29 februari 2016 07:07
Ejekan dan Pantangan dalam Budaya Melayu
Judul Buku
| : | Buku Saku Budaya Melayu yang Mengandung Nilai Ejekan dan Pantangan terhadap Orang Melayu |
Penulis
| : | Tenas Effendy |
| Penerbit | :
| Unri Press |
Cetakan
| :
| Pertama, 2003 |
Tebal
| :
| ii + 162 Halaman |
Ukuran
| : | 13 cm x 21 cm. |
Buku ini membahas dua fenomena unik dalam kebudayaan Melayu yang masih ditemukan hingga kini di tengah kehidupan masyarakat Melayu, yaitu ejekan dan pantangan. Ejekan dalam kebudayaan Melayu bukanlah sesuatu yang serius, melainkan sebagai sindiran ataupun candaan bagi para kerabat maupun keluarga. Ketidakfahaman mengenai budaya Melayu dan karakter masyarakat terkadang kerap memunculkan suara-suara negatif kepada orang Melayu itu sendiri.
Dalam wacana maupun kehidupan nyata sering terdengar adanya suara sumbang atau tuduhan yang dilontarkan kepada orang Melayu. Mereka dianggap sebagai pemalas, perajuk, mudah tersinggung, berwawasan sempit, hanyut dalam mimpi masa silam, tidak berpandangan jauh kedepan, pandir dan bebal sehingga selalu kalah dalam persaingan, cemburu terhadap kelebihan orang lain, pemalu dan lemah semangat, terpecah belah, iri mengiri dan dengki mendengki, hidup hanya untuk makan, cepat putus asa, tidak mampu memimpin, dan lain sebagainya (h.2).
Sedangkan pantangan merupakan larangan dalam budaya Melayu yang telah diwariskan secara turun temurun. Orang Melayu memiliki ratusan pantangan, dan sebagiannya mengandung sanksi apabila dilanggar. Pantangan-pantangan tersebut muncul karena ada sesuatu yang sangat ditabukan bagi masyarakat. Kendati demikian, jika ditelaah secara rasional banyak pantangan yang dibuat bertujuan untuk menjaga adat dan tradisi, kesopanan, serta pribadi individu orang Melayu.
Tenas Effendy dalam tulisannya ini mencoba menjelaskan ejekan atau sindiran serta pantang larang yang terdapat di dalam kebudayaan Melayu. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat khususnya masyarakat Melayu mengetahui sindiran dan pantang larang yang selama ini berkembang dalam kebudayaan Melayu, sekaligus mengkonfirmasi kebenaran ejekan dan pantang larang tersebut.
Karena sindir menyindir banyak menimbulkan kegaduhan dan kesalahpahaman antara yang menyindir dengan yang disindir, maka dalam adat Melayu ditegaskan sebelum menyindir hendaklah memperetimbangkan terlebih dahulu buruk dan baiknya, manfaatnya, tepat atau tidaknya, serta kepatutannya. Terlebih sindiran yang dikeluarkan mengarah pada ejekan atau membuka aib seseorang.
Orang-orang tua Melayu melarang sindiran apalagi mengejek tanpa tujuan baik. Sebab hakikatnya dalam adat dan tradisi Melayu, sindir menyindir atau ejek mengejek sebenarnya tidaklah dibenarkan. Jikalaupun ada sindiran, tentunya ditujukan kepada orang yang dianggap patut untuk disindir.
Sementara itu pantangan atau pantang larang mencerminkan sifat, sikap, dan prilaku buruk yang wajib dijauhi oleh orang Melayu, agar mereka tidak dibully oleh orang lain. Bahkan dengan menjauhkan hal tersebut, orang Melayu diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan, taraf hidup, dan kesejahteraannya. Pantang larang sejatinya merupakan aturan bagi orang Melayu agar tidak berprilaku buruk seperti, pemalas, perajuk, berwawasan sempit, rendah diri, dan lain sebagainya.
Buku ini patut dijadikan pedoman berprilaku yang baik dalam rangka membangun karakter yang kuat dan mulia. Juga dapat dijadikan rujukan untuk penelitian karakter atau tabiat orang Melayu berkaitan dengan budaya dan adat tradisinya. (Oki Koto/Res/91/1-2016)
Dibaca : 1.143 kali.