Senin, 8 Juni 2026   |   Tsulasa', 22 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.719
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



06 oktober 2015 07:07

Budaya Melayu-Muslim dalam Pergulatan Sosial Politik Singapura



Judul Buku
:
Pergumulan Melayu-Muslim di Singapura
Penulis
:
Hendri Sayuti
Penerbit:
Alaf Riau
Cetakan
:
Pertama, 2003
Tebal
:
118 Halaman
Ukuran
:
15 cm x  21 cm.

Masyarakat Melayu Muslim yang hidup di Singapura tidak seperti saudara-saudaranya yang tinggal di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam yang menjalani hidup relatif lebih ‘nyaman’. Muslim Melayu Singapura, sebagai bangsa minoritas, memiliki kendala serius untuk mengembangkan diri secara leluasa, terutama dalam aspek politik-struktural. Sekalipun demikian, mereka tetap berjuang menunjukkan eksistensi mereka dengan berbagai cara, terutama melalui pendekatan kultural.

Secara historis, sebenarnya masyarakat Melayu Muslim di Singapura pernah berada dalam posisi mayoritas. Tetapi karena terdesak oleh migrasi besar-besaran etnis Cina yang masuk ke Singapura dan banyaknya orang-orang Melayu yang hijrah ke Semenanjung Malaya (kini Malaysia), kondisinya menjadi berbalik. Kini, bangsa Melayu tinggal sekitar 14% dari total keseluruhan warga Singapura yang mayoritas etnis Cina.

Terdiri dari beberapa bagian, buku ini menjelaskan sekilas sejarah awal Singapura hingga perkembangan terkini, termasuk beragam etnis dan agama yang berkembang serta sistem pemerintahannya. Tumbuh kembangnya Islam di Singapura dan keterkaitannya dengan etnis Melayu serta problematika mutakhir dan posisi Melayu-Islam dalam komposisi sosial budaya dan politik di Singapura menjadi bagian penting dalam buku ini. Dan terakhir, buku ini mengulas tentang pergulatan Melayu-Muslim antara identitas dan loyalitas dengan memanfaatkan berbagai asosiasinya sebagai instrumen dalam menjalankan strategi kulturalnya dalam rangka membangun hubungan dengan pemerintah dan masyarakat luas demi menatap masa depan.

Menurut salah satu cendikiawan muslim Singapura Djamal Tukimin, secara umum umat Islam di Singapura telah mendapatkan haknya sebagai warga negara, kecuali dalam masalah politik. Masyarakat Melayu-Muslim di Singapura sangat mengerti dengan kondisi sosio-politik Singapura, sehingga mereka mampu memposisikan dirinya yang minoritas secara kuantitatif ketika berhadapan dengan kebijakan pemerintah dan negara dengan tepat (h. 89).

Buku yang berasal dari tesis ini sangat bagus dan perlu dibaca untuk menambah wawasan kemelayuan di Asia Tenggara. Bagi cerdik cendikia buku ini sangat berharga sebagai referensi awal mengenai kajian minoritas Melayu-Muslim di Asia Tenggara, khususnya Singapura. (OS Koto/Res/66/09-2015)

Editor: Agus Najib Afwan

Dibaca : 1.237 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi