20 mei 2015 07:07
Kreativitas Pemikiran Melayu – Jawa menuju Kesepahaman Budaya
Judul Buku
| : | Kreativiti Minda Melayu-Jawa 2 dalam Khazanah Bahasa, Sastra, dan Budaya |
Penulis
| : | Noriah Mohammed, dkk. |
| Penerbit | :
| Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia |
Cetakan
| :
| Pertama, 2010 |
Tebal
| :
| vii+260 hlm. |
Ukuran
| :
| 23 cm. ˣ 15 cm.
|
Seperti pada buku sebelumnya, buku yang berisi pemikiran dari berbagai ahli di Malaysia dan Indonesia ini memperkaya bahan referensi tentang kebudayaan. Selain itu, buku ini juga mengungkap nilai-nilai budaya yang luhur yang ada dalam pemikiran (mind) masyarakat budaya Melayu dan Jawa, dimana kedua budaya ini merupakan rumpun budaya Austronesia. Sebagaimana pada buku sebelumnya, buku Kreativiti Minda Melayu-Jawa 2 ini juga mengangkat isu bahasa, sastra, dan budaya, namun pada buku ini isu sastra dan budaya diketengahkan oleh para pemakalah dari tiga universitas dan tiga makalah yang mengambil tema bahasa.
Pertama, pada isu-isu bahasa, Sudarno menulis makalah mengenai sejarah peranan bahasa Melayu dalam ranah nasional Indonesia. Sejarah peranan itu dilihat dari perkembangan pendidikan dan pengajaran yang semakin maju di Indonesia. Perkembangan pendidikan ini tidak terlepas dari bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar yang memiliki sifat egaliter sehingga cocok digunakan pada kongres-kongres organisasi pergerakan nasional. Dengan demikian bahasa Melayu ini menjadi salah satu “bahan” untuk mempersatukan Indonesia.
Bahasa bukanlah sebuah ruangan yang hampa nilai. Dalam bahasa pun tersimpan nilai-nilai moral yang baik. Hendrokumoro menulis makalah mengenai etika berbahasa pada masyarakat budaya Jawa. Komunikasi bahasa tidak hanya berisi penyampaian informasi, tetapi di dalamnya terdapat gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang. Ekspresi penyampaian itu, oleh orang Jawa, perlu diterapkan etika dan moral supaya teratur proses penyampaian komunikasi bahasa dalam mewujudkan hubungan yang harmonis. Hal tersebut dijelaskan oleh Hendrokumoro melalui ungkapan-ungkapan tradisional Jawa yang terdapat tuntunan untuk menjaga etika dan moral berbahasa.
Selanjutnya, masih dalam konteks bahasa Jawa, Partana menulis tentang struktur percakapan bahasa Jawa. Berdasarkan analisisnya, struktur percakapan bahasa Jawa ini sangat dipengaruhi oleh stratifikasi sosial yang diwujudkan dalam tingkat tutur. Pada tingkat tutur ini pemilihan leksikon dan penanda morfologi menjadi perhatian masyarakat Jawa dalam berkomunikasi.
Kedua, pada ranah budaya. Rochani Adi mengambil isu mengenai studi Jawa yang cukup penting untuk dikembangkan. Budaya Jawa juga budaya-budaya yang lain perlu dikaji bersama supaya dapat selaras dan harmoni dengan budaya populer yang pada masa kini telah berkembang pesat di tengah masyarakat. Sastra dan bahasa Jawa yang berkembang kini menghadapi tantangan dalam hal pengajaran dan pembelajaran.
Dihadapkan pada budaya mutakhir, budaya Melayu juga mengalami masalah yang signifikan. Makalah yang ditulis oleh Aris Arif Mundayat mengenai dunia Melayu di masa modern memberikan pandangan tentang itu. Dia mengulas tentang identitas Melayu saat ini yang cenderung mengalami perubahan makna karena berbagai faktor, seperti perbedaan geografi-politis. Makalah tersebut menarik karena penyajiannya ini seakan menengahi persoalan antara Indonesia dengan Malaysia yang pernah tegang.
Makalah budaya lainnya yang juga menarik adalah mengenai kesenian Keroncong Jawa yang ditulis oleh Hardjoprawiro. Makalahnya ini memberikan pengetahuan bagi pembaca bahwa seni suara dan musik Jawa pun dapat menerima pengaruh seni musik dari luar budayanya. Sifat keharmonisan dan kelenturan seni Jawa ini beliau masukkan dalam wacana Keroncong Jawa. Misalnya pada penerapan tembang bawa (pembuka) berupa tembang gedhe Puspanjala yang mengantarkan sebuah lagu keroncong Jawa. Kekhasan lain pada keroncong Jawa adalah langgam dan jenis lagu stambul dua dengan lirik Jawa tidak pernah ditampilkan. Masih berkaitan dengan seni tradisi lisan, wayang Jékdong dalam tradisi masyarakat Jawa Timur diangkat dengan pembahasan startegi tata kelolanya.
Berbicara isu sastra Melayu dan Jawa tidak kalah berbobot dengan buku bagian pertama. Banyak dari makalah sastra pada buku ini lebih mengarah pada teks Melayu-Jawa seperti Sastra Babad, Hikayat Hang Tuah, Serat Aji Pamasa, dan teks ‘Sh-Shidiqi Li Daf’l ‘Z-Zindiq. Tokoh sastrawan Jawa terkenal seperti Ranggawarsita dikemukakan dalam segi ajaran kepemimpinan Jawa dalam Serta Aji Pamasa. Selanjutnya, watak Semar dalam Hikayat Agung Sakti turut dijelaskan guna melihat arah pemikiran Jawa.
Perlu ditambahkan, bahwa buku ini tidak hanya membahas dan menganalisis karya-karya sastra klasik lama tetapi juga karya sastra modern yang ditulis oleh S.M Zakir, Isa Kumari, dan Andrea Hirata. Bagi para peminat atau pengamat bahasa, sastra, budaya Melayu dan Jawa, buku ini dapat dijadikan bahan bacaan yang berkualitas dengan tetap memperhatikan kaidah ilmiah, termasuk objektifitas dan analisis. (Adwi/Res/13/05-15)
Dibaca : 1.071 kali.