Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.237
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



01 juni 2015 07:07

Busana Melayu Serumpun

Judul Buku
:
Busana Melayu Serumpun
Penulis
:
Abdul Latiff Abu Bakar & Mohd. Nefi Imran
Penerbit:
Institut Seni Malaysia Melaka
Cetakan
:
Pertama, 2004
Tebal
:

VII + 151 Halaman

Ukuran
:
14 X 21,5 cm.

Buku ini disusun dengan menggabungkan delapan buah artikel busana penari dan busana pengantin Melayu yang ditulis oleh peneliti budaya,  baik dari Malaysia maupun Indonesia. Keberagaman etnik yang ada telah membuat perbedaan busana masyarakat Melayu sesuai dengan jati diri kebudayaannya masing-masing.

Prof. Dr. Siti Zainon Ismail menjelaskan bahwa pakaian dan perhiasan merupakan unsur pelengkap struktur tarian di Selangor. Hal itu ditinjau dari sudut sejarah dan sosial budaya pada abad ke-14 sampai abad ke-19 (Kesultanan Melayu Melaka dan Kesultanan Melayu johor) sebagai priode penelitian. Sementara itu Mohd. Nefi Imran menjadikan busana penari pada Festival Tari Kebangsaan Malaysia sebagai bahan kajian dan mengkhususkan pada perhiasan yang dikenakan oleh penari.

Ibnu Hajar Emha menggambarkan estetika warisan pulau Bangka yang masih memiliki keterkaitan dengan tradisi pakaian masyarakat Melayu di zaman kesultanan Johor. Begitu juga dengan pakaian adat masyarakat Melayu Jambi khususnya di daerah Bunga Tebo yang banyak dipengaruhi oleh pakaian zaman kesultanan Melayu Melaka. Penjelasan tersebut dijelaskan oleh seorang budayawan Jambi yang bernama Riswani.

Drs. Mohd. Nefi Imran juga memaparkan mengenai busana masyarakat Minangkabau yang dipenuhi dengan nilai filosofi dan estetikanya. Menurut Nefi baju kurung Minangkabau sangatlah populer di kalangan masyarakat Melayu baik di Indonesia maupun masyarakat Melayu di Malaysia. Sedangkan budayawan Minangkabau lainnya Hj. Shahlinar Udin juga mengemukakan hal sedemikian.

Semantara itu busana dari Palembang dipaparkan oleh Mirza Indah Wati. Ia menjelaskan mengenai busana pengantin adat Palembang dan A. Muin Ikram menjelaskan pakaian adat Melayu Kalimantan Barat.  Di samping itu, juga memuat tulisan mengenai pakaian adat datuk penghulu dan pakaian adat bundo kanduang melalui ungkapan puisi dengan menggunakan dialek Minangkabau (Sumatera Barat). Dan masih banyak penjelasan terkait busana Melayu Serumpun yang ditulis dalam buku ini.  Walaupun tidak mencangkupi seluruh busana Melayu yang ada, tentunya buku ini dapat bermanfaat bagai ilmu pengetahuan khususnya mengenai busana adat Melayu serumpun. (OS Koto/Res/23/04-2015)

Dibaca : 942 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi