Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 151
Hari ini : 7.923
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



27 april 2015 07:07

Tambo Minangkabau dan Adatnya

 
Judul Buku
:
Tambo Minangkabau dan Adatnya
Penulis
:
Ahmad Dt. Batuah dibantu oleh A. Dt. Madjoindo
Penerbit:
Dinas Penerbitan Balai Pustaka Jakarta
Cetakan
:
Pertama, 1956
Tebal
:

179 Halaman

Ukuran
:
15 X 21 cm

Tambo Minangkabau merupakan cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau terdapat hampir di setiap negeri di daerah Minangkabau yang ditulis dengan Aksara Arab (Arab Melayu). Tambo Minangkabau dianggap keramat oleh orang-orang Minangkabau, sehingga hanya boleh disimpan oleh kepala suku dan tidak semua orang boleh membacanya, tidak terkecuali orang Minang itu sendiri.

Buku Tambo Minangkabau dan Adatnya ini diambil dari Tambo-tambo lama peninggalan orang-orang zaman dahulu. Buku ini disusun agar masyarakat mengetahui adat istiadat Minangkabau dan mengetahui isi dari Tambo Minangkabau.

Pada bagian pertama buku Tambo Minangkabau dan Adatnya dijelaskan prihal asal-usul Minangkabau, bahwa keberadaan bangsa-bangsa di dunia saat ini terkait erat dengan peristiwa besar, sebuah bencana meluapnya gelombang pasang dahsyat karena meletusnya sebah gunung di benua Atlantik. Peristiwa ini dikenang sebagai ‘kiamat Nabi Nuh’ atau kiamat kecil. Akibatnya, seluruh manusia musnah tinggal tersisa Nabi Nuh bersama kaumnya yang selamat dari amukan bah. Dari Nabi Nuh dan kaumnya itulah akhirnya berkembang turun temurun hingga sekarang, termasuk penghuni Kepulauan Nusantara ini. (h.11)

Diungkap pula sejarah panjang tentang awal penamaan negeri padang panjang yang berkait erat dengan sebuah senjata ‘pedang yang panjang’. Penamaan ini berimbas pada negeri tetangga dekatnya yang kemudian disebut Periangan Padang Panjang. Itulah negeri pertama yang terdapat di Alam Minangkabau. Cerita indah tentang penamaan negeri inipun berlanjut ke sebuah kampung yang kemudian dikenal dengan “Koto Panjang”. Bahkan, di buku ini disebutkan pula cerita legendaris asal usul yang melahirkan nama Alam Minangkabau.

Pada zaman Majapahit raja memerintahkan seorang menteri yang bernama Aditiawarman untuk belayar ke Palembang dan Jambi. Ia diperintahkan untuk mengepalai daerah tersebut sambil mencari daerah taklukan. Aditiawarman kemudian bergerak ke Alam Minangkabau, kedatangannya dikisahkan di dalam Tambo sebagai berikut: “…adapun  Aditiawarman itu dari Jambi mudiklah ia ke Batang Hari. Lalu melangkan ke Batang Umbilin dan mudik sampai ke Muko-Muko di tepi Danau Singkarak, sebelah ke Batu Beragung. Di Batu Beragung inilah mula-mula Aditiawarman menjalankan niatnya supaya menjadi raja dalam Alam di Luhak Nan Tigo. Di Batu Bergaung itu ada batu bersurat tulisan Hindu. Di situ tertulis tahun 1286 tahun Jawa dan di batu bersurat di Pagaruyung tertulis tahun 1278 tahun Jawa jadinya tahun 1357 Masehi.” (h.26). Kemudian Aditiawarman menjadi sumando dengan memperisteri Tuan Gadis Jamilan yaitu anak dari adik Ninik Perpatih Nan Sabatang. Ninik Perpatih Nan Sabatang tidak langsung menjadikan Aditiawarman menjadi raja dan memerintah Luhak Nan Tigo supaya tidak ditakhlukkan Majapahit.

Beberapa waktu kemudian  Tuan Gadis  Jamilan hamil dan melahirkan. Karena takut dengan buaya ketika akan memandikan anak itu di pinggir sungai, raja memerintahkan untuk memagar pinggir sungai itu dengan ruyung. Maka sejak saat itu daerah tersebut dinamai “Pagaruyung” dan kemudian Aditiawarman menjadi rajanya.

Selain itu buku Tambo Minangkabau dan Adatnya ini juga menjelaskan perihal perkembangan Agama Islam di Minangkabau, adat istiadat, undang-undang pemelihara Minangkabau Negeri-negeri tua di Minangkabau hingga masa perang Kolonial.

A.Dt.Manjoindo juga menjelaskan bahwa Buku Tambo Minangkabau dan Adatnya tidaklah dapat dikatakan buku sejarah Negeri-negeri Minangkabau. Hal itu dikarenakan syarat-syarat untuk suatu sejarah tidak didapati di dalamnya, yaitu tidak terdapatnya tanggal dan tahun peristiwa. Tahun dan tanggal yang terdapat di dalamnya hanya tercatat ketika penjajah masuk ke Alam Minangkabau, bahkan di beberapa bagian merupakan sebuah dongeng karena bukan merupakan buah penyelidikan para ahli yang berpegang pada bukti-bukti seperti batu bersurat atau lain sebagainya. Bagi peminat sejarah khususnya sejarah Minangkabau, buku ini dirasa sangat perlu dibaca demi menambah pengetahuan terhadap budaya Minangkabau. (OS Koto/Res/11/04-2015)

Foto: https://mozaikminang.wordpress.com

Dibaca : 2.389 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi