26 agustus 2015 07:07
Diaspora Melayu Australia, Jati Diri Tegak Terjaga
Judul Buku
| : | Rumpun Melayu Australia Barat |
Penulis
| : | Wan Hashim Wan Teh dan A. Halim Ali |
| Penerbit | :
| Universiti Kebangsaan Malaysia |
Cetakan
| :
| Pertama, 1999 |
Tebal
| :
| 108 Halaman |
Ukuran
| :
| 18 cm x 25 cm. |
Buku ini menjelaskan latar belakang kehidupan orang-orang Melayu yang berada di Australai bagian barat, tepatnya di pulau Cocos dan pulau Krismas. Pulau yang terletak jauh di tengah Samudra Hindia ini banyak memiliki keunikan dan kekhasan.
Dihuni oleh imigran sejak tahun 1826 yang mayoritas dari kawasan Indonesia dan Malaysia seperti Jawa, Kalimantan, Sumatera, Malaka, Pulau Pinang dan pulau lainnya, serta sebagian kecil dari keturunan Cina dan India. Mereka bertutur bahasa Melayu dan beragama Islam (halaman 21). Latar belakang budaya yang berbeda-beda, sangat memungkinkan terjadinya akulturasi budaya dengan menghasilkan kebudayaan Melayu baru.
Terbatasnya wilayah geografis serta perkembangan ekonomi yang tidak memberikan harapan jaminan hidup di masa depan bagi generasi mendatang membuat penghuni pulau ini terpaksa mencari alternatif baru dengan melakukan eksodus pada 1975 ke kawasan ‘putih’ Australia, seperti Perth, Katanning, South Hedland, dan wilayah lain Australia.
Pengekalan terhadap aspek budaya daerah asal menjadi pertaruhan setiap seseorang atau kelompok sosial tertentu melakukan perpindahan tempat tinggal agar tetap terpelihara dengan baik demi sebuah pelestarian budaya dan tradisi sehingga identitas diri tetap bisa dikenali oleh generasi berikutnya.
Di tempat baru inilah pertarungan budaya yang sesungguhnya akan berlangsung bagi rumpun Melayu ini. Mereka yang minoritas melebur diri dalam kerangka sosial yang global, dengan bermacam corak budaya yang sama sekali berbeda. Menurut Robert E. Park dalam teorinya tentang siklus hubungan antar ras (race relations cycle), mengatakan bahwa interaksi antara kelompok minoritas dengan kelompok dominan yang berlainan budaya, akan menghasilkan asimilasi atau peleburan kelompok minoritas pada kelompok sosial mayoritas. Sungguhkan teori itu akan menjadi kenyataan? Tentu proses ini akan menarik untuk dikaji.
Buku ini sedikitnya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan berbagai gambaran otentik tentang bangsa Melayu di Australia Barat ini. Mulai dari latar belakang kehidupan mereka di pulau Cocos, kondisi ekonomi, keyakinan dan agama, serta adat istiadat mereka. Bagaimana pula kehidupan mereka setelah ‘hijrah’ dari pulau terpencil itu ke tengah berbagai kota dengan peradaban yang berbeda. Faktanya, berbagai budaya leluhur masih tetap hidup di lingkungan mereka yang baru. Bahkan seni dan budaya mereka menjadi daya tarik unik, seperti rebana, kompang, adat perkawinan, cara berpakaian, serta olahraga bersampan.
Bangsa Melayu telah membuktikan, di mana pun mereka tinggal, sekalipun jauh dari wilayah asal, baik di Benua Asia, Eropa, Afrika, maupun Australia, sungguhpun telah berintegrasi dengan penduduk setempat, jati diri Melayu tetap ditegakkan.
Buku berbahasa Melayu Malaysia yang diperkaya dengan gambar dan foto-foto berbagai aktifitas masyarakat terkait ini sangat penting menjadi bagian dari buku kajian tentang diaspora Melayu di berbagai belahan dunia. (OS Koto/Res/55/08-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Dibaca : 1.164 kali.