20 agustus 2015 07:07
Menguak Misteri Sejarah Kota Barus dalam Lobu Tua
Judul Buku
| : | Lobu Tua, Sejarah Awal Barus |
Penulis
| : | Claude Guillot dkk. |
| Penerbit | :
| Yayasan Obor Indonesia |
Cetakan
| :
| Pertama, 2002 |
Tebal
| :
| vi + 281 Halaman |
Ukuran
| :
| 18 cm x 27,5 cm. |
Di tengah hamparan luas wilayah Indonesia, Barus adalah sebuah titik kecil yang tak terlihat dalam sebuah peta. Barus, kini adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Indonesia. Penduduknya keturunan Melayu dan Batak dengan mayoritas beragama Islam. Di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya pun ia nyaris tak dikenal kecuali oleh kalangan tertentu; kaum intektual, akademisi, atau orang-orang yang memiliki hubungan khusus dengan daerah tersebut. Sekalipun demikian, keberadaan Barus di masa lalu, kini bak sebuah misteri yang mampu membuat penasaran ilmuwan dunia, lintas disiplin.
Buku ini merupakan salah satu upaya membuka misteri Barus dari berbagai sisi dengan pendekatan multidispliner. Diperlukan tidak saja aspek arkeologi, tetapi juga epigrafi, antroplogi, sejarah, dan kajian tentang benda-benda kuno yang banyak ditemukan di lokasi ini untuk menguaknya. Dan, Lobu Tua, yang menjadi titik sentral penelitian ini, adalah sebuah situs pemukiman kuno yang pernah ditemukan di dalamnya ribuan bukti sejarah, berasal dari berbagai negara dunia, yang sangat berharga. Benda-benda tersebut di antaranya mata uang emas dan perak, prasasti-prasasti, fragmen arca, tembikar, keramik, kaca, dan lain sebagainya.
Sebagai daerah yang masuk dalam golongan kota tua, yang diperkirakan telah menjadi pemukiman/kota sejak abad ke-6 masehi, segala aspek yang ada di Barus patut diteliti dan ditelaah untuk mengetahui rahasia yang ada di dalamnya.
Rumitnya sejarah kuno Barus, memaksa buku yang sejatinya merupakan hasil penelitian arkelogi ini, menyertakan sumbangan dari berbagai keahlian. Pembahasan pertamanya berisi teks prasasti berbahasa Tamil, catatan perjalanan maritim di laut Cina berbahasa Armenia yang memberikan informasi tentang hubungan Timur Tengah dan Timur Jauh pada saai itu, serta sumber Cina lama dari Dinasti Tang sampai Dinasti Ming berkaitan dengan Barus.
Pembahasan mengenai benda-benda temuan diawali dengan pemaparan tentang perbandingan antara keramik cina dari Barus dan dari Timur Dekat, kemudian tentang tembikar berslip dan kaca yang ditemukan di Lobu Tua.
Hasil penelitian tentang kamper dan kemenyan yang menjadi sumber kekayaan Barus tempo dulu dan yang membuat Barus dikenal di Asia sejak abad ke 6 termuat dalam bab terakhir. Nouha Stephan, Esther Katz, dan Mariana Goloubinoff membahas tentang kamper di Timur tengah serta kemenyan di Sumatra Utara dan Jawa.
Dengan diterbitkannya buku ini, setidaknya langkah awal upaya memecahkan rahasia Barus akan memberikan hasil yang baik dan bisa memancing lebih banyak perhatian demi melakukan penelitian di daerah tersebut. Bila ada kelemahan dalam buku ini, sebagaimana yang diakui oleh Claude Guillot adalah masalah klasik dalam sebuah kumpulan artikel, yaitu koherensi. Lepas dari itu, kekayaan data yang disajikan dapat menjadi referensi dan bahan acuan untuk melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut, dan, tentu saja, bermanfaat bagi pengayaan ilmu pengetahuan. (OS Koto/Res/53/08-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Dibaca : 1.439 kali.