Senin, 8 Juni 2026   |   Tsulasa', 22 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.655
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



21 oktober 2015 07:07

Suara Hati dari Tepi Peradaban



Judul Buku
:
Sebuah Unggun di Tepi Danau: Puisi-puisi Pilihan
Editor
:
Muhammad Haji Salleh
Penerbit:
Dewan Pustaka dan Bahasa
Cetakan
:
Pertama, 1996
Tebal
:
xix + 259 Halaman
Ukuran
:
13,5 cm x  20,5 cm.

Buku ini merupakan kumpulan puisi pilihan sastrawan Malaysia Muhammad Haji Salleh dari puisi-puisi yang pernah diterbitkan secara terpisah dalam tujuh buah buku ditambah puisi-puisi terbaru saat beliau mengajar kajian Melayu di Leiden University. Puisi-puisi tersebut ditulis dalam berbagai kesempatan ketika sedang berada di tempat yang berbeda-beda. Sebagian besar di tulis di Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat.

Muhammad Haji Salleh sendiri sebagai seorang sastrawan pernah memperoleh anugerah tertinggi di negaranya sebagai Sasterawan Negara Malaysia pada tahu 1991. Anugerah ini sudah menjelaskan kedudukan tokoh ini dalam dunia sastra Melayu, khusunya Malaysia. Sastrawan yang sering berkunjung ke Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu ini sudah menghasilkan belasan buku sastra.

Sebagai orang Melayu, secara khusus ia menyuguhkan enambelas sajak-sajak sejarah Melayu dalam bukunya ini. Sungguh, sangat menawan rangkaian kata membentuk rima yang menyatu dalam larik-larik sajak yang beraroma cerita sejarah. Tanpa sadar, kita tengah asyik membaca sajak sambil menjumput hikmah dari belitan sejarah.

Puisi lain dari Salleh adalah kegelisahannya sebagai seorang sastrawan terhadap nasib kemanusiaan. Diskrimasi dan penjajahan yang melibas tidak hanya kebebasan manusia, sejarah, dan budayanya, tapi juga telah memberangus kepercayaan diri hingga tataran pemahaman teologis di alam fikirnya. Dan, ia tak peduli awam atau terpelajar. Tentu saja, sepenggal episode anak manusia ini bisa menjerat siapa saja. Lihatlah bagaimana orang kulit hitam di Amerika, misalnya, yang gagal memahami masa depannya dalam ‘orang di hujung’:

namun, walaupun terpelajar

dia masih rendah dari buruh putih

yang duduk yakin di tengah jemaah

 

di gereja dia tahu Tuhan itu putih

walau apapun kepercayaannya

 kulitnya tidak mungkin tanggal

dan dalam hidupnya dan menjadi saksi

Tuhan lebiih menyayangi si kulit putih

Suara hati, keteguhan, juga keluhan. Penderitaan, kekejaman, kebahagiaan, dan Cinta tersaji indah dan memiliki kekuatan makna dalam rangkaian kata. Mohammad Haji Salleh menunjukkan kelasnya dalam bersastra. Anda patut membaca buku ini untuk menghidupkan kembali ‘hati’ kita supaya tidak gagal sebagai manusia.

Dalam ‘doa’nya, Salleh juga setengah muak kepada kehidupan yang penuh kepalsuan sehingga sulit memahami manusia. Dia lebih memilih hidup bersama lembah, batu, dan lautan. Dia lebih ingin menyaksikan proses alam yang melahirkan ketenangan dari sekedar bualan atau perilaku manusia yang menyesakkan jiwa. Salleh lebih memilih malam dan bintang-bintang, pun beragam musim dan hewan yang mengiringi pergantiannya. Di sana masih sarat kejujuran, menjanjikan kehidupan sekalipun berada di tepi peradaban. (OS Koto/Res/69/10-2015)

Editor: Agus Najib Afwan

Dibaca : 1.061 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi