Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.365
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



26 maret 2011 07:07

Siraman

Siraman
Judul Buku
:
Siraman
Penulis
:
Suwarna Pringgawidagda
Penyunting:Yulia S. Rachmawati
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
2003
Tebal:
x + 56 halaman
Ukuran:14 x 20 cm
        

Siraman adalah tahap kedua dari tata cara pernikahan adat Jawa. Tahap yang sebelumnya adalah lamaran dari keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan. Siraman digelar satu hari menjelang pernikahan, sebelum upacara malam midodareni.

Siraman merupakan upacara simbolis yang melambangkan penyucian diri sebelum kedua calon mempelai memasuki babak baru dalam kehidupan mereka. Adat Jawa telah mengatur perlengkapan, tata cara, dan siapa saja yang harus terlibat dalam upacara ini. Beberapa bagian upacara siraman ini diiringi dengan tembang atau kidung Jawa bernada sendu. Alunan kidung ini membuat upacara siraman serasa romantis.

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang adat Jawa siraman, Anda dapat membaca buku karya Suwarna Pringgawidagda ini, karena cukup lengkap untuk dijadikan sebagai bahan belajar sekaligus praktek proses siraman itu. Dengan gaya menulis yang sederhana namun tetap komunikatif, buku ini menghadirkan berbagai hal tentang siraman.

Bagi Anda peminat kajian adat Jawa, Anda tentunya perlu membaca buku ini. Dalam buku kecil ini Anda akan menemui pembahasan tentang pengertian siraman dan tujuannya, baik untuk mempelai laki-laki dan perempuan maupun untuk para tetua (h. 1-3). Berbagai peralatan dan bahan yang diperlukan untuk siraman juga dapat Anda baca di bagian piranti siraman (h. 4-13).

Selanjutnya, jika Anda ingin mengetahui bagaimana proses pelaksanaan siraman, Anda dapat membaca bagian ini di halaman 15-44. Terakhir, jika Anda ingin mengetahui sekaligus menghafalkan kidung dandanggulo yang dibacakan dalam proses siraman, dapat Anda baca di halaman 47.

Menjaga Kesucian Lahir Batin

Jika dilihat sekilas, upacara siraman ini terlihat sangat rumit. Setidaknya dari berbagai proses yang harus dilakukan oleh kedua mempelai. Kerumitan juga dapat disaksikan dari berbagai piranti yang harus disiapkan, yaitu berupa air, klapa saghandeng, kendi atau kendil, gunting atau mok, dan sebagainya. Meskipun demikian, orang Jawa melihat bahwa siraman mengandung nilai pendidikan yang luhur bagi pengantin khususnya, dan masyarakat umumnya, salah satunya adalah mendidik untuk menjaga kesucian diri baik secara lahir maupun batin.

Nilai ini tercermin dari tujuan siraman itu sendiri, yakni untuk menyucikan secara jasmani dan rohani karena pada hari berikutnya calon mempelai akan melaksankan salah satu tugas suci dalam hidup di dunia, yaitu akad nikah (palakrama). Secara lahiriah, siraman memang hanya menyucikan badan. Tubuh menjadi bersih, wangi, dan sehat. Namun, secara batin, orang Jawa meyakini bahwa calon mempelai perempuan juga merasa dirinya suci secara batin dan itu terindikasi dari kesiapan dirinya untuk menikah esok harinya. Ia ikhlas dan tulus untuk mengarungi hidup yang berat dan kelak pastinya penuh cobaan.

Ibarat seseorang yang akan melaksanakan tugas suci dan agung (dalam hal ini menikah), maka hendaknya ia memulai dengan bersuci lahir dan batin. Dengan bersuci, seseorang akan lebih mantap dan siap menghadapi tugas. Dengan kesucian itu, seseorang juga akan merasa lebih optimis tugasnya akan selesai dengan baik.

Ritual yang Mulai Memudar

Nilai kesucian lahir dan batin ini meskipun hanya sebuah simbol, namun bagi orang Jawa itu lebih mengena. Namun, patut disayangkan, saat ini upacara siraman sudah mulai menghilang di kalangan orang Jawa. Saat ini siraman hanya ada di kraton atau untuk para keluarga ningrat Jawa. Masyarakat Jawa di perdesaan sudah meninggalkannya dengan bermacam alasan, salah satunya ribet dan memerlukan banyak biaya.  Alasan itu sebenarnya hanyalah dibuat-buat jika melihat pernikahan Jawa saat ini juga membutuhkan banyak biaya dan juga ribet. Bayangkan saja, pernikahan orang Jawa modern sekarang banyak digelar di gedung-gedung atau hotel. Para tamu udangan hanya diterima di gedung, tidak di rumah.

Melihat realitas ini, tampaknya alasan kenapa siraman mulai hilang dari kebudayaan orang Jawa umumnya lebih karena pola pikir orang Jawa yang sudah tidak mau repot. Nilai yang terkandung dalam upacara siraman tidak lagi dilihat sebagai ruang pedidikan hati, melainkan sebagai ritual yang merepotkan dan menghabiskan tenaga serta biaya. Dalam konteks ini, orang Jawa dapat dikatakan sebagai oang Jawa yang telah hilang Jawanya.

Dalam konteks hilangnya budaya siraman ini, buku ini menemukan fungsinya yang tepat, yaitu mengingatkan dan menyadarkan kembali orang Jawa akan pentingnya upacara siraman. Orang Jawa perlu kembali diingatkan bahwa jika siraman itu merepotkan dan menghabiskan biaya itu salah, karena pernikahan yang tanpa siraman pun membutuhkan biaya banyak. Dari berbagai masalah ini, buku ini penting untuk dipahami.

(Yusuf Efendi/Res/65/03-2011)

Dibaca : 4.553 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi