19 sepember 2015 07:07
Menjelajah Tamadun Melayu dalam Belantara Sejarah

Judul Buku
| : | Kitab Tamadun Melayu |
Penulis
| : | Helmy Effendy, dkk. |
| Penerbit | :
| TP ECO PES Solutions |
Cetakan
| :
| Pertama, 2015 |
Tebal
| :
| xxii+ 426 Halaman |
Ukuran
| :
| 14 cm x 21,5 cm. |
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari penulis-penulis yang terhimpun dalam The Patriot untuk membantu meluruskan kembali sejarah Melayu yang dianggap, oleh para penulis Malaysia ini, banyak mengandung kesimpangsiuran. Upaya ini diharapkan dapat memartabatkan kembali masa kejayaan peradaban bangsa Melayu. Di zaman yang sedang mengalami kemerosotan pengetahuan sejarah ini, diperlukan buku acuan demi membangkitkan rasa nasionalisme agar kejayaan suatu bangsa dapat tetap dipertahankan meskipun pengaruh asing silih berganti merasuki setiap generasi.
Sebagai bacaan sejarah Melayu, tulisan-tulisan di dalam buku ini dibuat ringan agar mudah difahami oleh pembaca. Sekalipun ringan, sebetulnya isi kandungannya tergolong isu-isu serius dalam percaturan sejarah di Nusantara, bahkan dalam beberapa hal bisa jadi muatannya bisa dianggap sebagai apologia sejarah dengan klaim kemelayuan yang sangat kental.
Memuat 52 bab yang setiap babnya berisi sebuah artikel dari seorang penulis, buku ini memiliki cakupan yang sangat luas. Sebagaimana pada umumnya buku sejarah Melayu, buku ini diawali dengan uraian tentang asal usul bangsa Melayu dan keragaman bahasanya, termasuk isu Austronesia.
Sejarah politik dan kekuasaan mendapat ruang pembahasan yang istimewa dengan mengeksplorasi kerajaan-kerajaan Melayu seperti Champa dan beberapa kesultanan di Malaysia, Brunei, dan Singapura, serta hubungannya dengan kerajaan-kerajaan besar dunia. Juga dibahas tentang kerajan Melayu yang dianggap terkelam dalam sejarah semisal kerajaan Sri Dharmaraja hingga kerajaan teragung seperti Sriwijaya. Sudah barang tentu, sosok pahlawan yang selalu menghiasi cerita-cerita epos Melayu, seorang kesatria bernama Hang Tuah, juga menjadi bahasan yang menarik. Dalam salah satu artikel ditegaskan bahwa nama Hang Tuah adalah nama khas Melayu, sebagaimana sebutan Tun, Wan, dan sebagainya. Hal ini diungkap karena adanya kecurigaan dari etnis China bahwa Hang Tuah adalah nama dan asli bangsa mereka, padahal Hang Tuah bukanlah China.
Anda pasti mengenal tori Trias Politika yang diagugkan sebagai asas sebuah negara demokrasi. Teori ini bahkan sudah dipraktekkan seabad sebelum kelahirannya dalam kehidupan bernegara ala Kerajaan Melayu Buton yang terletak di Sulawesi. Istilah Sara Pangka, Sara Gau, dan Sara Bhitara adalah persis padanan dari tiga serangkai yang dikenalkan oleh Montesquieu. Ini fakta tamadun Melayu yang juga diungkap dalam buku ini.
Selebihnya, ada juga pembahasan tentang busana Melayu dan penutup kepala khas Tanjak, juga tentang ilmu pengetahuan Sains dan matematika, serta banyak pembahasan lainnya. Dan satu lagi, barangkali ini isu baru yang bisa menjadi debatable topics, yakni tentang Candi Borobudur yang terdapat di Magelang Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, bahkan juga Candi Prambanan yang berada di Yogyakarta, oleh penulis salah satu artikel dalam buku ini diakui dibangun oleh orang-orang Melayu dan, karenanya, candi ini merupakan lambang kemegahan peradaban Melayu.
Kelemahan buku berbahasa Melayu Malaysia ini adalah tidak disusun dengan sistematika sebuah buku yang baik, penempatan artikel-artikel di dalamnya tidak maksimal sehingga mengurangi kenyamanan dan kenikmatan dalam mambacanya. Akan tetapi harus diakui, buku ini banyak memberikan informasi yang relatif baru dan tidak biasa dari kebanyakan buku sejarah lainnya, karena memang penerbitannya dimaksudkan sebagai upaya ‘meluruskan’ sejarah Melayu. Tak pelak, buku ini memiki manfaat yang tidak sedikit, karena mengandung belantara pengetahuan tentang Melayu dalam berbagai aspek yang perlu kita rambah.
Selamat menjelajah!
Editor: Agus Najib Afwan
Dibaca : 1.270 kali.