21 oktober 2015 07:07
Suara Hati dari Tepi Peradaban
Judul Buku
| : | Sebuah Unggun di Tepi Danau: Puisi-puisi Pilihan |
Editor
| : | Muhammad Haji Salleh |
| Penerbit | :
| Dewan Pustaka dan Bahasa |
Cetakan
| :
| Pertama, 1996 |
Tebal
| :
| xix + 259 Halaman |
Ukuran
| :
| 13,5 cm x 20,5 cm. |
Buku ini merupakan kumpulan puisi pilihan sastrawan Malaysia Muhammad Haji Salleh dari puisi-puisi yang pernah diterbitkan secara terpisah dalam tujuh buah buku ditambah puisi-puisi terbaru saat beliau mengajar kajian Melayu di Leiden University. Puisi-puisi tersebut ditulis dalam berbagai kesempatan ketika sedang berada di tempat yang berbeda-beda. Sebagian besar di tulis di Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat.
Muhammad Haji Salleh sendiri sebagai seorang sastrawan pernah memperoleh anugerah tertinggi di negaranya sebagai Sasterawan Negara Malaysia pada tahu 1991. Anugerah ini sudah menjelaskan kedudukan tokoh ini dalam dunia sastra Melayu, khusunya Malaysia. Sastrawan yang sering berkunjung ke Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu ini sudah menghasilkan belasan buku sastra.
Sebagai orang Melayu, secara khusus ia menyuguhkan enambelas sajak-sajak sejarah Melayu dalam bukunya ini. Sungguh, sangat menawan rangkaian kata membentuk rima yang menyatu dalam larik-larik sajak yang beraroma cerita sejarah. Tanpa sadar, kita tengah asyik membaca sajak sambil menjumput hikmah dari belitan sejarah.
Puisi lain dari Salleh adalah kegelisahannya sebagai seorang sastrawan terhadap nasib kemanusiaan. Diskrimasi dan penjajahan yang melibas tidak hanya kebebasan manusia, sejarah, dan budayanya, tapi juga telah memberangus kepercayaan diri hingga tataran pemahaman teologis di alam fikirnya. Dan, ia tak peduli awam atau terpelajar. Tentu saja, sepenggal episode anak manusia ini bisa menjerat siapa saja. Lihatlah bagaimana orang kulit hitam di Amerika, misalnya, yang gagal memahami masa depannya dalam ‘orang di hujung’:
namun, walaupun terpelajar
dia masih rendah dari buruh putih
yang duduk yakin di tengah jemaah
di gereja dia tahu Tuhan itu putih
walau apapun kepercayaannya
kulitnya tidak mungkin tanggal
dan dalam hidupnya dan menjadi saksi
Tuhan lebiih menyayangi si kulit putih
Suara hati, keteguhan, juga keluhan. Penderitaan, kekejaman, kebahagiaan, dan Cinta tersaji indah dan memiliki kekuatan makna dalam rangkaian kata. Mohammad Haji Salleh menunjukkan kelasnya dalam bersastra. Anda patut membaca buku ini untuk menghidupkan kembali ‘hati’ kita supaya tidak gagal sebagai manusia.
Dalam ‘doa’nya, Salleh juga setengah muak kepada kehidupan yang penuh kepalsuan sehingga sulit memahami manusia. Dia lebih memilih hidup bersama lembah, batu, dan lautan. Dia lebih ingin menyaksikan proses alam yang melahirkan ketenangan dari sekedar bualan atau perilaku manusia yang menyesakkan jiwa. Salleh lebih memilih malam dan bintang-bintang, pun beragam musim dan hewan yang mengiringi pergantiannya. Di sana masih sarat kejujuran, menjanjikan kehidupan sekalipun berada di tepi peradaban. (OS Koto/Res/69/10-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Dibaca : 1.061 kali.