26 maret 2011 00:07
Tadarus Antologi Puisi
Judul Buku
| : | Tadarus Antologi Puisi |
Penulis
| : | A. Mustofa Bisri |
| Penyelaras | : | Tim Penerbit |
| Penerbit | :
| Adicita Karya Nusa, Yogyakarta |
Cetakan
| :
| 2003 |
| Tebal | :
| xv + 112 halaman |
| Ukuran | : | 12,7 x 18, 8 cm |
A. Mustofa Bisri alias Gus Mus adalah nama yang tidak asing lagi bagi kita, khususnya bagi kaum penyair di negeri ini. Berlatar belakang pendidikan pesantren, Gus Mus adalah penyair istimewa. Satu era dengan Gus Mus, sebenarnya banyak penyair yang juga datang dari pesantren. Sebutlah Zawawi Imran, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Acep Zamzam Noer, atau Jamal D. Rahman. Gus Mus juga dikenal memiliki kemampuan dalam menganalisis politik, sosial, dan agama. Gus Mus pun dikenal sebagai pelukis. Lukisannya yang berjudul Alif pernah dipamerkan dan dibeli oleh pengusaha Tanri Abeng.
Puisi-puisi Gus Mus banyak bertemakan renungan sosial dan spiritual, salah satunya adalah buku berjudul Tadarus Antologi Puisi. Membaca puisi-puisi Gus Mus, kita seakan berenang di dalam samudra ilmu. Puisi Gus Mus merentang dari mulai masalah sederhana seperti lalat sampai masalah spiritual yang dalam seperti doa.
Buku ini terbagai menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi tentang puisi-puisi Gus Mus seperti puisi berjudul Lalat (h. 3), Negeri Ya (h. 10), Mantan Rakyat (h.19), atau Puisi Islam (h. 29). Puisi-puisi di bagian ini terlihat mencerminkan renungan sekaligus gugatan Gus Mus terhadap kehidupan sosial dan beragama masyarakat.
Bagian kedua berisi tentang puisi-puisi Gus Mus yang bernuansa romantis, keagungan ciptaan Tuhan, dan alam. Sebutlah puisi berjudul Titik-titik Hujan (h. 33), Wanita Cantik Sekali di Multazam (h. 40), Tadarus (h. 44), Matahari (h. 75), Laut (h. 77), atau Doa (h. 86). Puisi-puisi pada bagian ini menjadi penegas bahwa Gus Mus adalah seorang penyair dengan keilmuan agama yang mendalam dan seimbang.
Bagi Anda pecinta kajian sastra, tentunya Anda penting untuk membaca buku ini. Anda dapat mengkaji sisi semantik puisi-puisi Gus Mus atau Anda dapat mengkajinya dari sisi proses transformasi cara berfikir Gus Mus sehingga bisa menciptakan sebuah puisi yang mendalam. Anda juga dapat meneliti dari sisi kepenyairan Gus Mus. Dalam konteks pesantren yang tradisional, sosok Gus Mus menarik untuk diteliti.
Mendobrak Kemapanan
Satu hal yang menarik dari puisi-puisi dalam buku ini, terlihat adanya keinginan Gus Mus untuk mendobrak kemapanan, baik dalam kehidupan beragama maupun kemasyarakatan. Dalam hal kehidupan beragama Islam, misalnya, Gus Mus tampak ingin membenturkan antara yang realitas dengan yang imajinatif dalam pikiran umat Islam. Hal ini setidaknya tercermin dalam puisi berjudul Puisi Islam (h. 29). Berikut penggalan puisi tersebut:
Islam agamaku, nomor satu di dunia
Islam benderaku, berkibar di mana-mana
Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya
Islam podiumku, kelas eksekutif yang mengubah cara dunia memandangku
Tempat aku menusuk kanan-kiri
Islam media masaku, gaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam sana-sini
Islam warungku, hanya menjual makanan surgawi
Islam supermarketku, melayani segala keperluan manusiawi
Islam makananku
Islam teaterku, menampilkan karakter-karakter suci
Islam festivalku, memeriahkan hari-hari mati
Islam kausku
Islam pentasku
Isalm seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa
Jika membaca bait-bait puisi ini, selintas kita akan mengatakan bahwa Gus Mus sangat lihai dalam membenturkan dua hal yang bertentangan. Apalagi ketika Gus Mus menutup puisi ini dengan kalimat yang menohok:Tuhan, Islamkah aku?
Dalam puisi di atas, tampak sekali bahwa sebenarnya yang ingin disasar adalah makna di balik untaian kata-kata puisi tersebut, yakni mendobrak perilaku masyarakat yang mengaku Islam, namun sebenarya dia tidak menyadari telah mempolitisasi Islam untuk kepentingan dirinya.
Selain itu, dalam puisi yang lain Gus Mus ingin mendobrak kecenderungan poltikus yang selalu menjual nama rakyat untuk kepentingan dirinya. Simak puisi dengan judul Mantan Rakyat berikut (h. 19):
Mantan rakyat bertemu rakyat
Berbicara atas nama rakyat demi rakyat
Dan rakyatpun saling bertanya
Apakah dia pernah jadi rakyat?
Upaya mendobrak kemapanan Gus Mus ini adalah sesuatu yang wajar, karena selama ini kehidupan sosial dan beragama kita sedang dilanda masalah. Konflik SARA yang terjadi akhir-akhir ini adalah cerminan bagaimana bangsa ini sedang “sakit”. Sakit akibat ulah pelaku politik, sosial, dan agama yang tidak sesuai dengan yang diucapkannya sendiri.
Kita dapat melihatnya dari berbagai kampanye, pidato di masjid, sekolah, istana, atau kantor pemerintahan yang semuanya berisi nilai-nilai keadilan sosial dan menghargai sesama manusia. Namun, tampaknya semua anjuran kebajikan itu hanya bualan karena konflik SARA terus terjadi. Dalam konteks ini, maka buku ini semakin penting untuk dibaca sebagai bahan renungan yang berguna dan apalagi jika kita berani mendobrak ketidakadilan.
(Yusuf Efendi/Res/64/03-2011)
Dibaca : 4.794 kali.