Senin, 8 Juni 2026   |   Tsulasa', 22 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.691
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



23 sepember 2015 07:07

Ragam Sejarah Aceh

Judul Buku
:
Ragam Sejarah Aceh
Penulis
:
Rusli Sufi & Agus Budi Wibowo
Penerbit:
Badan Perpustakaan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam
Cetakan
:
Pertama, 2004
Tebal
:
xxii+ 205 Halaman
Ukuran
:
14,5 cm x  21 cm.

Buku ini merupakan kumpulan artikel dan makalah yang membahas sejarah Aceh. Tulisan-tulisan yang dibukukan ini dimaksudkan untuk memudahkan para pembaca mengenal lebih jauh mengenai sejarah Aceh dari berbagai sudut pandang. Tulisan-tulisan tersebut sebelumnya pernah dimuat di media dan disampaikan pada acara-acara seminar yang mengangkat sejarah Aceh.

Sebagai salah satu provinsi yang memiliki keistimewaan tersendiri, sejarah Aceh dirasa sangat menarik. Setiap periode Aceh memiliki sejarah tersendiri hingga akhirnya menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbagai etnis yang dimiliki Aceh seperti etnis Aceh, Gayo, Alas Tamiang, Aneuk Jamee, Kluet, Simeulue, dan Singki juga menyimpan sejarahnya sendiri-sendiri, karena memang masyarakat Aceh memiliki sejarah perjuangan yang tak pernah usai untuk melawan kekuatan asing.

Selain bahasan tentang sejarah Aceh pada umumnya, seperti tentang kerajaannya yang termasyhur, perlawanan rakyatnya yang menentang penjajahan, dan kepahlawanan tokoh-tokohnya, buku ini juga menghadirkan sisi lain cerita perjuangan yang menunjukkan  jati diri orang Aceh, seperti perlawanan semesta yang ditunjukkan dengan cara membunuh tentara penjajah dengan cara khas yang disebut dengan istilah Aceh Pungo. Dan banyak lagi pernik kehidupan di Aceh yang akan pembaca dapatkan.

Salah satu yang juga menarik adalah mengenai Arsip VOC tentang Aceh yang memuat salinan arsip tentang perjanjian antara Sultan Ali Riayat Syah dengan Oliver Van Vivera yang mewakili VOC, pada tanggal 17 Januari 1907 yang ditulis menggunakan bahasa Belanda. Surat perjanjian tersebut awalnya dianggap sebagai kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, namun pada hakikatnya perjanjiaan tersebut hanya menguntungkan pihak Belanda. Sultan Iskandar Muda yang menjadi sultan Aceh menggantikan Sultan Ali Riayat Syah yang mangkat menyadari hal itu dan kemudian membatalkan secara sepihak perjanjian yang merugikan pihak Aceh tersebut.

Masa-masa perang melawan Portugis yang menguasai Malaka setelah berdirinya kesultanan Aceh juga memberi pemahaman mengenai sifat dan krakter Aceh dalam melawan pihak penjajah. Dengan tanpa melunakkan diri untuk berunding, kerajaan Aceh tetap kokoh untuk tidak melakukan kerja sama dengan pihak Portugis maupun dengan pihak penjajah yang kemudian menguasai kerajaan-kerajaan di kawasan Semenanjung maupun di Sumatera.

Buku ini bukanlah karya sejarah an sich, tetapi lebih memilih sudut puspa ragam sejarah yang mungkin kurang terekspos di buku-buku sejarah, atau bahkan memaparkan detail sejarah yang justru terdapat dalam alam tutur yang berkembang di masyarakat dengan bumbu heroik sejarah. Semua itu bisa dimaklumi terjadi dalam sebuah  kumpulan tulisan yang memang menyajikan informasi terpotong-potong, tidak runtut, dan lebih ke arah penafsiran penulis. Karena itu, fungsi buku ini juga terbatas pada pengayaan referensi sejarah dan pengetahuan yang bersifat sekunder. (OS Koto/Res/62/09-2015)

Editor: Agus Najib Afwan

Dibaca : 1.320 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi