Selasa, 28 April 2026   |   Arbia', 11 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 2.962
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



07 april 2015 07:07

Kebudayan Nusantara : Kepelbagaian dalam Kesatuan

Judul Buku
:
Kebudayan Nusantara : Kepelbagaian dalam Kesatuan
Penulis
:
Boris Parnickel
Penerbit:
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia
Cetakan
:
1997
Tebal
:

278 halaman

Ukuran
:
21,5 cm × 14 cm 

Seorang ilmuwan kebudayaan tidak harus selalu meneliti dan mengkaji kebudayaan bangsanya sendiri. Faktor objektivitas dan mendalam guna meneliti sebuah kebudayaan memang diutamakan oleh seorang peneliti, terlebih ia meneliti kebudayaan lain. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Boris Parnickel dalam bukunya yang terdiri dari kumpulan tulisan dari berbagai peneliti baik Melayu maupun non-Melayu. Boris mengetengahkan tema besar yaitu rumpun bangsa Melayu-Polinesia bagian barat. Boris merasa tertarik mengangkat tema tersebut karena pada abad ke 19 banyak menarik perhatian para sarjana Barat, misalnya John Crawfurd. Bagi yang sangat tertarik bagi sejarah perkembangan kebudayaan Melayu-Polinesia barat, buku ini bisa menjadi referensi yang tepat karena Boris membahasnya dengan rinci dan terstruktur.

Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan ilmiah, sumbangan dari para peneliti Melayu maupun Barat. Buku ini melihat kebudayaan tanpa melihat batasan-batasan geopolitik yang merupakan warisan dari penjajahan asing pada masa lalu, seperti pada kasus negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Buku ini terdiri dari dua bagian besar. Bagian pertama menyentuh masalah kebudayaan dan sastra melalui segmentasi masa sejarah Melayu Polinesia mulai dari masa prasejarah hingga zaman klasik modern yaitu era puisi Rendra yang figurnya seperti penyair berjiwa Hang Jebat, tokoh dalam sejarah Melayu klasik. Sebagai landasan teori budaya guna mengupas kebudayaan, Boris menyertakan tulisan dari Zainal Kling yang memaparkan teori etnometodologi yang digagas oleh Harold Garfinkel. Atas berbagai saran dari pakar antropologi, yaitu Malinowski, peneliti kebudayaan itu harus mengumpulkan berbagai data dan bahan dari hasil pola pikir masyarakat yang diteliti.

Bagian kedua, mengulas kaidah penelitian bahasa Melayu Indonesia, kedudukan bahasa Melayu di Malaysia dan beberapa penelitian linguistik seperti sistem suku kata bahasa Chru di Vietnam yang hanya diketahui oleh segelintir ahli bahasa. Secara holistik, buku ini mengangkat kebudayaan Nusantara walaupun terdapat bermacam-macam warna budaya tetapi tetap dalam satu kesatuan. Bagi peneliti dan pengamat sosial budaya Asia Tenggara buku ini merupakan pilihan yang tepat untuk dibaca terutama di bidang bahasa dan sastra. (Adwi/Res/01/04-2015).

Dibaca : 1.222 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi