22 desember 2015 07:07
Orang Melayu menuju Perubahan
Judul Buku
| : | Orang Melayu: Sejarah, Sistem, Norma, dan Nilai Adat Parik Batu |
Editor
| : | Drs. Isjoni Ishaq, M.Si., dkk. |
| Penerbit | :
| Unri Press |
Cetakan
| :
| Pertama, 2002 |
Tebal
| :
| xiv + 136 Halaman |
Ukuran
| : | 14 cm x 20 cm. |
Siapakah orang Melayu? Pertanyaann ini menimbulkan perdebatan sangat panjang. Sungguhpun perkembangan zaman menyuguhkan perubahan signifikan bagi semua orang, tak terkecuali orang Melayu, bagi pemeluk batasan Melayu lama tak ada beda, tetap teguh pada pendirian mereka. Sementara orang Melayu lain sudah sangat gemas dan meluncur jauh dengan definisi dan persepsi baru tentang Melayu.
Buku ini merekam dengan baik ‘rasa gemas’ orang Melayu yang hendak maju. Ada semacam beban psikologis bagi orang Melayu kebanyakan untuk keluar dari zona nyaman stereotip ‘Melayu malas’. Banyak yang enggan menempatkan diri dalam sebuag pergaulan yang berkemajuan berorientasi masa depan. Alih-alih itu mereka justru bertindak malu-malu dengan inferiority complex-nya melibat dalam progresivitas laju zaman. Rasa tidak aman, rasa tidak mampu, dan takut gagal mereka sembunyikan dalam buaian madah agung romantisme kegemilangan masa lalu.
Membangunkan tidur panjang orang Melayu perlu upaya ekstra. Orang Melayu yang selalu ingin menonjol, tampak muka, terbuka merupakan karakter progresif yang mereka miliki. Prof. J.C Van Eerde (1919) menyebutkan bahwa orang Melayu merupakan masyarakat yang sangat enerjik dan penuh keinginan kuat untuk maju (h. 49). Ini merupakan modal penting memasuki pergaulan dan persaingan lebih luas dipadu dengan etika pergaulan yang luwes dan elegan yang mereka miliki. Persaingan bukan berarti permusuhan, persaingan yang sehat menuju ke arah positif adalah motivasi hidup untuk berkembang. Sudah saatnya kini orang Melayu mengubah nilai-nilai yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman tanpa mengubah jati diri aslinya. Penanaman idiologi ini akan menjadikan orang Melayu berlomba-lomba dalam berinovasi demi memajukan diri maupun adat dan tradisi.
Masalahnya adalah, bagaimana cara menanamkan nilai-nilai baru, budaya baru, ideologi baru itu agar tertancap erat, terinternailsasi dengan kuat pada diri orang Melayu hingga mampu melahirkan sosok Melayu menjadi lebih bernafsu untuk maju? Saya melihat buku ini pun tidak kosisten memenuhi kewajibannya sebagai penyemangat orang Melayu baru. Di satu sisi, saat membahas tentang adat, penulis berpijak pada untaian kata bijak dalam rangkaian ungkapan adat, seperti syair atau pantun. Tetapi ketika membahas tentang orang Melayu dalam tantangan globalisasi, bahkan secara khusus memasuki artikel saatnya orang Melayu bangkit, tak satu jua ungkapan kata indah dari syair pun pantun tersemat. Padahal kehidupan orang Melayu tak terpisahkan dengan ungkapan-ungkapan ajaib itu. Ini menunjukkan realitas tanpa sadar orang Melayu yang terbelah.
Dalam kaitan ini, mungkin penting difikirkan perlunya memanfaatkan syair, pantun, dan sejenisnya untuk menanamkan sistem, norma, dan nilai baru yang mengusung tema tentang perubahan dan semangat berkemajuan pada orang Melayu sejak kanak-kanak hingga dewasa. Tidak cukup lagi penanaman pantun tentang adat lama, budi, dan marwah. Tetapi perlu juga penanaman pantun tentang kerja keras, persaingan, dan hidup berkemajuan tanpa menghilangkan jati diri kemelayuan. Bila syair ibarat ombak lautan, tebing adalah kokohnya persepsi manusia. Setegar apapun tebing bila senantiasa dihempas gelombang pasti akan berubah jua. Maka syair dan pantun pun akan mampu mengubah persepsi manusia tentang kehidupan untuk menjadi lebih baik dan maju bila secara terus menerus kita tanamkan.
Bila sudah demikian, maka segala upaya pemberdayaan akan terasa lebih ringan karena sudah berjalan di atas pondasi persepsi yang mendukung. Pendidikan kewirausahaan, pemberdayaan dalam pengembangan kepariwisataan, atau apapun bentuk pengembangan diri untuk kemajuan orang Melayu akan mendapat sambutan dengan gempita yang baru. Dengan sendirinya segala karakter stereotip yang diidetikkan dengan orang Melayu akan tersudut dalam ruang gelap yang tak lagi dikenali.
Buku ini telah memberikan pemahaman yang baik bagi masyarakat, khususnya masyarakat Melayu, dalam berpedoman hidup di masa kini dan mendatang. Dapat pula dijadikan referensi mengenai watak dan karakteristik orang Melayu yang selama ini kurang difahami dan dianggap negatif oleh banyak kalangan. (Oki Koto/Res/84/11-2015)
Dibaca : 1.017 kali.