Selasa, 28 April 2026   |   Arbia', 11 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 2.951
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



07 april 2015 07:07

Biografi Seniman Negara Rahman B

Judul Buku
:
Biografi Seniman Negara Rahman B
Penulis
:
Zakaria Ariffin
Penerbit:

Akademi Seni Kebangsaan, Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Kuala Lumpur

Cetakan
:
Pertama, 2005
Tebal
:

XV + 127 Halaman

Ukuran
:
15 X 22 cm 

Buku ini merupakan biografi seorang seniman Negara Malaysia yang memokuskan diri pada kesenian Bangsawan. Bangsawan merupakan salah satu kesenian Melayu yang berbentuk drama pertunjukan yang diperankan oleh beberapa orang dengan melakukan improvisasi berdasarkan sinopsis yang telah disediakan.

Di Malaysia, Bangsawan diyakini pertama muncul di Pulau Pinang sekitar tahun 1870an. Mamat Mashor dikatakan orang pertama yang membentuk sanggar/kelompok bangsawan atas perintah Sultan Deli di Medan, Indonesia. Kelompok ini tampil di Medan atas undangan Sultan Deli. Sekembalinya dari Medan Mamat Mashor membentuk kelompok tetap dengan bantuan seorang pedagang bernama Kapitan Ali. Terdapat juga nama lain, yaitu Mamak Pushi yang membentuk kelompok Bangsawan yang telah berkeliling mulai dari Malaysia, Singapura hingga ke Batavia (sekarang Jakarta), Indonesia, hingga akhirnya kelompok tersebut dibeli salah seorang yang berminat untuk mengembangkannya di Jakarta yang kini dikenal dengan kesenian Stambul atau teater transisi (modern).

Abdul Rahman mempelajari kesenian Bangsawan dari ayahnya, yaitu Abu Bakar yang juga anggota dari kelompok Kesenian Bangsawan pada akhir-akhir puncak kegemilangannya di Malaysia. Walaupun demikian dengan tekad dan semangat yang kuat Abu Bakar dan Abdul Rahman mampu membawa kelompok kesenian Bangsawan hingga akhir abad ke 20. “Bangsawan sudah menjadi mata pencarian, kehidupan, dunia, dan darah daging saya… Saya berazam untuk mengekalkan kesenian ini, supaya hal mengenai adat istiadat dan budaya Melayu yang ada di dalamnya itu tidak hilang begitu sahaja, dan dapat dilihat serta dihayati oleh generasi kita pada masa yang akan datang” (h.XV).

Buku ini juga mengisahkan tentang ayah Rahman B, yaitu Abu Bakar ketika mulai meminati kesenian Bangsawan hingga terjun langsung menjadi pemeran bahkan mendirikan kelompok Bangsawan. Setelah kelahiran Rahman B pada 18 Mei 1934, sang ayah bertekad mencetak anaknya untuk mengikuti jejaknya dalam seni peran. Karena itu, Rahman kecil selalu diajak oleh kedua orang tuanya setiap kali ada pementasan. Hal itu juga tejadi pada dua adik Rahman.

Zakaria Ariffin juga memaparkan perjalanan panjang kelompok kesenian Bangsawan Rahman Star Opera (nama kelompok kesenian Bangsawan Mereka) hingga akhirnya diminta bergabung dalam pembuatan film sebagai pemeran. Seiring berjalannya waktu Rahman B dan kelompok bangsawannya mulai disibukkan dalam dunia perfilman karena minat terhadap film lebih besar ketimbang pertunjukan teater Bangsawan. Akibatnya kesenian Bangsawan mulai ditinggalkan dan banyak kelompok lain serupa yang membubarkan diri.

Pada 1957, terinspirasi oleh pementasan Rahman bersaudara (Rahman, Rahim, dan Rohani) bersama seorang pemeran film Maria Menado yang sangat terkenal karena perannya sebagai Kuntilanak/Pontianak dalam film Box Office Pontianak terbitan Chatay Keris, yang memperoleh sambutan luar biasa dari masyarakat, maka Abu Bakar mencetuskan ide untuk menghidupkan kembali kesenian Bangsawan yang telah lama ditinggalkan. Dengan bantuan modal dari keluarga Raja Kelantan Tengku Sarimah, akhirnya Abu Bakar dan keluarganya memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Tumasik dan menetap di Kelantan kemudian membentuk kelompok kesenian Bangsawan yang diberi nama Bangsawan Bintang Timur.

Bangkit dan terpuruknya Kesenian Bangsawan juga dituliskan di dalam buku ini termasuk faktor-faktor penyebabnya. Pada bagian akhir Zakaria Juga menuliskan kegiatan keseharain Rahman B saat ini yang masih aktif melatih murid-muridnya minimal sekali dalam satu minggu.

(OS Koto/Res/02/04-2015)

Dibaca : 1.199 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi