Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 136
Hari ini : 7.926
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



09 mei 2015 07:07

Mengangkat Batang Terendam, Sebuah Kumpulan Etnografi Sunda



Judul Buku
:
Tulak Bala: Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda
Penulis
:
Edi S. Ekadjati, dkk..
Penerbit:
Yayasan Pusat Studi Sunda
Cetakan
:
I, 2003
Tebal
:

210 hlm.




Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa artikel yang ditulis oleh para ahli sejarah dan budaya Sunda. Diawali dengan sejarah tradisi tulak bala yang pernah berlaku pada masyarakat Sunda di kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Di tanah Pasundan, atau sekarang mencakup wilayah Jawa Barat, pada tahun 1950an pernah terusik oleh gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo atau yang lebih dikenal sebagai DI/TII. Wilayah pedalaman Jawa Barat dan juga Banten dijadikan basis gerakan ini. Akibatnya masyarakat desa merasa terganggu karena sering terjadi huru-hara dan pembunuhan.

Kasus yang diangkat oleh Ekadjati ini mengenai berbagai upaya yang bersifat khas dan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat desa Karangtawang, Kuningan di bawah pimpinan kepala desanya. Saat terjadi kekosongan kekuasaan Republik Indonesia di Jawa Barat pasca Persetujuan Renville tahun 1948, Kartosuwiryo dan kawan-kawan menjadikan wilayah ini sebagai upaya mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) sehingga menimbulkan konflik senjata antara TNI dengan NII.

Desa Karangtawang merupakan desa yang tidak tersentuh oleh kerusuhan karena konflik tersebut. Desa ini aman dari kekacauan yang lazim terjadi di Jawa Barat pada masa itu. Ini dikarenakan adanya cara tradisional hasil dari local genius masyarakat Sunda yaitu Hajat Tutulak. Upaya warga desa Karangtawang yang bersifat tradisional-spiritual ini, di lakukan oleh kuwu (kepala desa) dan rakyat desa. Upaya-upaya yang dimaksud adalah menyelenggarakan upacara selamatan (Hajat Tutulak), menggunakan makhluk halus, kitab suci Al-Quran, dan mengadakan doa bersama. Pasca gerakan NII ditumpas habis, kegiatan ini tak pernah dilakukan lagi. Tulisan yang ditulis Ekadjati ini masih bersifat deskriptif dan lebih dominan membahas sejarah gerakan NII di Jawa Barat.

Peran generasi muda Sunda pada awal kemerdekan Indonesia diangkat oleh Ajip Rosidi. Beliau banyak memaparkan cukup rinci dari awal pembentukan Kongres Pemuda Sunda, kiprahnya, dan organisasi ke-Sunda-an lainnya. Pada tulisannya, menguak bagaimana usaha para pemuda Sunda yang tergabung dalam organisasi kesukuannya supaya kebudayaan Sunda dapat terus eksis pada masa awal kemerdekan, selain perjuangan pergerakan kemerdekaan. Karena pada masa itu budaya Jawa nampak begitu dominan dalam tampilan budaya nasional.

Satu hal yang menarik dari buku ini adalah artikel yang ditulis oleh Robert Wessing dan Bart Barendregt mengenai orang Baduy di wilayah Banten. Mereka mengurai sosok Baduy atau orang Baduy menyebut diri mereka urang Kanekes. Dengan disertai berbagai ulasan etnografis dari orang Eropa yang pernah berkunjung ke wilayah ini, berbagai pandangan nasional, dan orang Sunda lainnya terhadap komunitas-komunitas yang masih memegang teguh ajaran lama atau Sunda Wiwitan.

Berikutnya, setengah dari buku ini, menguraikan mengenai karya-karya sastra Sunda lama hingga modern. Berbagai kritik sastra daerah Sunda kontemporer bakal menambah pengetahuan kita akan sastra Sunda yang perlu diangkat ke masyarakat umum. Berbagai kisah sejarah religi pada masa Sunda pra-Islam dari naskah Sewakadarma, Sanghyang Siksa: Kanda ng Karesyan dan naskah lainnya memberi pemahaman bagi kita bahwa pada masa itu masyarakat Sunda telah mampu mengasimilasikan agama pribumi dengan agama Hindu dan Budha. Lebih dari itu, pembaca juga dapat mengetahui bagaimana konsep dewa atau tuhan pada masyarakat Sunda sebelum masa Islam.

Buku yang termasuk seri Sundalana yang merupakan bentuk publikasi Pusat Studi Sunda (PSS) dapat menjadi bahan bacaan dan referensi untuk menghasilkan penelitian dan pemikiran berbagai aspek kesundaan lainnya. Dengan gaya pembahasan yang ringkas dan deskriptif, mudah dipahami oleh masyarakat umum untuk mengenal dan mengetahui masyarakat Sunda dan kebudayaan Sunda. Namun, berbagai analisis yang mendalam dan kritis dari fenomena Sunda perlu diterapkan pada tulisan-tulisan ini. (Adwi/Res/11/05-15)

Dibaca : 1.180 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi