Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.513
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



24 februari 2011 00:07

Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat

Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat
Judul Buku
:
Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat
Penulis
:
Jilis A.J Verheijen
Penyunting:
Roger Tol
Penerbit:Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Cetakan
:
November, 1997
Tebal:
xvi + 369 halaman
Ukuran:
14 x 21,5 cm
   

Orang Rembong adalah nama salah satu suku di Flores, Nusa tenggara Timur. Suku yang memiliki beragam adat-istiadat unik dan sakral ini sepertinya penting untuk Anda kenali melalui buku ini. Selain untuk memperkaya pengetahuan Anda, buku ini akan menyadarkan Anda bahwa bangsa ini memang sangat majemuk dan kaya. Hal ini penting untuk dipahami ketika negeri ini masih sering dilanda konflik SARA (suku, agama, dan ras).

Adat-istiadat orang Rembong dapat Anda ketahui dari banyak literatur, salah satunya pada buku yang ditulis oleh seorang pastor Belanda bernama Jilis A.J. Verheijen ini. Buku ini dapat dikatakan lengkap, karena tema-tema yang ditulis betul-betul membincangkan keseharian orang Rembong, seperti kebiasaan membakar padang untuk berburu (h. 54), musim menanam jagung (h. 83), pesta pemberian nama bayi (h. 180), jenis-jenis penyakit (h. 197), dan masih banyak lagi. 

Buku ini juga istimewa karena ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa asli orang Rembong. Penerjemahan dari bahasa asli Rembong ke bahasa Indonesia dilakukan oleh orang Rembong asli bernama Ignatius Egi Dadu. Penerjemahan dilakukan dengan cara mendengarkan tape recorder milik Verheijen yang berisi cerita-cerita orang Rembong tentang adat istiadat mereka. Dalam konsep penelitian budaya, tape recorder merupakan salah satu media untuk mencari data yang banyak dipakai oleh Antropolog.

Bagi Anda yang menyukai kajian bahasa (filologi), khususnya bahasa-bahasa lokal, Anda dapat membandingkan dan melihat transformasi dari bahasa asli ke bahasa Indonesia. Penulisan buku dalam dua bahasa ini cuku dapat dimaklumi, karena Verheijen sedari mula ingin meneliti bahasa orang Rembong di sela-sela aktivotas dia sebagai pastor.

Selama bertugas pada kurun tahun 1936-1994 di Flores, khususnya di daerah Manggarai dan Riung, Verheijen meneliti berbagai dialek bahasa masyarakat Flores. Verheijen juga menelaah berbagai cerita rakyat yang ada di sana. Penelitian model Verheijen ini dalam kajian Antropologi disebut dengan metode partisipasi observasi, yakni peneliti mengamati sekaligus ikut terlibat dalam kehidupan masyarakat yang diteliti. Sayang sekali Verheijen tidak dapat menyaksikan penerbitan bukunya ini karena ia meninggal sebelumnya pada usia 86 tahun.   

Adat istiadat orang Rembong memang terlihat unik dan sakral, misalnya upacara adat pemberian nama bayi (h. 180). Unik karena ritual tersebut diadakan dengan upacara yang melibatkan banyak pihak dan menggunakan sesaji, serta sakral karena sepanjang ritual dipenuhi oleh mantra yang dibacakan oleh ketua adat. Menurut cerita masyarakat Rembong, adat ini merupakan ajaran leluhur sejak dulu dan mereka berusaha terus memeliharanya hingga sekarang.  

Dalam keyakinan orang Rembong, perempuan yang sedang hamil harus dilindungi dari gangguan, termasuk dari roh jahat. Perlindungan lebih penting juga harus diberikan kepada janin yang dikandung oleh sang calon ibu. Roh jahat dipercaya dapat masuk ke dalam kandungan dan menyebabkan anak lahir dalam kondisi yang tidak baik. Oleh karena itu, untuk menangkis gangguan tersebut, selama proses kehamilan hingga detik-detik menjelang kelahiran, harus digelar ritual adat.

Kekuatan Cerita Rakyat

Satu hal penting yang menjadi hikmah dari keberadaan buku ini adalah bagaimana besarnya fungsi cerita rakyat. Hal ini terlihat dari berbagai adat-istiadat orang Rembong yang ditulis dalam buku ini, di mana semuanya berasal dari cerita rakyat. Di saat orang Rembong belum mengenal media tulis, mereka memelihara adat-istiadat dalam memori. Selanjutnya memori tersebut ditransformasikan melalui cerita. Cerita itu secara turun temurun mereka mentransformasikan kepada anak cucunya hingga sekarang. Dari sini tampak sekali cerita rakyat memiliki kekuatan tersendiri untuk memelihara kebudayaan.

Cerita rakyat dalam kajian kebudayaan memiliki banyak ragamnya, bisa berupa mitos, legenda, dongeng, atau hikayat. Semua bentuk cerita rakyat tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam kebudayaan sebuah masyarakat. Dalam masyarakat tradisional, cerita rakyat justru lebih dipercaya daripada buku. Hal ini dikarenakan cerita lebih mudah dicerna dan diingat, apalagi jika diceritakan secara berulang-ulang.

Cerita rakyat akan semakin menguatkan kebudayaan tradisional jika ditunjang dengan bukti nyata dari apa yang diceritakan, misalnya dengan adanya bukti sejarah atau prasasti. Perpaduan antara cerita dengan bukti niscaya semakin membuat masyarakat percaya akan kebenaran cerita tersebut, terlepas apakah cerita itu sebenarnya hanya fiksi belaka.

Cerita rakyat tentang adat-istiadat orang Rembong dalam buku ini menjadi bukti bahwa memori kolektif mampu menjadikan kebudayaan mereka bertahan. Langkah selanjutnya sekarang adalah tugas para pemerhati budaya dan pemerintah daerah Flores untuk menjadikan kebudayaan asli NTT ini terus ada, salah satunya adalah dengan cara mengadakan penelitian-penelitian terbaru yang kemudian didokumentasikan. Dengan begitu, naskah tentang kebudayaan NTT akan bisa dipelajari oleh generasi yang selanjutnya.

(Yusuf Efendi Res/59/02-11)

Dibaca : 3.912 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi