Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.363
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



31 januari 2011 07:07

Jingah

Jingah
Judul Buku
:
Jingah
Penulis
:
Iwan Yusi
Penyunting:
Syamsu Dradjad
Penerbit:Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
2000
Tebal:
ix + 101 halaman
Ukuran:
14, 3 x 20, 1 cm
 

Ketika saat ini banyak orangtua yang mengeluh akibat banyaknya tawuran antarpelajar dan antarkampung, muncul sebuah kerinduan pada mereka akan suasana alam desa dan keriangan anak-anak yang bermain di tengah sawah atau kebun desa. Suasana saat itu dibayangkan sebagai iklim yang tepat untuk mendidik dan mengembangkan jiwa anak-anak secara mandiri, karena mereka dapat bermain dengan tenang, damai, dan belajar budi pekerti.

Desa sebagai sebuah ruang hidup, dahulu menjadi ruang yang sarat akan kedamaian dan kesejukan. Para orangtua dan anak-anak mereka biasa terlihat berkumpul di beranda rumah. Si orangtua biasanya bercerita akan kisah yang mengandung pelajaran budi pekerti. Anak-anak ada yang mandi di kali dengan gembira atau beberapa dari mereka ada yang beriringan ke sawah untuk mencari belut.

Kondisi seperti itu sudah sulit dijumpai di zaman sekarang. Desa sudah berubah. Anak-anak desa atau kampung sekarang lebih senang menonton film atau sinetron. Sementara itu, para orangtua sudah enggan bercerita tentang kisah-kisah kepahlawanan atau legenda. Salah satu alasannya adalah sulitnya mencari buku cerita anak.

Pemikiran seperti inilah yang dirasakan oleh penulis buku cerita fiksi ini, Iwan Yusi. Kegalauan itu akhirnya membuat penulis membuat buku ini. Buku yang berisi tentang kisah-kisah fiksi kehidupan sebuah perdesaan yang sarat akan kebersamaan, gotong royong, “kenakalan” anak-anak, keriangan mereka, dan kisah para orangtua mereka. Buku ini sangat penting untuk dibaca, khususnya bagi orangtua karena Anda dapat mentransformasi cerita dalam buku ini untuk diajarkan kepada anak-anak Anda.

Buku ini juga sangat tepat dibaca oleh Anda para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia, karena Anda dapat menjadikan buku ini sebagai bahan ajar dalam pelajaran sastra dan menulis. Anda juga dapat meminta murid-murid Anda untuk menceritakan kembali di depan kelas, sebagai upaya untuk mengajarkan cara bercerita kepada murid-murid Anda.       

Buku ini tergolong istimewa karena pernah memenangkan Lomba Penulisan Naskah Buku Bacaan Tingkat Nasional Tahun 1999/2000 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan diikuti oleh para guru dari seluruh Indonesia. Dengan demikian, buku ini cukup teruji kualitasnya. 

Pentingnya Budi Pekerti

Kisah-kisah dalam buku ini berisi tentang ajaran budi pekerti kepada anak yang umumnya seputar masalah bagaimana mengajarkan anak-anak agar tidak sombong (seperti pada halaman 23), welas asih dan saling tolong menolong (h.1), tidak bersikap mau menang sendiri dan saling menghargai sesama manusia dan makhluk hidup (h.53), semangat bekerja keras (h. 43), serta mencintai lingkungan dan tumbuhan (h. 87).

Dalam kisah tentang Roly misalnya, yang menceritakan tentang seorang anak kota yang datang ke desa bernama Roly. Roly digambarkan sebagai anak kota yang sombong dan menganggap remeh anak-anak desa. Oleh Roly, anak-anak desa itu diberi panggilan yang jelek-jelek, seperti kuda nil. Mendapat panggilan ini tentu saja anak-anak desa itu marah. Lalu mereka merencanakan untuk memukuli Roly, namun ternyata Roly pandai berkelahi dan anak-anak desa itu kalah. Akhirnya, salah seorang anak desa bernama Basri yang memiliki seekor monyet mengajak Roly untuk hadir di acara ulang tahun salah seorang temannya. Ketika itu, monyet Basri naik ke atas pohon, dan saat Basri meminta monyet itu turun, Roly marah karena mengira dirinya disamakan dengan monyet. Namun, peristiwa itu ternyata menyadarkan Roly atas kelakuannya yang tidak patut (h. 23)

Lain halnya dengan kisah Cincin Yakut yang mengandung ajaran budi pekerti agar manusia hidup sabar dan sederhana. Diceritakan, Dulah si anak nelayan sedang ikut ayahnya mencari ikan. Namun, dari pagi hingga matahari hampir tenggelam, belum satu ikan pun yang didapat. Namun, kesabaran mereka akhirnya membuahkan hasil. Ketika jaring ayahnya diangkat, ternyata terdapat benda yang berkilau. Keduanya menyangka itu sisik ikan, namun setelah diangkat ternyata sebuah cincin emas (h. 33).

Meskipun hanya sebuah cerita fiksi, namun kisah-kisah dalam buku ini sangat bermakna. Cerita dengan muatan budi pekerti seperti ini harus diceritakan dengan bimbingan orangtua dan guru, karena kalau tidak, anak-anak hanya akan membaca ceritanya saja tanpa mengetahui maksud kandungannya. Oleh karena itu, para orangtua dan guru harus jeli dan pandai menjelaskan kepada anak-anak. Membaca cerita itu mudah, namun bercerita agar si anak dapat mengambil makna dalam isi cerita membutuhkan sebuah keterampilan tersendiri.

Di saat televisi begitu gencar menayangkan program-program yang memudahkan anak-anak mengakses namun belum tentu berdampak positif terhadap perkembangan mereka, peran orangtua sangat diperlukan, salah satunya melalui buku ini karena dapat menjadi alternatif pendidikan untuk anak.

Yusuf Efendi (res/55/1-11)

Dibaca : 3.734 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi