31 maret 2016 07:07
Budaya Tradisional Bengkalis
Judul Buku
| : | Budaya Tradisional Bengkalis |
Penulis
| : | Tim Peneliti Disbudpar Kab. Bengkalis |
| Penerbit | :
| Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan P2BKM-UNRI |
Cetakan
| :
| Pertama, 2002 |
Tebal
| :
| xxi + 191 Halaman |
Ukuran
| : | 14,5 cm x 21 cm. |
Buku ini berisi rangkuman mengenai budaya tradisional di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Dengan nara sumber tokoh-tokoh Melayu Bengkalis, di antaranya HM Noer Yaman, Ibrahim Muchtar, HM. Yunus Yahya, Tarmizi Oemar, H. Ustad Mil, Hamdani Saili, dan H. Zahar, buku yang digagas sebagai dokumentasi budaya Melayu Bengkalis ini juga dimaksudkan sebagai sumber referensi penting untuk kelestarian budaya Melayu pada umumnya.
Ada beberapa pembahasan dalam buku ini, di antaranya ialah latar belakang dan tradisi Bengkalis. Dijelaskan bahwa di Bengkalis telah dijumpai perkampungan yang dihuni oleh masyarakat nelayan sejak tahun 1100 M, bermula di sungai Senggoro hingga masa kerajaan Siak dan pendudukan Belanda. Dari referensi lain juga menyebutkan bahwa di Bengkalis dahulu pernah berdiri sebuah kerajaan yang beribukota di Tanjung Parit desa Muntai. Akan tetapi bukti-bukti mengenai keberadaan kerajaan tersebut hingga kini masih belum ditemukan.
Pada masa kesultanan Melayu, sistem pemerintahan di Bengkalis berbentuk Perbatinan yang secara budaya masih dipengaruhi oleh kerajaan Siak. Ada empat perbatinan di Bengkalis pada waktu itu, Batin Bengkalis berkedudukan di Sei-Bengkalis, Batin Alam berkedudukan di Sei-Alam, Batin senarak berkedudukan di Sei-Senarak, dan Penebal berkedudukan di Penebal.
Adat dan tradisi Bengkalis ada beraneka macam yang kemudian ditandai dengan perjalanan keberadaan manusia di dunia ini. Mulai dari tradisi kehidupan, tradisi kelahiran, dan tradisi nikah atau kawin adat Melayu Bengkalis. Pada dasarnya tradisi adat Melayu Bengkalis dengan tradisi adat Melayu lainnya hampir memiliki kesamaan, hanya ada perbedaan kecil saja.
Adat dan tradisi pernikahan Melayu pada umumnya terdiri atas merisik, meminang, antar belanja, menggantung, ijab kabul, tepung tawar, berinai, berandam, khatam kaji, upacara langsung/besanding, berarak, membuka pintu, makan bersuap, makan hadap-hadapan, sembah mertua, mandi kumbo taman, makan nasi damai, dan upacara menyembah kepada sanak famili.
Buku ini juga menjelaskan mengenai sikap dan prilaku orang Melayu Bengkalis yang terkenal dengan sikap emosionalnya. Orang Melayu memiliki tingkat sentuhan emosional yang lembut dan sensitif. Orang Bengkalis juga memiliki sifat pemalu, merajuk, latah, tidak sombong, toleransi yang tinggi, sederhana, penyedih hati/peiba, menjaga harga diri, menanam budi, menerima budi, dan lain sebagainya.
Bengkalis juga memiliki aneka kesenian seperti tarian, drama, nyanyian, musik tradisional dan peralatannya, kerajinan tradisional, upacara tradisional, dan cerita rakyat.
Buku ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Melayu, khususnya Melayu Bengkalis. Juga diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi para akademisi maupun peneliti dalam melakukan penelitian lebih lanjut mengenai budaya tradisional Melayu pada umumnya dan pada khususnya budaya tradisional Melayu Bengkalis. (Oki Koto/Res/95/3-2016)
Dibaca : 1.117 kali.