23 november 2015 07:07
Kamus Bahasa Minang Lama
Judul Buku
| : | Kamoes Bahasa Minangkabau - Bahasa Melajoe Riau |
Editor
| : | M. Thaib gl. St. Pamoentjak |
| Penerbit | :
| Balai Poestaka, Batavia |
Cetakan
| :
| Pertama, 1935 |
Tebal
| :
| 271 Halaman |
Ukuran
| : | 19 cm x 26,5 cm. |
Buku ini merupakan kamus lama bahasa Minang yang dijelaskan dengan memakai bahasa Melayu Riau, diterbitkan pada tahun 1935 di Batavia (Jakarta) dengan ejaan lama bahasa Indonesia. Penyusunan kamus ini juga bertujuan untuk memudahkan pemahaman mengenai bahasa Minangkabau yang digunakan di seluruh sekolah negeri dan sekolah pemerintah di Sumatra Tengah.
Bahasa Minangkabau yang disusun dalam kamus ini merupakan kata-kata yang kerap digunakan di wilayah Sumatra Tengah. Mengapa bahasa penjelasnya memakai bahasa Melayu Riau? Besar kemungkinan hal ini terjadi karena bahasa Melayu Riau lebih akrab di telinga masyarakat dan lebih sering dipakai karena sudah menjadi lingua franca di wilayah setempat. Apatah lagi, semenjak tahun 1928 bahasa Melayu Riau secara resmi diproklamasikan sebagai bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia dan disebut sebagai Bahasa Indonesia oleh peserta Kongres Pemuda saat itu, yang kemudian masuk dalam salah satu poin dalam Sumpah Pemuda.
Galibnya pada sebuah kamus, dalam buku ini pun diberikan penjelasan cara penggunaan untuk memudahkan pemakai. Termasuk kode penjelasan tentang beberapa kata yang berasal dari daerah tertentu yang masih dalam cakupan wilayah Minangkabau. Misalnya, asal kata dari Bukit Tinggi, Sungai Puar, dan lain-lain.
Mengenai logat bahasa yang sangat beragam dalam penuturan bahasa Minangkabau, pengarang kamus ini tidak mau ambil resiko dengan mengeja dengan berbagai dialek. Menurunya, penulisat logat dengan begitu banyak varian merupakan sesuatu yang tidak mungkin dalam satu kamus, apalagi kalau mempertimbangkan kemampuan percetakan pada saat itu. Walhasil, kamus ini hanya menggunakan logat bahasa yang popular terpakai di perkotaan.
Penyusunan kamus ini juga sebagai upaya untuk memberikan pembelajaran bagi masyarakat Indoneia yang saat itu menggunakan bahasa Melayu Riau (Melayu Pasar) sebagai bahasa pengantar dalam berkomunikasi, bahwa bahasa daerah setempat, dalam hal ini bahasa Minang, juga sangat penting untuk dilestarikan dan dikembangkan di tengah masyarakat penggunanya, lebih-lebih dalam dunia pendidikan.
Kendati buku ini ditulis menggunakan ejaan bahasa Indonesia lama, pembaca tentu masih dapat memahami kata-kata dan maksud kalimat di dalamnya. Kamus ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan bahasa sekaligus sebagai saksi sejarah perkembangannya, dan tentu saja sebagai rujukan bagi penyusunan bahasa serupa di era sekarang. (Oki Koto/Res/77/11-2015)
Editor: Abu Tayyima
Dibaca : 1.271 kali.