Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.455
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



31 januari 2011 00:07

Pengobatan Tradisional Kalimantan Selatan

Pengobatan Tradisional Kalimantan Selatan
Judul Buku
:
Pengobatan Tradisional Kalimantan Selatan 
Penulis
:
Yustan Azidin dan Syarifudin
Penerbit: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogyakarta
Cetakan
:
1990
Tebal:
xii + 153 halaman
Ukuran:
14,5 x 21 cm
 

Di era modern seperti sekarang ini, pengobatan tradisional menjadi persoalan yang dilematis: di satu sisi diharapkan, namun di sisi lain justru dikecam. Sistem pengobatan tradisional selalu diharapkan dapat menyembuhkan penyakit orang modern ketika pengobatan modern dianggap sudah tidak manjur lagi, apalagi ketika harga obat dan pengobatannya mahal.

Sementara itu, sistem pengobatan tradisional terkadang dihujat, khususnya ketika terjadi masalah, misalnya terjadi salah praktek (malpraktek). Dalam kondisi seperti ini, pengobatan tradisional dianggap tidak memenuhi syarat medis karena hanya berdasarkan pengalaman dan ajaran leluhur. Namun, bukankah dalam dunia pengobatan modern juga sering terjadi malpraktek? Ya, tetapi seorang dokter akan mudah berkelit jika salah memberikan obat dibanding seorang dukun. Dokter akan gampang mengalihkan kesalahannya kepada produsen obat, masyarakat yang tidak cerdas memilih pengobatan, atau jika disidangkan dokter akan mudah menyewa pengacara.

Terlepas dari masalah yang ada, pengobatan tradisional sebagai sebuah warisan agung ternyata masih diapresiasi positif oleh banyak orang di zaman sekarang. Beberapa dari mereka bahkan mengemas ramuan tradisional menjadi obat modern yang bersih dan bermanfaat. Hal ini misalnya dilakukan oleh Jaya Suprana, Sari Ayu Marta Tilaar, atau Mooryati Sudibyo dengan ramuan tradisonal warisan Kraton Solo, yang memproduksi obat modern berbasis ramuan tradisional secara massal. Tujuannya agar masyarakat tidak meninggalkan warisan leluhur yang sebenarnya sangat baik untuk mengobati berbagai penyakit, selain juga harganya yang terjangkau.  

Selain itu, saat ini juga sudah banyak penelitian tentang ramuan tradisional yang ada di nusantara. Tidak sedikit penelitian-penelitian ini menghasilkan sebuah buku tentang ramuan obat-obatan tradisional dari seluruh daerah di Indonesia. Buku Pengobatan Tradisional Daerah Kalimantan Selatan di hadapan Anda ini adalah salah satunya. Buku ini membahas banyak hal tentang pengobatan tradisonal ala orang Banua, sebutan untuk orang Kalimantan Selatan.

Dalam buku ini, Anda akan menemukan berbagai macam obat untuk beragam penyakit, dari obat penyakit kulit biasa, seperti obat luka (h. 18), gatal-gatal (h. 28), koreng (h. 35), hingga obat penyakit dalam, seperti ayan atau epilepsi (h. 52), rematik (h. 58), darah tinggi (h. 92) atau lemah sahwat (h. 101). Semua obat tersebut berasal dari ramu-ramuan alam, seperti daun, akar pohon, atau jahe dan lengkuas. Anda akan mudah juga mempraktekkan membuat sendiri karena dalam buku ini juga dicantumkan cara dan bahan yang digunakan untuk membuatnya.

Selain ramuan tradisional, Anda juga akan membaca pembahasan tentang berbagai tradisi orang Banua melakukan pengobatan dengan tindakan, seperti dipijit, dikompres, ditiup, atau disembur (h. 111-116). Cara-cara ini hingga kini masih dipraktekkan oleh orang Banua di perdesaan, adapun di perkotaan hanya pijit yang masih dilakukan. Bahkan, hotel-hotel modern dan salon menjadikan pijit tradisional sebagai lahan bisnis baru.

Tempat-tempat di atas melihat bahwa orang kota saat ini banyak yang menginginkan suasana dan romantisme masa lalu. Maka dari itu, hotel dan salon modern banyak menawarkan membuka spa dan pijit menggunakan ramuan tradisional, lengkap dengan ruang dan suasana yang disulap seperti alam perdesaan. Bahan pijit juga menggunakan minyak dan daun yang digerus halus lalu dilulurkan ke seluruh tubuh. Di Bali bahkan tubuh orang dilumuri lumpur sawah setelah dipijit, yang konon bisa menenangkan syaraf dan memutihkan kulit secara alami.

Buku ini juga menghadirkan pembahasan tentang klasifikasi penyembuh tradisional. Meskipun memiliki profesi yang hampir sama, yaitu sama-sama menyembuhkan, namun orang Banua membedakan antara bidan kampung (membantu orang melahirkan dan menyembuhkan bayi sakit), tukang urut (pemijit untuk sakit fisik), penambaan (menyembuhkan sakit yang disebabkan oleh roh jahat), dan mualim (hampir sama dengan penambaan namun dalam versi agama). Klasifikasi ini mereka butuhkan bukan hanya sekadar agar berbeda, lebih daripada itu adalah untuk memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang berprofesi itu. Seorang penambaan atau mualim misalnya, akan dianggap lebih tinggi ilmunya (kesaktian) daripada yang lain. Meskipun demikian, hampir semua penyembuh tersebut dianggap memiliki kelebihan (kesaktian).   

Bagi Anda yang suka dengan kajian budaya tradisional, buku ini sangat penting untuk dibaca. Banyaknya resep ramuan obat tradisional yang ditulis dalam buku ini menjadikan Anda dapat memahami kesamaan dan perbedaan ramuan tradisional yang ada di nusantara. Menurut hasil penelitian ahli budaya dan sejarah, hampir semua nenek moyang suku bangsa di negeri ini memiliki ramuan tradisional berbahan baku alam. Hal ini dapat dimaklumi karena sebelum munculnya obat-obatan modern, seperti kapsul, suntik, atau pil, orang dulu menggantungkan kesembuhan penyakitnya kepada beragam daun, akar, atau bahan-bahan alami lainnya.

Yusuf Efendi (Res/55/1-11)

Dibaca : 4.279 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi