24 januari 2011 00:07
Sejarah Kota Tarakan
Judul Buku
| : | Sejarah Kota Tarakan |
Penulis
| : | Juniar Purba |
| Penerbit | : | Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak |
Cetakan
| :
| 2008 |
| Tebal | :
| ix + 50 halaman |
| Ukuran | :
| 14, 5 x 20, 5 cm |
Jika Anda membaca sejarah sebuah kota di negeri ini, mungkin Anda akan menemukan sebuah kenyataan yang membuat sakit hati. Sakit hati karena ternyata kejayaan sejarah masa lalu berbanding terbalik dengan kenyataan masa kini. Misalnya, sebuah kota yang memiliki sumber daya alam melimpah, sumber daya sejarah yang kaya, dan sumber daya budaya yang bermakna, namun, semuanya tidak berarti apa-apa jika melihat kondisi masyarakatnya yang masih hidup dalam kondisi yang serba kekurangan, baik dalam hal ekonomi, pendidikan, dan dan lain sebagainya.
Di buku ini, Anda akan menemukan hal-hal yang telah disebutkan di atas. Ini adalah sebuah buku kecil namun penuh dengan informasi tentang kekayaan Kota Tarakan, Kalimantan Barat. Namun, ketika coba dibandingkan dengan kondisi Kota Tarakan dalam kenyataan yang sesungguhnya, kemirisanlah yang akan dirasakan, karena kekayaan alam yang dimiliki ternyata tidak diikuti dengan kesejahteraan penduduknya.
Buku tentang Tarakan ini adalah hasil riset tim peneliti dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (Jarahnitra), Pontianak. Dalam buku ini dilaporkan bahwa di Tarakan sebenarnya telah ditemukan tambang minyak yang dieskploitasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Raja Kerajaan Tarakan waktu itu, yakni Datoe Adil, berusaha mempertanyakan haknya untuk turut mengelola potensi minyak bumi itu, namun baru pada tahun 1899 hal itu dapat terwujud (h. 30).
Peninggalan-peninggalan zaman Belanda seperti rumah atap lengkung, situs Peningki Lama, dan benteng pertahanan juga menjadi hasil riset yang tertuang buku ini (h.30-33). Oleh karena itu, jika Anda penyuka sejarah, data-data ini cukup penting untuk memahami gurat sejarah Kota Tarakan. Buku ini juga membahas tentang berbagai peninggalan sejarah pada masa Perang Dunia ke-2 yang melibatkan Jepang melawan Sekutu, antara lain bunker, monumen pendaratan tentara Sekutu di Tarakan, dan meriam (h. 33-36).
Tidak hanya bangunan peninggalan sejarah saja yang ada di dalam buku kecil ini. Laporan tentang bangunan berbasis budaya, seperti Gereja Santa Maria Imakulata dan Kelenteng Toa Pekong juga ditampilkan (h. 38-39). Kedua tempat ibadah ini merepresentasikan kehidupan beragama masyarakat Tarakan yang damai dan harmonis sejak dulu. Kenyataan ini juga memberikan informasi bahwa orang Tarakan memiliki kebudayaan Tionghoa yang kental. Hingga kini, banyak etnis keturunan Tionghoa yang hidup di Tarakan, Kalimantan Barat. Buku ini tentunya akan menjadi penunjuk mengenai kehidupan keagamaan dan kebudayaan orang Tarakan.
Kota dalam Pusaran Sejarah Bangsa
Jejak-jejak sejarah yang dihadirkan dalam buku ini memiliki sebuah pesan yang penting untuk melihat posisi kota dalam pusaran sejarah sebuah bangsa. Kota dalam konteks ini tidak hanya diposisikan sebagai sebuah ruang tempat beberapa kelompok orang saling berinteraksi, saling membutuhkan, melengkapi, dan mencipta sebuah peradaban untuk mereka sendiri. Akan tetapi, lebih daripada itu adalah untuk mencipta peradaban sebuah bangsa. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah kota akan membantu memahami peradaban sebuah bangsa, dalam hal ini adalah peradaban Indonesia.
Dalam realitas sejarahnya, Tarakan ternyata memiliki peranan sejarah yang tidak dapat dikesampingkan dalam perjalanan bangsa Indonesia. Belanda dan Jepang ternyata telah lama mengincar kota ini untuk dijadikan benteng pertahanan dan basis ekonomi. Jika Belanda dan Jepang saja melihat kota ini begitu penitng, bagaimana dengan Indonesia sendiri?
Apabila dicermati kondisi ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Barat saat ini, di mana masih banyak kesenjangan, potensi tambang dikuasai pihak asing sementara rakyatnya hanya menjadi buruh, maka ini menunjukkan bahwa peradaban bangsa Indonesia masih lemah. Negara tampaknya melihat jejak-jejak riwayat Tarakan hanya sebatas sejarah. Padahal, semestinya sejarah menjadi sebuah referensi untuk membangun peradaban bangsa agar lebih baik. Dalam konteks pembangunan manusia, seharusnya sejarah dijadikan sebagai kekuatan untuk membangun manusia mandiri dan tidak tunduk pada kekuasaan asing.
Sejarah Kota Tarakan, yang menggambarkan kondisi rakyatnya hidup dalam kekuasaan penjajah, seharusnya dijadikan penguasa untuk tidak mengulangi sejarah kelam tersebut. Penguasa harusnya sadar bahwa hidup di bawah kekuasaan bangsa asing merupakan hal yang tidak enak dan membuat rakyat sengsara. Namun, tampaknya pihak pemerintah abai dengan itu. Buktinya, menurut sejumlah penelusuran media, beberapa lokasi wisata di Kalimantan Barat diserahkan kepada investor asing.
Selain itu, terdapat juga ironi yang justru muncul dari anak negeri sendiri, di mana ternyata hutan-hutan di Borneo banyak yang gundul sehingga terjadi longsor dan banjir di mana-mana. Hal ini disebabkan oleh penebangan dan penjarahan kayu hutan secara liar. Negara, melalui Departemen Kehutanan, memberikan Hak Penguasaan Hutan (HPH) kepada pihak swasta atau perorangan yang ternyata tidak bertanggung jawab. Dalam konteks ini, negara lagi-lagi tidak memahami sejarah, termasuk riwayat kelam yang pernah tergurat di sejarah Kota Tarakan.
Yusuf Efendi (res/54/1-11)
Dibaca : 3.492 kali.