Senin, 8 Juni 2026   |   Tsulasa', 22 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.616
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



26 november 2015 07:07

Sejarah Raja-raja Berau



Judul Buku
:
Sejarah Raja-raja Berau
Editor
:
H. Aji Rahmatsyah
Penerbit:
Yayasan Kesejahteraan Kerabat Kesultanan Gunung Tabur bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Berau
Cetakan
:
Pertama, 2010
Tebal
:
viii + 119 Halaman
Ukuran
:14,5 cm x  21,5 cm.

Berau (Berayu), yang kini berstatus sebagai Daerah Tingkat II Kabupaten dan masuk dalam wilayah Kalimantan Timur, pertama kali dihuni oleh Proto Malay (Melayu Tua) yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Suku Dayak. Suku inilah yang menjadi induk dari masyarakat Berau tersebut. Dayak sendiri bukanlah nama suku yang sebenarnya, karena istilah Dayak ini baru dikenal di zaman penjajahan Belanda (h. 3).

Di antara sub suku ini ada yang berkehidupan mapan dengan membentuk sebuah pemerintahan adat yang dipimpin oleh seorang Happocie (setingkat raja). Akan tetapi pemerintahan ini tidak sampai berujud menjadi sebuah kerajaan di Berau.

Selain Suku Dayak, ada orang Banua yang disebut sebagai penduduk Berau ‘dahulu kala’. Orang Banua ini ditengarai berasal dari Deutro Malay (Melayu Muda Sumatera) (h. 6) dan erat kaitannya dengan Kerajaan Sriwijaya yang tengah runtuh saat itu. Mereka inilah yang mendirikan Kerajaan Berau pada akhir abad ke XIII dan mengangkat Baddit Dipattung sebagai raja dengan gelar Aji Surya Nata Kesuma. Kerajaan Berau ini kemudian bergabung menjadi kerajaan ‘binaan’ Majapahit hingga awal abad ke XV.

Selain mengulas sepak terjang raja-rajanya, buku ini juga mengulas tentang Kerajaan Berau yang mengalami perpecahan menjadi dua kerajaan setelah adanya perselisihan tentang sistem pengangkatan raja yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Di antara dinamikanya pula, terdapat tonggak penting dalam Kerajaan Berau di saat hukum Islam mulai diadopsi dalam sistem hukum kerajaan. Berau juga mengalami masa perlawanan menghadapi Belanda dan jalinan hubungan dengan VOC, hingga akhirnya pada tahun 1834 Berau dikuasai sepenuhnya oleh penjajah Belanda.

Berbagai foto dan silsilah raja-raja Berau juga turut di muat di dalam buku ini. Silsilah tersebut meliputi silsilah raja-raja Berau, raja-raja Sambaliung, dan Raja-raja Gunung Tabur.

Problematika serius penulisan buku sejarah lokal adalah percampuran data sejarah dengan legenda dan cerita-cerita yang beredar di tengah-tengah tradisi lisan masyarakat dengan kekuatan fakta yang redup, apalagi sejarah tentang raja atau kerajaan. Buku ini pun tak terelak dari kecenderungan tersebut ditambah dengan masalah sistematika penulisan.

Dalam kondisi minimnya buku sejarah tentang Kerajaan Berau, buku ini menjadi sangat berharga untuk mengisi ruang pengetahuan masyarakatnya agar mengetahui sejarah hidupnya. Penting pula sebagai jembatan untuk melahirkan karya tulis sejarah setempat yang lebih baik dan memuat fakta yang lebih bernas. (Oki Koto/Res/78/11-2015)

Dibaca : 1.158 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi