Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 155
Hari ini : 7.987
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



28 juli 2011 00:07

Asal-usul Negeri-negeri di Malaysia

Asal-usul Negeri-negeri di Malaysia
Judul Buku
:
Asal-usul Negeri-negeri di Malaysia
Penulis
:
Zakiah Hanum
Editor:Norman Suratman
Penerbit:
Times Books International, Singapura
Cetakan
:
1989
Tebal
:
96 halaman
Ukuran
:
15,6 x 22,7 cm

Ketika beberapa tahun terakhir ini banyak media massa di Indonesia yang memberitakan konflik antara Indonesia dengan Malaysia, khususnya berkaitan dengan hasil kebudayaan, publik seakan dibuat bingung. Mengapa sesama negara serumpun kok ribut? Bukankah antara Malaysia dan Indonesia memiliki akar kebudayaan yang tidak jauh berbeda?  

Bagi mereka yang memahami dan mengetahui latar belakang kebudayaan kedua negeri serumpun ini tentunya takkan ikut bingung. Namun, bagi mereka yang tidak pernah membaca dan memahami sejarah kedua negara ini, tentu akan cenderung menyalahkan Malaysia yang dianggap suka mengklaim kebudayaan Indonesia. 

Minimal untuk menjawab dan mencerahkan kebingungan di atas, buku berjudul “Asal-usul negeri-negeri di Malaysia” ini penting kiranya dibaca. Buku ini menghadirkan sebuah pembahasan yang penting berkait dengan temuan arkeologis dan historis tentang sejarah negeri-negeri di Malaysia yang memang berkait erat dengan leluhur orang Melayu yang ada di Indonesia. Bagi Anda peminat sejarah dan arkeologi, penting kiranya membaca buku ini. Meskipun berbahasa Malaysia, namun jalan ceritanya masih dapat dengan nyaman diikuti. Dengan demikian, pembaca dari Indonesia akan lebih mudah memahami buku ini. 

Buku ini menghadirkan 13 sejarah ringkas negeri-negeri di Malaysia, yaitu Negeri Johor (h. 8), Kedah (h. 14), Kelantan (h. 22), Melaka (h. 27), Negeri Sembilan (h. 37), Pahang (h. 44), Perak (h. 50), Perlis (h. 58), Pulau Pinang (h. 62), Sabah (h. 66), Sarawak (h. 69), Selangor (h. 73), dan Terengganu (h. 79). Ketigabelas negeri ini menarik untuk dibaca sejarahnya mengingat penduduk aslinya berkait erat dengan orang-orang Melayu di Indonesia. Penduduk asli negeri-negeri ini berakulturasi dengan dengan bangsa Cina, India, dan Arab yang singgah untuk berdagang di Semenanjung Melayu.  

Realitas ini membuktikan bahwa penduduk negeri-negeri di Malaysia sangat beragam. Dari sini, menjadi wajar jika antarkebudayaan Malaysia dan Indonesia, juga Arab,  India, dan Cina, terdapat banyak kemiripan. Adapun mengapa menjadi saling klaim, menurut kaum cerdik pandai, hal itu tidak lepas dari faktor politis dan bisnis pariwisata global. Dari bukti-bukti historis ini, buku ini semakin penting untuk dibaca. 

Negeri Sembilan 

Satu sejarah penting yang ditampilkan dalam buku ini, sehubungan dengan keterkaitan leluhur Indonesia dan Malaysia, adalah bukti arkeologis dan historis tentang Negeri Sembilan. Negeri Sembilan adalah sebuah negeri yang berasaskan pada gabungan sembilan “negeri” atau “kawasan” yang luas, yang mempunyai pembesar-pembesarnya sendiri pada suatu masa dahulu (h. 37).  

Bukti sejarah ini mengingatkan akan sistem pemerintahan masa lalu yang ada di Minangkabau. Sejurus dengan ingatan ini, dalam sejarahnya, orang-orang Minangkabau memang pernah hidup di Negeri Sembilan. Keterkaitan orang Minangkabau dengan Negeri Sembilan juga dapat dibuktikan dari arsitektur rumah-rumah dan istana Negeri sembilan yang mirip dengan rumah adat Minangkabau, yakni berbentuk rumah panggung, memiliki banyak pintu dan jendela, dan tentunya memiliki atap yang lancip dan melengkung seperti tanduk kerbau.  

Sejarah Negeri Sembilan juga menyebutkan bahwa pada masa Sultan Mansur Shah yang bertahta hingga tahun 1477 M, keempat  negeri di Negeri Sembilan (Sungai Ujong, Klang, Jelebu, dan Johor), diperintah oleh Bendahara Melaka, Tun Ali. Pada waktu itu, kebanyakan penduduk Negeri Sembilan terdiri dari orang-orang asli suku Sakai (dari Daratan Riau) (h.39). Realitas ini membuktikan bahwa orang Melayu telah berdiaspora dengan tujuan berdagang lalu akhirnya menetap dan menghasilkan kebudayaan baru yang terdapat kemiripan dengan budaya yang mereka miliki sebelumnya. Dengan mencermati bukti-bukti sejarah ini, sikap saling memahami dan menghargai perbedaan sepertinya harus terlebih didahulukan jika antarsesama rumpun Melayu kembali terjadi masalah kebudayaan di kemudian hari.  

(Yusuf Efendi/Res/75/07-2011) 
Dibaca : 3.932 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi