Selasa, 28 April 2026   |   Arbia', 11 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 2.963
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



08 april 2015 07:07

Hijrah dalam Kenangan: Amirul Mu’minin Sayidina Umar Al-Khattab

Judul Buku
:
Hijrah dalam Kenangan: Amirul Mu’minin Sayidina Umar Al-Khattab
Penulis
:
Dayang Ruzaimah, dkk.
Penerbit:
Pusat Da’wah Islamiah Kementerian Hal Ehwal Ugama Negara Brunei Darussalam
Cetakan
:
Pertama, 2008
Tebal
:

iii + 40 Halaman

Ukuran
:
14 X 21 cm

Buku Hijrah dalam Kenangan ini berisi penjelasan tentang Sayidina Umar di dalam Islam. Seorang yang dulunya merupakan musuh Islam, momok yang menakutkan bagi umat Islam, berbalik 180 derajat menjadi pembela Islam setelah memeluk agama Islam. Sayidina Umar merupakan orang pertama yang memeluk Islam secara terang-terangan, tidak seperti orang-orang sebelumnya yang masuk Islam secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi.

Umar berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaum Quraisy, karenanya ia sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekah. Sebelum masuk Islam ia dikenal sebagai sosok yang berwatak keras, kasar, dan kejam, hingga sanggup mengubur hidup-hidup puterinya sendiri demi citra kehormatan kebangsawanannya. Memiliki anak perempuan pada saat itu merupakan kehinaan dan kenistaan.

Selain itu, buku ini juga menjelaskan proses Umar memeluk agama Islam. Ada dua alasan kuat masuknya Umar ke dalam Islam. Pertama, karena kekaguman beliau terhadap isi kandungan Al-Qur’an. Kedua, atas terkabulnya doa Baginda Rasulullah supaya Umar mendapat hidayah demi memperkuat Islam pada saat itu. Doa Rasulullah SAW: “Ya Allah perteguhkanlah Islam dengan Abu Jahal atau dengan Umar bin Khattab”  (h.7).

Pengislaman Umar merupakan titik awal perubahan yang besar dalam penyebaran Islam. Ia merupakan wujud kemenangan tersendiri bagi umat Islam. Umat Islam mulai bangkit dan berani menampakkan diri di mata kaum Musyirikin, dan lebih percaya diri memperjuangkan agama Islam. Kabar tentang Umar ‘yang baru’ juga tersebar jauh hingga ke kota Habsyah. Umar secara terang-terangan mengakui keislamannya bahkan ia berani mengerjakan shalat di depan Ka’bah yang akhirnya diikuti olah umat Islam lainnya. Keadaan ini berdampak juga pada keberanian umat Islam di kota Habsyah untuk kembali lagi ke Mekah. “Berkatalah Abdullan bin Mas’ud: sesungguhnya pengislaman Umar adalah satu kemenangan dan penghijrahan, beliau merupakan satu rahmat. Kami tidak shalat dihadapan Ka’bah sehingga umar memeluk Islam” (h.17).

Dikarenakan karakter Umar yang cocok menjadi seorang pemimpin, maka Abu Bakar, di masa akhir kekhalifahannya, mengusulkannya menjadi khalifah. Usulan tersebut tentu saja disetujui oleh para sahabat. Kepemimpinan beliau yang selalu bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya dapat juga menjadi contoh bagi generasi selepasnya.

Bagian akhir dari buku ini menjelaskan sumbangan Umar terhadap Islam, di antaranya perluasan wilayah pemerintahan Islam, memberikan dasar-dasar pemerintahan Islam, dan memberlakukan kalender hijriyah sebagai hitungan tahun Islam.

(OS Koto/Res/03/04-2015)

Dibaca : 1.632 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi