Rabu, 29 Juli 2026   |   Khamis, 13 Shafar 1448 H
Pengunjung Online : 1.530
Hari ini : 21.808
Kemarin : 22.511
Minggu kemarin : 172.115
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



14 april 2015 07:07

Peninggalan Sejarah di Pesisiran Sungai Johor

Judul Buku
:
Peninggalan Sejarah di Pesisiran Sungai Johor
Penulis
:
Kamarudin Ab. Razak
Penerbit:
Yayasan Warisan Johor, Johor Bahru, Malaysia
Cetakan
:
Pertama, 1998
Tebal
:

vii + 95

Ukuran
:
19 X 26 cm 

Buku ini berisi tentang gambaran peninggalan sejarah yang terdapat di pesisir Sungai Johor, hasil survey penulis dibantu oleh beberapa pihak. Dipilihnya sungai Johor sebagai tempat survey, karena Sungai Johor merupakan pusat pemerintahan kesultanan Melayu setelah jatuhnya Malaka di tangan Portugis pada tahun 1511. Sepeninggal pemerintahan kesultanan Johor, banyak peninggalan-peninggalan sejarah di sepanjang Sungai Johor.

Buku ini juga menjelaskan di mana letak kota Johor lama, yang ditandai dengan penemuan-penemuan di kawasan ini, baik berupa makam lama, sumur, artefak, manuskrip, dan lain sebagainya. Selain itu, dijelaskan juga mengenai sejarah Kampong/Kota Panchor, yang konon dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV. Seorang peneliti dari Inggris menggambarkan Kota Panchor berbentuk empat persegi yang dibuat dari balok-balok kayu besar dan berlapis-lapis dengan ketinggian kira-kira 12 kaki, sedangkan tinggi lantai 5 kaki. Meriam lama juga pernah di temukan dikawasan ini, kini meriam tersebut diletakkan di Johor Bahru.

Perpindahan Ibukota Johor yang sering terjadi juga diungkap dalam buku ini. Menurut Kamarudin, perpindahan itu tidak semata keinginan Sultan, tetapi juga ada faktor lain yang menyebabkannya, di antaranya ialah serangan pihak penjajah dan serangan wabah penyakit.

Selain itu, buku ini juga memuat kisah panglima Bentan atau yang bernama asli Megat Sri Rama. Sri Rama merupakan laksamana atau tentara laut kesultanan Johor yang membunuh Sultan Johor pada saat Sultan hendak melaksanakan sholat jum’at di masjid. Sultan kemudian tewas dalam keadaan dijulang (dijunjung). Oleh karena itu, orang menyebutnya ‘Sultan Mahmud mangkat dijulang’. 

Pembunuhan itu merupakan balas dendam Panglima Bentan karena istrinya yang bernama Dang Anom dibunuh oleh Sultan setelah kedapatan memakan nangka milik istana yang hendak dipersembahkan kepadanya.

Foto-foto setiap tempat-tempat yang diceritakan di dalam buku ini juga turut disertakan sebagai pelengkap pengetahuan bagi pembaca. Bagi pembaca yang memiliki ketertarikan dengan sejarah terutama sejarah kesultanan Johor, tentunya buku ini akan memberikan informasi dan pengetahuan yang besar mengenai sisa-sisa peninggalan kesultanaan Johor di pesisir Sungai Johor. (Oki Koto/Res/04/04-2015).

Dibaca : 1.143 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi