16 desember 2015 07:07
Revitalisasi Kesultanan: Mencari Jejak Menuai Kearifan

Judul Buku
| : | Keraton Kesultanan Palembang Darussalam |
Editor
| : | Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin |
| Penerbit | :
| Keraton Kesultanan Palembang Darussalam |
Cetakan
| :
| Pertama, Tanpa Tahun |
Tebal
| :
| 1 + 72 Halaman |
Ukuran
| : | 15,5 cm x 20 cm. |
Kesultanan Palembang Darussalam berdiri di Sumatera Selatan (Palembang), didirikan oleh Pangeran Ario Kesumo tahun 1659. Kesultanan ini merupakan buah perjalanan panjang kerajaan Palembang yang secara estafet dipimpin oleh raja-raja yang berasal dari Majapahit, Demak, dan Mataram. Pangeran Ario Kesumo kemudian memutuskan hubungan kekuasaan dengan kerajaan di Pulau Jawa tersebut karena berhasrat mendirikan kesultanan yang mandiri. Ia pun menobatkan dirinya sebagai sultan pertama yang memerintah hingga tahun 1706. Kesultanan ini sudah mengalami pergantian penguasa berulangkali hingga kemudian dibekukan oleh Belanda pada tahun 1825 karena tidak kooperatif dengan pihak penjajah.
Penulis buku ini berusaha untuk merekonstruksi sejarah Kesultanan Palembang Darussalam dan menegakkan jejak masa lalu yang gemilang dalam proses penyebaran Islam di Nusatara. Seperti diungkap dalam buku ini, keinginan menghidupkan kembali kesultanan ini bukan untuk membangun sebuah kesultanan seperti pada masanya dua abad yang lalu, tetapi sebatas simbol budaya dan sosial agar masyarakat, khususnya Palembang dan Sumatra Selatan, tidak buta sejarah dan mampu menghargai jasa leluhurnya (h. 6).
Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, sebagai penulis buku ini dan sekaligus sebagai penguasa Keraton Kesultanan Palembang Darussalam terkini, memahami betul bahwa berdirinya kembali kesultanan ini bukan untuk membangun kekuatan politik, apalagi militer, karena saat ini secara de facto dan de jure wilayah ini masuk dalam NKRI, sebagaimana yang diinginkan dan diperjuangkan oleh para sultan tempo dulu.
Untuk mengukuhkan kembali eksistensi kesultanan dalam perspektif sosial dan budaya, tidak cukup hanya dengan mengangkat penguasa sebagai sultan ke-11 sebagai lanjutan sultan yang pernah ada. Yang perlu dilakukan adalah membangun relasi dan komunikasi seluas-luasnya baik dengan masyarakat setempat, masyarakat luar, kerajaan dan kesultanan yang ada di Nusantara bahkan dunia, maupun dengan pemerintah. Ke dalam, secara cerdas mereka perlu menggali sumber dan data sejarah kejayaan mereka di masa lalu untuk ditunjukkan ke mata dunia baik yang berupa peninggalan benda fisik maupun budaya dan adat istiadat yang sudah raib tertimbun zaman ratusan tahun.
Sekalipun sangat singkat dan minim data, buku ini cukup baik untuk pengenalan dan pengungkapan awal Kesultanan Palembang Darussalam sebagai upaya revitalisai sejarah eksistensi sekaligus peradabannya agar bisa menuai kearifan leluhurnya. Selebihnya, buku ini merupakan album kegiatan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dalam berbagai rangkaian aktifitasnya. (Oki Koto/Res/81/11-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Dibaca : 995 kali.