Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 136
Hari ini : 7.926
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



19 mei 2015 07:07

Khazanah Melayu – Jawa, Sebuah Jembatan Pemikiran Budaya

Judul Buku
:
Kreativiti Minda Melayu-Jawa dalam Khazanah Bahasa, Sastera dan Budaya
Penulis
:
Noriah Mohamed, dkk.
Penerbit:
Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia
Cetakan
:
Pertama, 2009
Tebal
:

vii+329


Buku ini berupa berbagai kumpulan tulisan ilmiah mengenai bahasa, sastra, dan budaya dari dua kebudayaan besar, yaitu Melayu dan Jawa. Buku ini digagas atas kerjasama institusi pendidikan di dua negara, masing-masing Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sebelas Maret di Indonesia dengan Universiti Kebangsaan Malaysia dan Institut Alam dan Tamadun Melayu di Malaysia. Para penulis artikel di dalam buku ini merupakan para ahli di bidangnya di empat instansi keilmuan ternama tersebut.

Secara holistik, para ahli atau ilmuwan dalam tulisan ini tidak hanya menuliskan deskriptif atas sebuah wacana etnografis dari topik bahasa, sastra, dan budaya Melayu dan Jawa, tetapi juga menganalisis dan menafsirkannya. Tulisan-tulisan pada buku ini membatasi diri pada konteks bahasa, sastra, dan budaya (tradisi) masyarakat Melayu dan Jawa. Melalui penulisan ilmiah mengenai bahasa dan sastra diharapkan pembaca akan memahami dan mengerti pola pikir masing-masing pemeluknya.

Buku ini diawali oleh tulisan Marsono mengenai deskripsi bahasa Jawa dari segi diakronis dan wilayah penyebarannya. Melalui pendekatan sejarah bahasa, fungsi, dan kedudukan bahasa Jawa dari masa ke masa memberi pengetahuan akan hubungan dan perubahan bahasa. Kemudian dalam komunikasi lisan orang Jawa mengandung pemahaman akan metapesan yang terkandung di dalamnya. Tindak tutur dalam bahasa Jawa ini mempunyai makna akan pola pikir dan relasi sosial masyarakat, demikian Partana menulis artikelnya.

Terkait pola pikir dan sikap budaya masyarakat Jawa, dalam ranah sastra, diangkat dalam artikel yang ditulis oleh Imam Sutardjo. Budaya masyarakat tidak hanya direfleksikan dalam tutur bahasa saja, seni sastra Jawa klasik pun menyimpan keluhuran budaya yang luar biasa. Beliau mengangkat sastra kapujanggan, sebuah karya sastra yang ditulis/digubah oleh raja atau punjangga yang berisi ajaran moral dan tata cara kehidupan. Pada tempo dulu, para raja dan pujangga menggunakan media sastra sebagai pembinaan berbagai pranata kehidupan, seperti pendidikan, agama, dan sosial. Serat Wulang Reh adalah salah satu karya sastra Jawa klasik yang banyak mengandung ajaran-ajaran hidup orang Jawa pada masa itu, bukan saja tentang jalinan hubungan personal dan sosial, tetapi juga jalinan kultural.

Relasi-relasi kultural tidak hanya terjalin dari komunikasi sosial sehari-hari, tetapi dalam karya sastra Jawa representasi komunikasi inter-kultural itu. Hikayat Sri Rama dalam khazanah sastra Melayu merupakan contoh dari relasi kultural dengan sastra Jawa kuna (Hindu-Budha), yaitu Ramayana. Ada beberapa artikel lainnya mengenai kultur pemikiran Jawa lainnya yang “tersimpan” dalam sastra, seperti peranan perempuan Jawa. Dengan mengupas karya Pramoedya, beliau ingin mengubah paradigma masyarakat mengenai stereotip wanita Jawa.

Pada kajian bahasa dan sastra Melayu, ini justru banyak terfokus pada sastra dan tradisi budaya. Satu artikel yang memuat mengenai karya sastra Melayu berjudul Pak Kaduk. Pada cerita ini, tokoh Pak Kaduk dianggap sebagai refleksi dan representasi dari sifat-perilaku orang Melayu. Cerita jenaka ini juga turut memberikan gambaran pada pembaca akan tradisi Melayu berupa kenduri sebagai bagian dari tradisi kehidupan bermasyarakat dan keakraban. Secara terstruktur, artikel ini juga mengungkapkan perilaku yang tidak sesuai dengan “ideal kultur” orang Melayu seperti aksi menyabung ayam yang juga ada pada realitas sosial orang Melayu.

Pada aspek religi orang Melayu diangkat dalam konteks kemantraan. Melalui sebuah novel Mantra Pejinak Ular ini mengungkapkan secara fiksi bahwa di alam Melayu terdapat keyakinan akan kekuatan mantera untuk mengendalikan alam sekitar. Hal ini merupakan hasil dari interaksi manusia terhadap alam lingkungan sekitarnya. Selanjutnya, terkait interaksi orang Melayu dengan lingkungannya terutama lingkungan sosialnya, dianalisis oleh Ahimsa-Putra melaui budi. Budi ini merupakan roh pertukaran untuk menjaga hubungan sosial dengan orang di sekitarnya. Budi dalam budaya Melayu dimaknai sebagai kumpulan nilai yang mengatur perilaku dan hubungan orang Melayu baik sesama etnisnya maupun dengan yang lain. Buku ini diakhiri oleh artikel yang ditulis oleh Mahyudin Al Mudra mengenai pembahasan upaya pendefinisian kembali dari “Melayu” itu sendiri dari konteks sejarah dan kekinian. Redefinisi ini menengahi berbagai pandangan/paradigma yang berbeda yaitu holistik dan eksklusif.

Dari berbagai tulisan pada buku ini dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman pada kita bahwa dalam sastra, bahasa, dan budaya tradisi terdapat pola-pola kebudayaan yang menarik dikaji. Aspek-aspek kebudayaan manusia ini dapat dianalisis dan ditafsirkan melalui tulisan-tulisan karya sastra. Ide-ide pemikiran sastrawan atas sebuah fenomena sosial budaya Melayu dan Jawa menambah referensi  pengetahuan etnografis. Pembaca dapat membandingkan apa yang ada dalam fenomena bahasa dan sastra untuk direfleksikan atas realitas kultur Melayu dan Jawa saat ini. (Adwi/Res/12/05-2015).

Dibaca : 1.124 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi