Selasa, 28 April 2026   |   Arbia', 11 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 2.964
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



16 sepember 2011 00:07

Deskripsi Naskah dan Sejarah Perkembangan Aksara Ende Flores Nusa Tenggara Timur

Deskripsi Naskah dan Sejarah Perkembangan Aksara Ende Flores Nusa Tenggara Timur
Judul Buku
:
Deskripsi Naskah dan Sejarah Perkembangan Aksara Ende Flores Nusa Tenggara Timur
Penulis
:
Maria Matildis Banda
Editor:Dwi Puspitorini dan Dewaki Kramadibrata
Penerbit:

Djambatan, Jakarta

Cetakan
:
2005
Tebal
:

vii + 175 halaman

Ukuran
:
14 x 20,8 cm

Pulau Ende menjadi salah satu tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Soekarno beserta istri dan anak angkatnya, Inggit Garnasih dan Ratna Juami, sempat diasingkan oleh Belanda di pulau ini. Selain itu, Ende juga memiliki khazanah bahasa yang membanggakan. Orang Ende telah menciptakan pola tulisan dengan aksara Lota. Sayangnya, tidak banyak yang tahu tentang hal ini. Namun, berkat ketekunan Maria Matildis Banda, seorang ahli Filologi dari Universitas Udayana, Bali, aksara Lota dapat dipelajari dari buku ini. Bagi anda penikmat kajian filologi, tentu akan dimudahkan dengan adanya buku ini. Sebelumnya, pakar linguistik dan filologi bernama S Ross sudah menelitinya yang terangkum dalam bukunya Encyclopaedisch Bureau Endeh Flores. 

Buku setebal 175 halaman ini mengupas secara detil analisis, terjemahan, dan teks asli dari aksara Lota yang dahulu banyak ditulis dengan media wunu koli (daun lontar). Penulis sangat menguasai kajian filologi teks-teks tradisional yang kurang banyak diminati oleh pengkaji bahasa di Indonesia ini. Buku ini terdiri dari IV bab. Bab I adalah pendahuluan, membahas tentang latar belakang, tujuan, kerangka teori, metode, sumber data, dan lokasi penelitian. Bab II berisi deskripsi naskah Ende, seperti keberadaan naskah Ende, identifikasi naskah (judul, tempat penyimpanan, asal-usul, cara penulisan naskah, dan bentuk teks), dan transliterasi naskah. Bab III membahas tentang aksara dan bahasa Ende, perbandingannya dengan aksara Bugis dan transformasi menjadi bahasa Ende. Bab IV adalah penutup. Dilihat dari sistematikanya, buku ini merupakan karya ilmiah. 

Pengaruh Bugis     

Aksara Lota merupakan turunan dari aksara Bugis yang masuk ke wilayah Ende pada masa pemerintahan Raja Goa XIV I, Manggarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin (1593-1639), yang kemudian beradaptasi dengan sistem bahasa dan budaya lokal masyarakat Ende. Lota berasal dari kata lontar, karena pada masa lampau, aksara ini diajarkan dan ditulis di daun lontar (wunu koli). Tulisan umumnya berupa doa, ajaran budi pekerti pada orangtua, petuah kehidupan, dan pesan kecintaan pada alam.

Aksara Lota telah menghiasi budayaan tulis dan kesusasteraan Ende tempo dulu. Gubahan syair dan lagu-lagu tradisional Ende yang sering dibacakan dan dinyanyikan dalam upacara ritual adat ditulis dalam aksara Lota ini. Dahulu, jika ada orang yang memiliki hajat mengkhitankan anaknya atau membangun rumah baru, kisah-kisah kehidupan yang ditulis dalam aksara Lota selalu dibacakan. Tujuannya agar masyarakat mengambil pelajaran dari kisah tersebut. Pembacaan ini juga dimaksudkan untuk mendidik masyarakat agar mencintai budaya leluhur.

Sepi Pembaca

Aksara Lota telah menyimpan banyak nilai sejarah kebudayaan Ende, mulai dari kesusasteraan hingga tatanan sosial masyarakat. Namun sayang, saat ini hanya tersisa sedikit orang Ende yang dapat membaca aksara Lota, baik pada generasi tua mereka apalagi muda. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan karena dengan hilangnya aksara Lota juga menyebabkan hilangnya kebudayaan sastra Ende.

Hilangnya aksara Lota dari kehidupan orang Ende diduga disebabkan karena beberapa faktor, antara lain banyak dari mereka yang dapat membaca sudah wafat namun tidak sempat menurunkan ilmunya ke generasi selanjutnya dan tidak adanya sanggar budaya atau proses belajar yang diselenggarakan oleh rumah adat. Selain itu, aksara Latin yang digunakan untuk sarana komunikasi sehari-hari menjadikan aksara Lota tergerus dari memori orang Ende. Mempelajari aksara Lota dirasakan sulit oleh generasi muda karena memerlukan kesabaran dan kekuatan hafalan, dan masuknya budaya modern yang mudah diakses.

Problematika di atas sebenarnya tidak hanya dialami oleh aksara Lota saja, hampir semua aksara kuno dalam kebudayaan berbagai suku bangsa di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Sedikit peminat dan hanya dipergunakan dalam kondisi tertentu. Aksara Jawa, misalnya, hanya digunakan oleh kalangan dan pada waktu tertentu. Oleh karena itu, buku ini merupakan satu hal yang menggembirakan dan semoga menarik minat budaya lain untuk peduli terhadap aksara Lota.

(Yusuf Efendi/Res/79/09-2011)
Dibaca : 5.929 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi