Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.364
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



12 januari 2011 07:07

Kambang Barenteng

Kambang Barenteng
Judul Buku
:
Kambang Barenteng
Penulis
:
Harun Al Rasyid dan M. Hasbi Salim
Editor:
Ari Wulandari
Penerbit:Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
September, 2003
Tebal:
vii + 86 halaman
Ukuran:
14, 3 x 20, 1 cm
 

Dalam kondisi yang sulit karena beban hidup, orang kerap mengenangkan kembali tentang cerita masa silam yang diharapkan dapat membangkitkan semangat dan harapan. Dengan belajar dari legenda leluhur, masyarakat mencoba bangkit dari keterpurukan akibat beban hidup yang dirasa semakin berat. Cerita rakyat bisa dijadikan sebagai salah satu pencerahan yang mewujud dalam ruang pelepasan yang akrab dan menjadi motivasi yang menyegarkan, meskipun terkadang isi cerita itu sering luput dari logika karena masih berbau mitos.

Jika dicermati, cerita rakyat sebenarnya dapat menjadi media positif yang mengajarkan kita bagaimana menyikapi hidup. Namun zaman sekarang, banyak cerita rakyat yang sudah mulai hilang karena tergerus oleh gelombang globlalisasi sebagai pendukung utama era modern. Hal ini tentu saja memerlukan sebuah usaha dari para pemerhati budaya rakyat bersama masyarakat tentunya, untuk mengembalikan fungsi cerita rakyat sebagaimana mestinya, yakni bukan hanya sekedar cerita belaka, tapi lebih daripada itu juga menjadi media pembelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Sehubungan dnegan ini, buku berjudul Tambang Barenteng di hadapan Anda ini tampaknya cukup penting untuk diapresisasi.  Duet penulis Harun Al Rasyid dan M. Hasbi Salim mencoba membukukan kembali cerita-cerita rakyat yang pernah ada di sejumlah tempat di Kalimantan Selatan. Penulisan buku ini merupakan upaya nyata untuk melestarikan cerita rakyat agar tidak hilang ditelan zaman.

Melalui buku ini, masyarakat Kalimantan Selatan dan siapapun yang membacanya dapat belajar pada kearifan lokal yang terkandung dalam cerita nenek moyang. Selain itu, penulisan buku ini ditujukan sebagai penambah khazanah wawasan untuk anak-anak dan remaja yang bersumber pada kebudayaan setempat.

Cerita-cerita rakyat dalam buku ini umumnya berkisar tentang asal mula (legenda) tempat atau kampung. Di dalam legenda-legenda itu tersirat beberapa makna, seperti pentingnya pelestarian lingkungan, menghargai alam, menghormati orang tua, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan keadaan alam Kalimantan Selatan yang kaya akan potensi laut, gunung, hutan, sungai, dan kekuatan alam lainnya. Realitas ini berbanding lurus dengan cerita rakyat yang ada. Justru inilah sebenarnya letak logis cerita rakyat, bukan pada alur ceritanya, namun lebih kepada makna dan apa yang harus dilakukan setelah memahami makna cerita tersebut.

Makna Legenda yang Masih Relevan

Mungkin kita akan sepakat bahwa makna yang terkandung dalam cerita-cerita rakyat yang terhimpun dalam buku ini cukup relevan dengan permasalahan yang ada di zaman sekarang, khususnya masalah lingkungan. Misalnya dalam legenda yang bertajuk Liang Kantin Atau Tenripii Lesei. Cerita rakyat dari Desa Muara Uya, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, ini mengisahkan tentang dua orang anak yang ditangkap oleh sesosok hantu karena berburu di hutan terlarang. Sebagai hukuman, kedua anak tersebut kemudian diberi hukuman, yakni diharuskan untuk menjaga sebuah gunung yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Batu Kumpai (hlm. 1).

Dalam konteks kekinian, cerita di atas mengandung pesan moral untuk mencintai binatang. Perburuan yang tidak terkontrol akan mengakibatkan populasi binatang menurun, dan bahkan punah. Hal ini relevan dengan kondisi sekarang, di mana banyak jenis binatang yang mulai terancam habitatnya karena ulah manusia. Dalam sebuah berita disebutkan bahwa harimau Sumatra sekarang ini hanya tinggal 150 ekor. Kasus yang nyaris serupa juga terjadi pada elang Jawa yang mulai sulit ditemukan keberadaannya.

Lain lagi dengan makna yang terkandung dalam cerita Purui atau Putri Bungsu. Cerita ini berkisah tentang seorang putri desa bernama Purui yang diketahui memiliki tanda lahir berupa sisik buaya di perutnya. Tanda lahir itu menurut dukun desa bisa membahayakan nyawa Purui. Ternyata benar, pada suatu hari, jasad Purui ditemukan membusuk di sebuah danau. Masyarakat setempat percaya bahwa danau yang menjadi tempat kejadian perkara itu adalah Danau Sampalang yang berada di Desa Purui, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Danau tersebut dianggap sakral dan siapapun dilarang keras mengotori danau terlarang tersebut (hlm. 21). Cerita ini mengandung makna agar manusia menghargai alam, salah satunya adalah dengan tidak mengotori air danau. Makna ini tentu saja relevan dengan kondisi sekarang, di mana di beberapa daerah negeri ini masih terjadi krisis air.

Selain kedua contoh cerita di atas, masih banyak legenda-legenda lainnya yang dituangkan dalam isi buku Tambang Barenteng. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Adicita Karya Nusa ini mengandung pelajaran mulia yang disampaikan melalui cerita-cerita rakyat dalam konteks kearifan lokal. Dengan membaca buku ini, kita akan memperoleh banyak sekali pesan moral dan nilai-nilai positif yang dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk merefleksikan tindak-tanduk kita selama ini sembari berusaha bangkit dari keterpurukan akibat beban hidup yang semakin menghimpit. Selamat membaca.

Yusuf Efendi (res/52/1-11)

Dibaca : 3.332 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi