Senin, 22 Desember 2014   |   Tsulasa', 29 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 363
Hari ini : 5.047
Kemarin : 20.356
Minggu kemarin : 123.047
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.482.300
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



24 juni 2011 07:07

Anak-anak Kapal

Anak-anak Kapal

Judul Buku
:
Anak-anak Kapal
Penulis
:
Lukas Atakasi
Penerbit:
Mitra Gama Widya, Yogyakarta
Cetakan
:

Juni, 2001

Tebal
:
x + 117 halaman
Ukuran
:

14,3 x 20,1 cm

 

Saat tali persaudaraan di masyarakat kian pupus, maka pertikaian, pertengkaran, dan konflik antargolongan akan terjadi. Negeri ini pernah mengalami itu semua. Pada kurun 1900-2005, konflik antarsuku atau antarkelompok jamak terjadi. Sebagian orang menduga itu permainan penguasa di pusat. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa hal itu terjadi karena ulah orang-orang tertentu yang bermain di air keruh. Bagi kaum pendidik, konflik tentunya akan berpengaruh pada siswa sebagai generasi penerus bangsa.

Buku kecil di hadapan Anda ini adalah sebuah naskah fiksi bacaan untuk anak-anak SD, SMP, atau SMU buah dari keprihatinan penulis, Lukas Atakasi, atas pudarnya tali persaudaraan. Hal itu benar-benar dirasakannya karena sering melihat berita di televisi dan surat kabar yang dipenuhi oleh konflik antarsuku dan kelompok masyarakat. Penulis yang seorang pendidik, merasa wajib mengajarkan kepada murid-muridnya akan pentingnya menghormati perbedaan dan menghargai keberagaman.

Bagi Anda para pendidik, penting kiranya membaca buku ini. Anda dapat secara langsung membacakannya di depan kelas, atau dapat pula dengan metode permainan kelompok untuk mempraktekkan langsung perbedaan, lalu meminta para siswa untuk menghormati perbedaan yang ada di antara mereka. Kualitas buku ini cukup teruji karena pernah memenangkan sayembara penulisan naskah bacaan tahun 2000/2001 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Penulis sendiri memiliki karya yang cukup banyak, seperti buku Rintihan di Atas Batu Karang (1995), Tekad Pak Wangge (1996), Pulau Sangia Penuh Misteri (1997), dan Anak Lembah Elang (1998).   

Buku berjudul Anak-anak Kapal ini mengisahkan tentang persahabatan dua anak, La Mada dan Alex, yang berasal dari keluarga yang berbeda suku dan agama. Akan tetapi, keduanya bersahabat di tengah konflik agama dan suku yang terjadi di masyarakat. Keduanya tidak terpengaruh dengan konflik karena menurut mereka perbedaan tidak harus menjadi sebab perpecahan. Keduanya tetap bertahan hidup bersama walau tantangan menghadang (h. 39).

Dalam buku ini, Anda akan membaca petulangan keduanya dalam menghadapi masalah yang ada. Saat keduanya tertimpa malapetaka, lalu terpisah jauh dengan keluarga karena warga panik, berpetualang hingga akhirnya kembali bertemu dengan orangtua dan masyarakat desanya. Kisah kedua bocah ini ditulis dengan begitu dramatis namun tetap alami. Penulis sepertinya sudah begitu ahli dalam menjalin cerita agar tidak terkesan berlebihan.

Menjaga Keanekaragaman

Pesan pokok dalam buku ini adalah pentingnya menjaga keanekaragaman, baik suku, agama, budaya, adat istiadat di masyarakat. Sikap menjaga keanekaragaman ini akan terwujud masyarakat memahami bahwa perbedaan seharusnya bisa memunculkan sikap saling menghormati. Apa yang dihadirkan dalam kisah La Mada dan Alex adalah sebuah gambaran bagaimana negeri ini rentan akan konflik sosial, karena terdiri dari beragam suku bangsa dan agama.

Pancasila sebagai dasar negara dengan slogannya Bhineka Tunggal Ika sebenarnya sudah mengingatkan akan masalah perbedaan ini. Namun, sepertinya terus menguap seiring dengan perkembangan zaman. Dalam konteks masa kini, buku ini rasanya masih cukup relevan untuk dikaji karena semakin banyak generasi muda kita yang melupakan Pancasila. Untuk itu, marilah kita belajar dari kisah La Mada dan Alex ini. Selamat membaca.

(Yusuf Efendi/Res/73/06-2011)


Dibaca : 1.916 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat