Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.466
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



31 januari 2011 07:07

Kini Dia sedang Melayang

Kini Dia sedang Melayang
Judul Buku
:
Kini Dia sedang Melayang
Penulis
:
Ari Sunarni
Penyunting:
Syamsu Dradjad
Penerbit:Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
2001
Tebal:
xi + 85 halaman
Ukuran:
14,3 x 20,1 cm
 

Peristiwa Reformasi tahun 1998 untuk menurunkan rezim Orde Baru ternyata menjadi pelecut bagi sebagian orang untuk mengabadikannya dalam berbagai hal. Banyak orang mengabadikan peristiwa tersebut, baik melalui media tulisan juga media seni. Seni menjadi menarik untuk menuangkan apresiasi terhadap perubahan rezim ini, dari melalui lukisan, puisi, film, atau cerpen dan novel. Salah satunya adalah dapat Anda temukan dalam buku ini. Sebuah novel kecil yang sarat inspirasi dan makna.  

Buku kecil di hadapan Anda ini menyajikan naskah cerita yang berkisah tentang kehidupan keluarga yang berjuang keras bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu menjelang Reformasi. Keluarga itu terdiri dari ibu bernama Ponijem dan dua anaknya Ponirah (perempuan) dan Ponijan (laki-laki). Ponijem bekerja sebagai penjual daun pisang dan buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Setiap subuh, Ponijem harus berjalan puluhan kilometer dari rumahnya di daerah Sleman, menyusuri Jalan Mangkubumi dan Malioboro, untuk berjualan.

Oleh Ali Sunarni, sang penulis cerita, aktivitas Ponijem ini dihubungkan dengan suasana krisis moneter yang terjadi pada saat itu dengan apik. Penulis begitu runtut menjelaskan liku-liku kehidupan keluarga ini dengan tujuan agar pembaca terinspirasi untuk selalu bekerja keras dalam kondisi apapun. Selain itu, reformasi merupakan moment penting yang layak untuk didokumentasikan.

Ponirah, anak gadis Ponijem yang masih menempuh pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Yogyakarta, menjajakan pisang goreng di sekolahnya untuk membiayai sekolahnya. Ponirah menitipkan pisang goreng buatan ibunya di kantin sekolah. Hebatnya, hasil penjualan pisang goreng itu berhasil mengantarkan Ponirah lulus sekolah dan bahkan menjadi salah satu juara kelas (hlm. 15).

Sementara itu, Ponijan, kakak lelaki Ponirah yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, digambarkan sebagai sosok yang gigih. Setiap pagi, Ponijan sudah bangun untuk mengurusi ternak kambingnya. Setelah itu, Ponijan baru bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Selepas sekolah, Ponijan harus mencari rumput untuk makan kambing-kambingnya. Di kampungnya, Ponijan juga dikenal sebagai orang yang senang bergaul. Banyak aktivitas sosial dan olah raga yang diikutinya, salah satunya adalah beladiri. Suatu malam, ketika Ponijan mendapat giliran siskamling, ia berhasil menangkap maling berkat keahlian beladirinya. Alhasil, Ponijan pun semakin disenangi masyarakat (h. 45).

Novel mungil ini cukup penting dan menarik untuk dibaca. Selain isinya yang mengingatkan kita pada peristiwa Reformasi 1998 yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanan bangsa, buku ini juga cukup istimewa karena pernah memenangkan lomba penulisan naskah buku bacaan tingkat nasional tahun 1998/1999 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lomba ini cukup prestisius, karena diikuti oleh para guru dari seluruh Indonesia.

Buku ini juga dapat dijadikan sebagai bahan ajar atau media cerita bagi anak, agar mereka mengerti dan memahami sejarah. Selain itu, Anda dapat mengajarkan budi pekerti tentang bagaimana hidup dengan optimisme yang tinggi meski ekonomi menjadi penghambat, seperti yang dicontohkan oleh keluarga Ponijem dalam cerita ini. Saya melihat, penulis sepertinya terinspirasi ceritanya berdasarkan kisah nyata, karena penulis sendiri adalah orang Yogyakarta yang saat itu juga menjadi saksi sejarah reformasi.  

Sebagai sebuah cerita pendidikan sekaligus sejarah, buku ini memberikan nuansa yang kuat agar pembaca ikut mengenangkan kembali tentang Yogyakarta. Pada masa Reformasi, Yogyakarta menjadi salah satu provinsi yang ikut bergejolak menuntut penguasa Orde Baru, Soeharto, turun dari kursi kepresidenan. Saat itu, mahasiswa dan masyarakat Yogyakarta berhimpun di Alun-alun Utara untuk menyampaikan aspirasinya kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan wakilnya Sri Paku Alam IX.

Ari Sunarni tampaknya sengaja menjadikan peristiwa reformasi sebagai latar belakang dari naskah ceritanya ini agar pembaca ikut menjadi saksi akan dua hal. Pertama, bagaimana menderitanya rakyat pada masa Orde Baru. Kedua, bagaimana rakyat menginginkan agar rezim Orde Baru diganti.

Potret penderitaan rakyat dalam cerita ini diwakili oleh keluarga Ponijem yang harus mengasuh dan mencari nafkah untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Dalam konteks ini, sepertinya penulis ingin memprotes kepada penguasa Orde Baru, di mana rakyat disuruh bekerja dan berpendidikan, namun di sisi lain pemerintah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat karena pendidikan yang mahal dan ekonomi yang kian sulit.

Tema tentang reformasi pada masa itu dianggap sangat penting, karena itu wajar jika naskah ini memenangkan perlombaan. Namun demikian, sebenarnya tema reformasi juga masih sangat penting untuk dikisahkan pada masa sekarang, karena ternyata reformasi belum terjadi di segala bidang. Oleh karena itu, buku ini masih cukup penting untuk dibaca sebagai media perenungan demi perbaikan bangsa ini.

Yusuf Efendi (res/53/1-11)

Dibaca : 3.480 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi