Rabu, 3 September 2014   |   Khamis, 8 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 294
Hari ini : 2.525
Kemarin : 26.290
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.079.375
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



12 agustus 2011 07:07

Penuntun Mengarang

Penuntun Mengarang
Judul Buku
:
Penuntun Mengarang
Penulis
:
Nursisto
Penyunting:Ir. Tuti S dan Sjamsu Dradjad, S.S
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
November, 2000
Tebal
:
82 halaman
Ukuran
:
15 x 23 cm

Pada zaman modern ini, kegundahan yang sering dirasakan oleh para guru dan pendidik adalah mengenai rendahnya semangat siswa untuk membaca buku, apalagi untuk menulis. Semakin berpengaruhnya Televisi dan internet yang seharusnya bisa dijadikan sebagai media informasi ternyata tidak berbanding lurus dengan keingintahuan para remaja untuk membaca dan menulis. Para peserta didik justru terlena dengan tayangan gosip dan sinetron di televisi, atau berjejaring sosial ria lewat Facebook atau Twitter di internet, ketimbang membaca dan menulis.

Kegundahan ini juga dialami oleh Nursisto, seorang guru SMU di  Sleman, Yogyakarta. Untuk menjawab hal tersebut, Nursisto menulis sebuah buku sederhana dengan judul “Penuntun Mengarang”. Nursisto menulis buku ini agar peserta didik mencintai dunia tulis-menulis sejak duduk di sekolah dasar. Meskipun sederhana, buku ini menghadirkan informasi yang lengkap dan mudah untuk dipahami dan dipraktekkan.

Buku ini dibagi dalam 13 bab, di mana setiap babnya berisi tentang uraian singkat beserta contohnya. Bab I membahas tentang bagaimana menghidupkan daya cipta untuk menemukan ide mengarang (h. 1-4). Bab II berisi tentang arti penting mengarang (h. 4-8). Bab III berisi tentang modal dasar yang harus dimiliki seorang pengarang (h. 9-14). Bab IV berisi tentang cara menyusun paragraf (h. 15-28). Bab V berisi tentang bekal sebelum memulai mengarang (h. 29-32).

Pada bab VI, Nursisto membahas tentang bagian-bagian karangan (h. 33-36). Bab VII memperkenalkan tentang jenis-jenis karangan (h. 37-46). Bab VIII menerangkan tentang ciri-ciri karangan yang baik (h.47-50). Bab IX berisi tentang langkah-langkah mengarang (h. 51-58). Bab X membahas tentang prinsip menyusun karangan (h. 59-62). Bab XI membahas tentang mewujudkan karangan (h. 63-66). Bab XII berisi contoh karangan (h. 67-78). Bab XIII membahas tentang mengarang di sekolah dasar.

Melihat detilnya penulis menyusun tulisannya, buku ini tampaknya memang dipersiapkan sebagai bahan ajar. Oleh karena itu, bagi Anda para guru bahasa Indonesia di SD, penting untuk membaca buku ini. Pemberian contoh dalam buku ini semakin memudahkan pembaca untuk mengajarkanya pada peserta didik. Tidak hanya para guru, keberadaan buku ini juga memudahkan Anda yang ingin memulai belajar mengarang.

Mengarang itu Mudah

Mengarang itu sulit, jika mudah itu hanya bagi orang yang memang sudah mempunyai bakat. Anggapan umum ini sampai sekarang masih menghantui anak-anak remaja sehingga mereka lebih memilih mendengarkan orang berbicara dan menonton televisi. Kalaupun harus menulis, itu pun hanya sekadar untuk Facebook atau Twitter. Buku ini mencoba membuktikan bahwa mengarang itu mudah.

Sebenarnya setiap manusia akan mengalami 4 jenjang dalam kemampuan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis atau mengarang (h.5). Keempat jenjang ini terjadi secara normal dialami oleh setiap individu, hanya kuantitas dan kualitas tulisannya saja yang berubah dari waktu ke waktu. Misalnya saat masih Taman Kanak-kanak, seorang murid akan disuruh menuliskan namanya dan orangtuanya. Menginjak SD, mereka diberi tugas mengerjakan pekerjaan rumah. Di SMP dan SMU begitu juga, bahkan para murid diminta memperluas idenya. Lantas, mengapa mengarang menjadi sulit?

Kesulitan itu dialami ketika menulis tidak lagi dijadikan kebutuhan sehingga tidak dilatih terus menerus. Memang, ada orang yang sudah berlatih tetapi tetap saja tidak bisa menulis. Pada kasus ini, masalahnya bukan tidak dapat menulis, melainkan tulisannya tidak sebagus mereka yang sudah terlatih menulis. Oleh karena itu, kuncinya ada pada latihan dan berani mencoba. Proses latihan dan berani mencoba inilah yang ditawarkan dalam buku ini. Dengan langkah dan contoh yang mudah dipraktekkan, buku ini mengajarkan bahwa mengarang itu mudah. Maka dari itu, bacalah dan praktekkan.

(Yusuf Efendi/Res/77/08-2011) 
Dibaca : 1.393 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat