17 februari 2011 00:07
Metode dan Teknik dalam Praktek Pekerjaan Sosial
Judul Buku
| : | Metode dan Teknik dalam Praktek Pekerjaan Sosial |
Penulis
| : | Istiana Hermawati |
| Penyunting | :
| Syamsu Dradjad dan YB. Suparlan |
| Penerbit | : | Adicita Karya Nusa, Yogyakarta |
Cetakan
| :
| 2001 |
| Tebal | :
| vii + 99 halaman |
| Ukuran | :
| 14,3 x 20,1 cm |
Melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang bukanlah hal yang mudah. Masalah yang muncul akibat interaksi antarindividu kelompok sosial masyarakat memerlukan beragam cara dan teknik untuk menyiasatinya. Jika seorang pemimpin tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan keinginan banyak orang, maka masalah akan semakin rumit dan sulit untuk diselesaikan.
Dalam konteks di atas, seseorang yang ingin terjun dalam kepemimpinan sosial harus memahami metode dan teknik dalam praktek pekerjaan sosial. Buku sederhana ini penting untuk dibaca bagi Anda para pekerja sosial. Buku ini banyak membahas tentang beragam metode dan teknik pekerjaan sosial, seperti keterampilan memberikan pertolongan dasar (h.22), keterampilan melakukan komunikasi (h. 23), metode bimbingan sosial perorangan (h. 33), atau teknik bimbingan sosial kelompok (h. 56).
Selain itu, Anda juga dapat mengetahui bagaimana teknik pekerjaan sosial seperti pembicaraan kecil (h. 83), dukungan (h. 84), konflik (87), hadiah dan hukuman (h. 92), atau penumbuhan kesadaran (h. 95). Teknik-teknik ini tentu saja sangat penting untuk dipahami dan dipraktikkan bagi para pekerja sosial, seperti mereka yang aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pendidik, Dinas Sosial, atau mereka yang memberdayakan kaum miskin, anak-anak jalanan, dan sebagainya.
Buku ini juga penting untuk dibaca para pemimpin, dari mulai tingkat RT sampai negara. Pemimpin penting memiliki segala keterampilan dalam berhubungan dengan masyarakat, seperti keterampilan melakukan perjanjian, melakukan observasi, komunikasi, dan berempati. Khusus untuk yang terakhir ini, pemimpin di negeri ini sangat kurang. Jika musim pemilihan kepala daerah, pemimpin pandai melakukan observasi dan komunikasi kepada masyarakat melalui kampanye yang penuh rayuan. Akan tetapi, jika sudah terpilih, empati menjadi barang mahal. Seakan berteriak di padang pasir, masyarakat hampir putus urat lehernya meminta pemimpin berempati kepada kemiskinan, korupsi, atau pengangguran yang diderita rakyat.
Buku ini cukup berkualitas karena ditulis oleh seorang praktisi sosial yang kaya akan pengalaman dalam mendampingi masyarakat dan pekerjaan sosial. Istiana Hermawati, penulis buku ini, adalah lulusan dari Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Yogyakarta dan kini bekerja di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS). Tugas sebagai pekerja sosial menjadikan dirinya bersentuhan dengan banyak orang. Dari situ penulis sepertinya menemukan beragam metode dan teknik baru yang dituangkannya dalam buku ini.
Buku ini cukup lengkap membahas berbagai hal yang berhubungan dengan pekerjaan sosial. Namun demikian, taburan kata-kata ilmiah dalam buku ini menandakan buku ini ditujukan untuk para pekerja sosial yang berpendidikan. Meskipun demikian, buku ini juga menawarkan ruang berdiskusi yang seimbang karena penulis juga menyinggung berbagai teori-teori sosial ala Barat yang pastinya tidak semuanya cocok dipraktekkan di Indonesia.
Pentingnya Memahami Karakter Masyarakat
Satu hal di balik pentingnya membaca dan memahami buku ini sehubungan dengan pekerjaan sosial adalah memahami karakter masyarakat. Tiap-tiap masyarakat memiliki karakter yang berbeda-beda dan oleh karena itu harus dihadapi dengan cara yang sesuai dengan karakter mereka masing-masing.
Dalam buku ini, penulis membahas tentang beragam keterampilan (skill) yang harus dimiliki pekerja sosial sebelum terjun ke masyarakat. Misalnya, seorang pekerja sosial harus memiliki keterampilan melakukan observasi (h. 23). Keterampilan ini penting sebagai usaha untuk memahami karakter masyarakat. Melalui pengamatan yang hati-hati, seorang pekerja sosial dapat melebur dan mengikuti pola perilaku keseharian masyarakat. Dengan begitu, pekerja sosial akan mengetahui kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Pekerja social juga dapat menyerap aspirasi rakyat secara langsung.
Selain itu, agar observasi dapat dilakukan dengan baik, seorang pekerja sosial harus juga dapat berkomunikasi dengan baik (h. 23). Komunikasi yang buruk akan mengakibatkan pekerja sosial mendapat persepsi salah dari masyarakat. Sudah banyak berita yang menyebutkan seorang anggota LSM justru diusir oleh masyarakat karena justru dianggap provokator atau penghambat aspirasi rakyat. Anggota LSM ini justru dianggap sebagai pembela pemerintah yang berkuasa.
Selain observasi dan komunikasi, satu lagi yang paling penting adalah pekerja sosial harus memiliki keterampilan berempati (h. 24). Observasi dan komunikasi tanpa empati akan menyebabkan hubungan dengan masyarakat hambar. Rasa dan hati masyarakat tidak akan tersentuh oleh pekerja sosial yang mementingkan diri sendiri atau bertingkah-laku semaunya. Empati akan melahirkan kedekatan dan kepercayaan antara sesama manusia. Jika masyarakat sudah percaya, mereka akan mudah untuk diajak bekerjasama.
(Yusuf Efendi/Res/57/1-11)
Dibaca : 7.227 kali.