Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.448
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



17 februari 2011 07:07

Membumikan Pelajaran Agama Islam

Membumikan Pelajaran Agama Islam
Judul Buku
:
Membumikan Pelajaran Agama Islam
Penulis
:
Nursisto
Penyunting:
Yulia. S Setiawati
Penerbit:Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
April, 2008
Tebal:
ix + 169 halaman
Ukuran:
14 x 20 cm
  

Pelajaran agama di sekolah sering berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi diperlukan, namun di sisi lain pengajar dan pihak sekolah dianggap tidak dapat mengerti kondisi kejiwaan peserta didik. Di mana mereka hanya menuntut pelajaran agama hanya untuk ditaati, sementara para siswa tidak diberikan ruang untuk menyangkal. Dalam kondisi seperti ini, pelajaran agama tidak lebih dari sekadar penghukum siswa, bukan sebagai media belajar.

Pengajar agama sering disalahkan karena dianggap hanya mengajarkan agama secara dogmatis: menyangkut benar dan salah. Pihak sekolah juga disalahkan karena tidak pandai dalam menyeleksi guru yang hanya mengajarkan agama secara tekstual belaka. Kondisi ini menjadikan pelajaran agama kurang diminati, bahkan terkesan diabaikan oleh para murid.  

Kegelisahan seperti inilah yang akan Anda temukan dalam buku ini. Sang penulis, Nursisto, sebagai guru merasakan dan melihat betul bagaimana banyak murid-muridnya mengeluhkan perihal guru agama yang tidak kreatif (h. 20). Agama, menurut para murid, hanya diajarkan dalam kerangka hitam dan putih.

Pelajaran agama di sekolah cenderung diajarkan secara eksklusif (h. 37). Petuah dan aturan dalam agama seakan hanya dapat dipraktikkan oleh mereka yang hatinya bersih, selalu menjalankan ibadah, atau taat kepada orangtua. Meskipun hal tersebut benar, namun kondisi psikologis masa perkembangan seorang siswa belum mencapai pemahaman ini. Dalam kondisi ini, para siswa hanya akan takut pada aturan agama, bukan menyadari sendiri untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan.

Membumikan Pembelajaran Agama Islam

Dalam buku ini, Nursisto mengemukakan pentingnya membumikan pembelajaran agama Islam (h. 93). Agama, menurut Nursisto, harus diajarkan dengan mempertimbangkan kondisi kejiwaan siswa sehingga bahasa yang digunakan pun harus sesuai. Agama juga harus diajarkan oleh guru yang dapat dijadikan teladan dalam perilakunya. Selain itu, agama sebaiknya diajarkan tidak hanya dalam hubungannya dengan iman semata, tetapi juga harus dikembangkan pada perilaku-perilaku kemanusiaan.

Bagi Nursisto, pelajaran agama Islam di sekolah hanya menitikberatkan pada hubungan manusia dengan Tuhan (hablu minnallah). Padahal, agama juga mengajarkan agar manusia juga menata hubungan dengan sesama (hablu minannas). Pemahaman yang tidak seimbang ini mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok garis keras yang mengatasnamakan agama lalu memaksa orang lain untuk mengikuti aturan agama, bahkan terkadang dengan menggunakan kekerasan (h. 65-79).

Agar agama dapat diterima dengan senang hati oleh peserta didik, diperlukan perpaduan antara iman dan etika. Seorang pengajar yang memiliki iman yang baik pasti memiliki etika yang baik pula. Oleh karena itu, guru akan dijadikan teladan oleh murid-muridnya. Perilaku guru yang baik adalah pelajaran agama itu sendiri. Hal ini sering dilupakan karena kecenderungan orang yang mengganggap agama hanya berurusan dengan iman.    

Selain itu, pandangan pihak sekolah yang menganggap pelajaran agama Islam sebagai sesuatu yang mutlak, di mana siswa dituntut untuk menjauhi larangan dan menjalankan perintah Tuhan, menjadikan wajah agama tampak menakutkan. Meskipun hal tersebut benar adanya, namun metode pengajaran agama penting untuk disesuaikan dengan pola pikir siswa.

Membumikan pembelajaran agama Islam juga harus menitikberatkan pada ketaatan kepada Tuhan dan keramahan kepada sesama manusia. Tuhan dan manusia adalah dua unsur yang harus disasar oleh guru untuk ditransformasikan kepada siswa agar mereka memahami agama dengan damai. Tugas guru agama adalah bagaimana menjadikan agama sebagai ruang bernaung bagi siswa.

Jika sedari mula siswa sudah memahami agama secara damai dan sadar, hal ini nantinya akan bermanfaat terhadap perilaku siswa di masyarakat. Kerukunan antarumat beragama akan menjadi sesuatu yang mudah apabila siswa diajarkan bahwa setiap agama memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga yang diperlukan adalah saling memahami perbedaan, bukan justru mempersoalkannya.

Satu hal yang penting untuk membumikan pembelajaran agama Islam adalah memperbanyak nilai-nilai keislaman di sekolah, bukan hanya ajaran agama Islam saja. Nilai-nilai keislaman tidak hanya ada dalam ajaran Islam tetapi di mana saja karena fokusnya adalah nilai-nilai kebaikan. Berbuat baik, saling memaafkan, merawat alam dan lingkungan, berpakaian rapi, hormat kepada guru, menyayangi teman, dan hal-hal baik dalam keseharian lainnya merupakan nilai-nilai keislaman karena itu semua diajarkan dalam Islam. Dengan demikian, mencermati tema-tema yang dibahas dengan semangat keterbukaan dan pluralisme dalam buku ini menjadi cukup penting bagi pendidik atau calon pendidik.

(Yusuf Efendi/Res/58/1-11)

Dibaca : 3.606 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi