31 januari 2011 07:07
Laut Kidul Misteri dan Kekayaan Alamnya
Judul Buku
| : | Laut Kidul Misteri dan Kekayaan Alamnya |
Penulis
| : | Trijoto |
| Penyunting | :
| Puji Werdianto |
| Penerbit | : | Adicita Karya Nusa, Yogyakarta |
Cetakan
| :
| 1998 |
| Tebal | :
| ix + 142 halaman |
| Ukuran | :
| 14, 3 x 20, 1 cm |
Ketika musim liburan sekolah, tempat-tempat pariwisata disesaki oleh pengunjung dari anak-anak sekolah yang berwisata. Dengan mengusung tema studytour, yaitu menggabungkan antara belajar (study) dan wisata (tour), pihak sekolah mengajak anak-anak didik untuk mengunjungi kota-kota wisata, salah satunya Yogyakarta. Namun, dalam realitasnya, terkadang muatan tour-nya lebih banyak daripada study-nya. Kecenderungan ini tentu saja memprihatinkan dan justru berkebalikan dengan tujuan dari studytour itu sendiri.
Seolah berusaha untuk mengkritisi kecenderungan di atas, buku ini mengetengahkan sebuah pembahasan yang mencerahkan. Meskipun berjudul seakan membahas mitos yang masih dipercaya orang Yogyakarta hingga hari ini, yakni Laut Kidul, yang terkenal dengan mitos Ratu Kidul, namun buku ini justru membahas beragam ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan laut. Laut kidul (laut selatan) hanya dijadikan sebagai ruang cerita untuk memahamkan kepada pembaca akan pentingnya memahami laut daripada mitos tentang laut Selatan itu sendiri.
Penulis, Trijoto, terlihat sangat cerdas mengemas cerita. Tidak heran jika buku ini pernah memenangkan Lomba Penulisan Naskah Buku Bacaan Tingkat Nasional Tahun 1997/1998 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan diikuti oleh para guru dari seluruh Indonesia. Dengan membaca muatan isinya, pembaca akan berubah pola pikirnya tentang Laut Kidul yang dibayangkan seram dan mistis itu.
Buku ini berkisah tentang serombongan anak sekolah yang berwisata ke Laut Kidul yang terletak di selatan Yogyakarta. Rombongan wisata dipandu oleh seorang guru yang pandai dalam ilmu pengetahuan alam, bernama Pak Trisno. Saat berwisata itulah, Pak Trisno menerangkan beragam ilmu yang berhubungan dengan laut, seperti gumuk pasir (h. 15), kenapa air laut asin (h. 55), kehidupan di bawah laut (h. 73), mengapa manusia harus makan ikan (h. 87), hingga apa yang harus dilakukan manusia dengan laut, pemanfaatan dan pembudidayaannya (h. 99). Jika melihat isi pembahasan di atas, para guru sekolah tampaknya wajib membaca buku ini, karena dengan begitu mereka dapat mengerti apa yang seharusnya dilakukan saat melakukan studytour.
Bagi Anda pecinta ilmu pengetahuan alam, penting bagi Anda untuk membaca buku ini, karena Anda akan menemukan sebuah pembahasan ilmu pengetahuan alam yang mudah dipahami. Anda tidak akan menemukan pembahasan Laut Kidul yang seram dan mistis. Anda justru akan terlena dengan penjelasan Pak Trisno, tokoh dalam buku ini, yang begitu memahami betul ilmu tentang kelautan serta apa yang harus dilakukan oleh manusia terhadap laut. Anda juga akan menemukan kritik Pak Trisno akan beragam masalah yang dihadapi para nelayan saat ini.
Pentingnya Memelihara Kehidupan Laut
Sekali lagi, buku ini justru lebih banyak membincangkan tentang ilmu pengetahuan alam tentang laut. Judul dan gambar Ratu Kidul dalam sampul buku ini tampaknya hanya sekadar membuat penasaran dan menarik orang untuk membaca. Penulis tampaknya ingin mendorong pembaca agar memahami laut dan memeliharanya, bukan hanya sekadar dijadikan tempat wisata dan mempercayainya begitu saja cerita atau dongeng mistik yang menyertainya.
Buku ini penuh dengan pengetahuan alam. Ketika membahas tentang gumuk pasir (sand dune) yang ada di Parangtritis misalnya (h. 35), penulis begitu apik menjelaskan asal-usul dan fungsinya. Gumuk pasir adalah hamparan pasir yang tertata rapi dan membentuk sebuah ornamen tertentu. Gumuk pasir dibentuk secara alami, yaitu oleh angin yang bertiup di pantai. Gumuk pasir berasal dari pasir Gunung Merapi yang terbawa melalui aliran sungai Opak dan Progo lalu mengendap hingga tersapu arus ombak yang kuat dan tersebar ke sepanjang pantai. Gumuk pasir ini perlu dilestarikan sebagai ruang konservasi dan laboratorium alam.
Penulis juga lihai dalam menjelaskan kehidupan bawah laut (h. 77). Biota laut terdiri dari tiga kelompok: plankton (binatang kecil yang hanya dapat dilihat lewat mikroskop), nekton (biota laut yang berenang), dan bentos (biota yang hidup di dasar laut). Semua biota laut tersebut penting untuk dipelihara sebagai pembentuk ekosistem laut, salah satunya ekosistem terumbu karang.
Keterangan-keterangan tentang kekayaan laut yang disampaikan penulis dalam kemasan cerita tamasya dalam buku ini sungguh sangat mengagumkan. Setidaknya ada tiga hal yang ingin dibidik melalui buku ini. Pertama, kritik terhadap kecenderungan studytour yang terkesan hanya untuk hura-hura saja. Kedua, mengajarkan kepada para pendidik akan pentingnya belajar sambil santai (tidak harus di ruang kelas). Ketiga, mengajarkan kepada anak-anak sekolah akan pentingnya memelihara dan melestarikan laut.
Yusuf Efendi (res/56/1-11)
Dibaca : 4.423 kali.