Selasa, 28 April 2026   |   Arbia', 11 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.770
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



05 mei 2015 07:07

Islam dan Jawa: Dua Hubungan yang Tidak Dapat Dipisahkan

Judul Buku
:
Merumuskan Kembali Interelasi Islam-Jawa
Penulis
:
Ridin Sofwan, dkk.
Penerbit:
Gama Media dengan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang
Cetakan
:
April 20046
Tebal
:

xxiv + 232 hlm.

Ukuran
:
14 x 20,5 cm. 

Kebudayaan Jawa yang kita temui pada masa ini, merupakan hasil dari wujud akulturasi agama Islam dengan budaya Jawa yang sudah terpengaruh agama-agama sebelumnya, seperti Hindhu-Budha dan animisme-dinamisme. Dalam wacana kepustakaan antropologi terdapat beberapa sumber bacaan yang berisi kebudayaan Jawa dan religinya. Salah satu yang paling digunakan ialah tulisan dari Clifford Geertz berjudul The Religion of Java. Senada dengan pendapat Prof. Abdurrahman Mas’ud. Buku yang digagas oleh Ridin Sofwan dan kawan-kawan ini merupakan suatu kritikan bagi Geertz akan apa yang ditulisnya terutama dikotomi masyarakat Jawa berdasarkan agamanya yaitu abangan, santri, dan priyayi. Dikotomi ini tentu memunculkan reaksi dari para antropolog yang lain, yang menilai bahwa priyayi itu tepatnya untuk status sosial orang Jawa dan dapat dibandingkan dengan wong cilik.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian bab. Berbagai tulisan dari berbagai ahli sesuai dengan empat tema pokok bahasan yang terdiri dari “interelasi Islam dan budaya Jawa”, “pesantren dan pewarisan budaya Jawa”, “tradisi upacara lingkaran hidup dan komunal”, dan “bahasa Jawa dan ajaran budi pekerti”.

Interelasi yang berarti suatu hubungan satu sama lain ini mengantarkan pembaca untuk melihat dan memahami kembali suatu pola hubungan kebudayaan yang unik antara konteks Islam dan budaya Jawa. Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa masyarakat dan budaya Jawa telah melewati berbagai tahapan fase sejarah religi dari animisme-dinamisme sampai fase Islam. Kehadiran agama Islam yang disebarkan oleh wali sanga (sembilan tokoh agama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa) diterima oleh masyarakat Jawa dengan akulturasi dalam berbagai aspek kebudayaan. Seperti dalam model kepemimpinan lokal, kyai pada pesantren-pesantren Jawa, mereka memiliki otoritas dan kesempatan untuk menggalang kekuatan dari para santrinya untuk mengembangkan agama bahkan politik. Dengan kata lain, posisi sebagai kyai ini sangat berpengaruh dalam konteks kehidupan sosial Jawa tradisional.

Meski dalam adat tradisi Jawa terkait life-cycle atau lingkaran hidup, seperti upacara kelahiran, perkawinan, hingga kematian terlihat kental pengaruh agama-agama sebelum Islam. Buku ini juga memberi contoh pada tradisi itu, yaitu upacara tedak siten. Simbol dominan dalam ritual tersebut banyak dipengaruhi oleh Islam seperti unsur tumpeng yang mirip dengan tumpeng gunungan keraton saat grebeg mulud. Tumpeng gunungan yang merupakan miniatur dari gunung Merapi ini merupakan simbol pengharapan keselamatan di dunia dan di alam akhirat.

Juga simbol instrumental yang terdapat dalam tedak siten yaitu juwadah(makanan tradisional Jawa) sebanyak lima macam warna. Menurut Misbah Zulfa, lima macam warna ini merupakan simbol dari lima macam nafsu yang dikenal dalam budaya Jawa, yaitu nafsu, amarah, lawwamah, sufiyah, dan mutmainnah. Konsep nafsu dalam budaya Jawa ini sangat kental dipengaruhi oleh ajaran Islam. Pada upacara sekaten pun, sarat akan nilai-nilai Islam. Puncak prosesi sekaten yang digelar oleh pihak keraton-keraton di Jawa adalah pada pengikraran, pembenaran, atau kesaksian bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah.

Satu hal yang menarik dan patut dijadikan wawasan adalah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam Jawa telah menciptakan karya-karya sastra Jawa. Di dalam sastra ini terdapat unggah-ungguh bahasa Jawa yang mencerminkan tata krama atau sopan santun bagi penutur berdasarkan status sosial dan usia. Naskah-naskah sastra Jawa berisi berbagai rekaman kebudayaan pada masa silam yang mengandung nilai sejarah, buah pikiran, ajaran budi pekerti, nasehat, hiburan, pantangan, dan lain sebagainya.

Para pujangga keraton yang menuliskan isi naskah sastra Jawa banyak merefleksikan nilai-nilai agama Islam pada karyanya seperti pada teks Serat Wulangreh. Sastra keraton ini banyak dipengaruhi oleh Hindu-Budha namun karena banyak masuknya sastra pesantren ke dalam lingkungan kerajaan Jawa maka isi karya sastranya terdapat nilai-nilai Islam di dalamnya.

Buku ini dapat dijadikan bahan referensi bagi para pembaca yang memiliki minat pada wacana etnografi Jawa khususnya religi orang Jawa. Pengetahuan budaya yang terkandung pada nilai budaya Jawa dan Islam dapat menjadi acuan merevitalisasi nilai-nilai tradisi kebudayaan Jawa tanpa harus memisah-misahkan atau melepaskan hubungan antara Jawa dengan Islam sebagaimana yang marak terjadi saat ini untuk kepentingan tertentu. Akulturasi yang damai antara kultur Jawa dengan Islam ini mencerminkan keluwesan dan keterbukaan masyarakat Jawa dan budaya Jawa. (Adwi/Res/10/05-2015).

Dibaca : 1.635 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi