Jumat, 29 Agustus 2014   |   Sabtu, 3 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 633
Hari ini : 7.672
Kemarin : 20.124
Minggu kemarin : 150.178
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.067.231
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



28 februari 2011 00:07

Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu

Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu
Judul Buku
:
Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu
Penulis
:
Alm. Guru Sauti
Editor:
Tengku Mira R. Sinar
Penerbit:Yayasan Kesultanan Serdang
Cetakan
:
Pertama, 2009
Tebal:
iii + 61 halaman
Ukuran:
14 x 21,5 cm
    

Selain melalui karya sastra, seperti pantun dan pepatah, kebudayaan Melayu juga terkenal dengan kesenian tarinya. Tersebutlah macam-macam tari Melayu seperti tari lenggang patah sembilan, lenggok mak inang, serampang dua belas, atau mak inang melenggok. Jenis-jenis tari ini hingga sekarang masih sering dipentaskan dan itu menjadi bukti bahwa hasrat kesenian orang Melayu begitu tinggi. Bahkan, tari menjadi salah satu identitas orang Melayu.

Tarian Melayu adalah keunikan kekayaan budaya yang terpendam. Keberadaan tari-tari ini hingga sekarang masih dicoba untuk dilestarikan. Misalnya, beberapa sanggar seni tari telah didirikan oleh para seniman Melayu agar generasi muda peduli dan mau menjaga kesenian tradisional. Hasilnya, sudah banyak seniman-seniman muda yang lahir. Generasi baru ini juga mulai banyak menarik temannya untuk belajar tari.

Buku berjudul Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu ini adalah upaya seniman muda tari Kerajaan Serdang, Tengku Mira R. Sinar, untuk mendokumentasikan kembali karya seniman tari Alm. Guru Sauti. Beliau adalah seniman tari terkenal di Serdang yang dengan kegigihannya dan kecerdasannya menciptakan gerak seni tari Melayu yang indah.

Dalam buku sederhana ini, Anda akan menjumpai pemaparan gerakan teknis beberapa tari Melayu, seperti tari lenggang patah sembilan (h. 1), tari tanjung katung (h. 16), tari melenggok (h.29), tari pelipur lara (h. 37), atau tari serampang dua belas (h. 48). Seluruh tari ini merupakan kesenian khas Serdang yang hingga kini masih sering dipentaskan, baik dalam acara kerajaan maupun acara-acara seremonial lainnya.

Bagi Anda pelaku seni tari, penting kiranya membaca buku ini karena Anda tidak hanya akan menemukan pembahasan tentang tarinya saja, tetapi juga Anda dapat langsung praktik menarikannya, karena buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar teknik gerak tari. Namun, bagi Anda yang tidak memahami simbol-simbol teknik tari, tentunya akan kesulitan memahami. Untuk itu, Anda perlu menanyakan kepada pendidik atau sarjana seni tari.

Bagi Anda seorang sarjana seni tari yang berprofesi sebagai pendidik (guru atau dosen), khususnya yang menggeluti tari Melayu, Anda juga perlu membaca buku ini. Anda akan menemukan pembahasan tari Melayu dari penari Melayu sendiri. Dengan begitu, Anda dapat menemukan pandangan tentang tari Melayu dari pelaku dan orang Melayu asli. Tentu saja hal ini akan terasa berbeda jika Anda membacanya dari buku bukan tulisan orang Melayu.

Ikon Tari Melayu

Satu hal yang penting dicatat dari keberadaan buku ini adalah, kita dapat mengenal ikon tari Melayu, yaitu tari serampang dua belas (hal. 48). Tari ini sebenarnya pada mulanya adalah sebuah lagu yang berjudul tanjung pulau sari yang memiliki tempo yang agak lambat. Lagu-lagu yang bertempo cepat dalam khazanah Melayu disebut serampang, sedangkan yang bertempo lambat diawali dengan nama pulau. 

Dalam perkembangannya lagu pulau sari diperbaharui dengan tempo menjadi lebih cepat dan dimasukkan gerakan-gerakan tari tertentu. Akhirnya lagu ini disebut dengan serampang dua belas. Kata “dua belas” didasarkan pada posisi lagu ini yang dianggap sebagai yang tercepat di antara lagu lainnya yang berawalan serampang, salah satunya serampang laut.

Tari serampang dua belas merupakan tarian yang terdiri dari dua belas ragam gerak. Tari ini mengisahkan tentang “cinta suci” yang bermula sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan akad nikah dan pernikahan oleh dua muda-mudi yang saling jatuh cinta. Kisah cinta keduanya dianggap sebagai cinta yang sempurna karena disetujui oleh kedua orangtua mereka.  

Menurut sejarahnya, tari serampang dua belas dipercaya sebagai peninggalan bangsa Portugis atau Spanyol. Tari ini selanjutnya disesuaikan dengan adat istiadat daerah pesisir Sumatera Timur. Hingga akhirnya tari ini menjadi ikon Melayu yang dibanggakan. Perempuan Melayu akan terlihat cantik jika dapat menarikan tari ini dengan gerakan yang gemulai.  

Jika Anda membaca penjelasan ragam dan gerak tari dalam buku ini, tampaknya tari Melayu seperti serampang dua belas mudah untuk ditarikan. Akan tetapi, ternyata menurut beberapa seniman tari, meskipun serampang dua belas sangat indah dilihat, namun sulit untuk ditarikan.

Menurut mereka, untuk dapat menarikan serampang dua belas dengan bagus, dibutuhkan kelenturan dan gemulai tubuh penarinya. Selain itu, juga penghayatannya terhadap tari tersebut. Kendati susah, Tengku Mira Sinar sebagai editor tampaknya sudah berusaha membuat keterangan dalam buku ini agar mudah untuk dipahami sehingga pembaca dapat belajar secara otodidak. Namun demikian, tetap saja untuk menjadi penari Melayu yang mahir, diperlukan belajar yang serius dan sabar.

(Yusuf Efendi/Res/61/02-11)

Dibaca : 4.837 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat