wak Atan.

Namun apakah kita harus berhenti bermimpi? Wak Atan pun memesan jangan berhenti bermimpi. Suatu ketika pasti ada masanya rakyat yang berhati baik memimpin. Roda akan terus berputar. Kadang di atas kadang juga di bawah. Mimpi itu akan jadi kenyataan jika diimbangi dengan pendidikan rakyatnya. Jika rakyat terdidik, maka mereka tidak akan sembarangan memilih pemimpin. Rakyat juga akan tahu mana pejabat yang hanya omdo (omong doang) dan pejabat yang jujur.

Jika masyarakat sudah berpendidikan, apakah kelakar akan terus berhenti? Tentu saja tidak, bahkan akan muncul kelakar-kelakar yang lebih kreatif. Kelakar justru akan menjadi semakin bermakna, karena rakyat yang sudah cerdas akan mudah mengerti jika dikritik dengan kelakar. Tidak seperti sekarang ini. Sabarlah...”, kata Wak Atan.


Yusuf Efendi (res/50/12-10).

Dibaca : 3.210 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi