22 sepember 2015 07:07
Membaca Keagungan Tulisan Arab Melayu dari Tepian Sejarah
Judul Buku
| : | Sejarah Perkembangan Tulisan Jawi |
Penulis
| : | Hashim Musa |
| Penerbit | :
| Dewan Bahasa Dan Pustaka Kuala Lumpur |
Cetakan
| :
| Edisi Kedua, Cetakan Pertama, 2006 |
Tebal
| :
| xiii+ 304 Halaman |
Ukuran
| :
| 14 cm x 21,5 cm. |
Menurut salah seorang peneliti, ‘Jawi’ berasal dari kata ‘Al-Jawah’ yang pernah digunakan dalam catatan Arab yang tertulis sebelum pertengahan abad ke-14 Masehi. Menurutnya, istilah Al-Jawah digunakan orang Arab untuk menyebut tulisan berhuruf Arab yang digunakan orang Sumatera beragama Islam dan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa kesehariannya. Al-Jawah inilah yang kemudian kita kenal sebagai Tulisan Jawi, yang di Indonesia lebih populer dengan nama Tulisan Arab Melayu.
Oleh karena itu, kedatangan Islam di tanah Melayu sangat erat kaitannya dengan perkembangan tulisan Jawi, karena tulisan ini bersumber dan menggunakan tulisan/huruf Arab sebagai dasar tulisan Jawi. Sedangkan Arab sendiri, sebagaimana pemahaman khalayak umum, diasosiasikan identik dengan agama Islam. Inilah yang menjadi alasan bagi Hashim Musa meletakkan sejarah kedatangan agama Islam di tanah Melayu sebagai bab awal dalam buku ini, karena dianggap sebagai latar belakang lahirnya tulisan Jawi.
Kedatangan Islam tidak serta merta sebagai awal kemunculan tulisan Jawi, karena proses pembentukannya memakan rentang waktu cukup panjang. Apalagi penanda awal tulisan Jawi ini dihubungkan dengan sebuah penemuan Batu Bertulis di Terengganu (1303 M) dengan alasan format ejaannya yang telah memiliki sistem sendiri dan terlepas dari aturan struktur huruf Arab, terutama karena kemungkinan pengaruh ejaan dari bahasa sanskerta, yaitu keberadaan huruf vokal. Setelah itu kemudian dari abad ke abad hingga kini tulisan Arab Melayu terus berkembang dan memiliki aturan bakunya, bahkan, di sisi lain, mampu melahirkan seni indah kaligrafi tulisan Jawi. Dalam perkembangan tulisan Arab Melayu yang telah memimiliki strukur ejaan tersendiri itulah, dalam sejarahnya, tulisan Jawi pernah mengalami kesalahan ejaan. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi tentang bentuk-bentuk ejaan tulisan Arab Melayu yang benar.
Keberadaan tulisan Jawi di kawasan Melayu sebetulnya telah dijumpai sebelum Abad ke 13, di antaranya pada batu nisan seperti di Brunei pada tahun 1048 M, Leran 1062 M, Aceh 1297 M, dan pada lempengan uang koin di Kelantan pada tahun 1161 M. serta pada Batu Bertulis Terengganu bertahun 1303 M sebagaimana telah tersebut di atas. Seluruh tulisan ini telah menggunakan Tulisan Arab untuk mengeja bahasa Melayu.
Tulisan Jawi atau Arab Melayu di era kekinian memang mengalami kemunduran. Tentu banyak faktor sebagai penyebabnya. Tetapi, bentuk tulisan yang pernah mengawal sebuah peradaban tinggi di masa lalu dengan karya-karya hebat ini, selayaknya tidak mati di tengah penggunanya sendiri. Diakui atau tidak, militansi bangsa Melayu, dalam hal penulisan menggunakan abjad Arab Melayu, saat ini tidak berbading lurus dengan kegigihan mereka dalam memproklamirkan kebesaran sejarah tamadun Melayu. Tulisan Jawi harus diangkat dari tepian menuju marwah pusaran sejarahnya kembali.
Buku yang bagus ini sangat bermanfaat menggugah kita untuk mengkaji bahasa Melayu lebih dalam lagi dan memuliakan aksara-aksaranya sebagaimana mestinya, sehingga kita pantas disebut sebagai bangsa pengguna yang bermartabat. (OS Koto/Res/63/09-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Dibaca : 1.723 kali.