Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 82
Hari ini : 7.150
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



18 juni 2016 07:07

Hikayat Dewa Mendu



Judul Buku
:
Hikayat Dewa Mendu
Editor
:
Syamsul Hilal
Penerbit:
Yayasan Pustaka Riau
Cetakan
:
Pertama, 2002
Tebal
:
xv + 131 Halaman
Ukuran
:12 cm x 18 cm.

Hikayat Dewa Mendu adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau tepatnya di Kabupaten Natuna dan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Cerita inilah yang menjadi dasar pengembangan seni tradisional Melayu berupa Teater Tradisional Mendu.

Menurut penulis, Mendu adalah kesenian yang diadopsi dari luar yang memiliki dua versi asal usul. Ada yang mengatakan, Kesenian Mendu ini berasal dari kawasan Siam, Yunan, Vietnam, atau Kamboja. Identifikasi ini berdasarkan kesamaan cara pementasannya. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa Mendu berasal dari Pulau Pinang. Asal usul ini tidak banyak memengaruhi persepsi masyarakat pada umumnya tentang kesenian Mendu, terutama masyarakat Bunguran Barat Natuna, karena  sesuai sumber yang mereka percaya, kesenian Mendu sudah dikenal sejak sekitar tahun 1870 dan telah dianggap sebagai kesenian asli Natuna. Apalagi dalam perkembangannnya, Mendu di tanah Melayu ini punya ciri khasnya yang membedakannya dari kesenian Mendu lainnya.

Pada dasarnya kesenian Mendu ini merupakan tradisi lisan yang terdiri dari teater, tarian, nyanyi, dan musik. Selain itu ada unsur ritual dalam pertunjukannya yang biasanya dilakukan pada awal atau sebelum pementasan.

Isi ceritanya sendiri mengisahkan tentang Dewa Mendu sejak dari kehidupan di kayangan, kemudian turun ke bumi, bertemu dan menikah dengan Siti Maha Dewi. Kisah ini kemudian berlanjut berturut-turut dengan perjalanan Sang Dewa dan istrinya, kelahiran buah hati mereka Kilan Cahaya, perjumpaan dengan nenek Kebayan, serta lika liku perjalanannya ke kerajaan Lahai Lani, Majusi, Firmansyah dan pertemuan antara Putri raja Majusi dan Kilan Cahaya.

Pada awalnya, pementasan kesenian Mendu menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Melayu dan bahasa Mendu. Bahasa Mendu diyakini sebagai bahasa asli pemementasan kesenian ini sejak munculnya di pulau Bunguran Barat Natuna pada tahun 1870. Seiring dengan perjalanannya, bahasa Mendu kini tidak lagi digunakan secara utuh dalam pementasan melainkan hanya pada bagian atau kalimat-kalimat tertentu saja. hal ini dilakukan agar memudahkan penonton untuk memahami dan mengerti bahasa dan cerita yang disampaikan.

Syamsul Hilal menjelaskan bahwa kesenian Mendu ini dahulu dipentaskan dalam waktu tujuh sampai empat puluh malam, namun kini pementasannya dipersingkat menjadi satu sampai tiga malam, bahkan kini kesenian Mendu juga kerap ditampilkan dalam hitungan jam. Sementara itu jumlah pemeran dalam kesenian Mendu terdiri dari dua puluh sampai empat puluh orang serta diiringi alat musik gong, gendang, bedug, biola, dan kaleng.

Dengan dibukukannya Hikayat Dewa Mendu ini diharapkan kesenian Mendu dapat terjaga dan lestari, agar tidak punah dan hilang tertelan kemajuan zaman. Bagi cerdik cendekia, buku ini memiliki arti penting untuk bahan kaji keilmuan dalam dunia ilmu pengetahuan. (Oki Koto/Res/104/5-2016)

Dibaca : 1.144 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi