27 juli 2016 07:07
Tuturan tentang Pencak Silat
Judul Buku
| : | Tuturan tentang Pencak Silat dalam Tradisi Lisan Sunda |
Editor
| : | Yus Rusyana |
| Penerbit | :
| Yayasan Obor Indonesia & Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan |
Cetakan
| :
| Pertama, 1996 |
Tebal
| :
| xiii + 200 Halaman |
Ukuran
| : | 14,5 cm x 21 cm. |
Buku ini menjelaskan mengenai tuturan pencak silat atau yang dalam bahasa Sunda disebut tuturan penca. Maksud tuturan (tutur) di dalam buku ini yaitu sebuah tradisi lisan yang berbentuk dialog antara murid dengan guru pencak silat mengenai pencak silat itu sendiri. Munculnya tradisi tutur pada mulanya diyakini ketika para pendekar-pendekar silat menyebarkan ilmunya sembari bercerita mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan penca tersebut. Hal-hal yang dituturkan antara lain mengenai jurus-jurus, pendiri, atau pencipta gerakan, dan lain sebagainya.
“Di lingkungan kehidupan penca, terdapat tuturan yang erat kaitannya dengan tokoh penca atau pendiri aliran penca dan guru-guru penca. Juga terdapat tuturan peristiwa yang bersangkutan dengan tokoh tersebut serta aliran pencanya” (h.3).
Selain berupa tradisi lisan, tuturan penca juga memiliki cara tersendiri dalam menyampaikannya, misalnya melalui gerakan yang tetap dan memiliki kaitan dengan tuturan yang dituturkan tersebut. Selain itu tuturan juga terdiri dari beberapa jenis dan struktur yaitu kiasan, deskripsi, bahasan, alasan, dan pedoman. Tuturan penca yang sering dituturkan di antaranya adalah nama aliran, maenpo cikalong, hakikat maenpo cikalong, silsilah guru-murid, peristiwa berguru, syarat menjadi murid, cara belajar-mengajar, peristiwa pertarungan, peristiwa batiniah, amanat guru, tentang berbagai kaidah maenpo, dan lain sebagainya.
Pola-pola kiasan pada tuturan penca bersifat tetap dan berulang-ulang. Terjaganya tutur penca hingga saat ini dikarenakan para penutur yang dahulu juga merupakan murid dari penutur awal, begitu seterusnya hingga kini yang masih tetap bertutur dan menuturkan kisah-kisah yang dahulu mereka dengar dari para guru-guru silat mereka. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, kini peristiwa yang terdapat di dalam tuturan peca berubah menjadi kisah yang terbuka terhadap perubahan. Selain aliran maenpo, terdapat juga tuturan penca dari aliran lainnya, salah satunya yaitu penca makao.
Dalam tutur penca, penutur biasanya menggunakan bahasa yang tidak eksplisit. Hal tersebut dimaksudkan agar tuturan tersebut tidak dapat dimengerti dan difahami dengan jelas oleh semua orang. Terdapat juga bagian yang diulang-ulang. Pengulangan tersebut dirasa perlu dikarenakan tuturan yang bersifat tradisi tidak tertulis, tentunya akan mudah diingat apabila dituturkan secara beruang-ulang. Pengulangan-pengulangan tersebut juga merupakan salah satu ciri bahasa lisan yang dirasa perlu apabila ingin dihadirkan kembali.
Pencak silat merupakan aset budaya asli Indonesia yang kini mulai bangkit kembali dan berkembang hingga luar negeri. Buku ini akan menambah pengetahuan kita tentang pencak silat, baik coraknya, sifat, maupun tradisin yang melingkupinya. Buku ini selain penting digunakan sebagai dokumentasi juga dapat dijadikan sumber acuan bagi duni persilatan di Nusantara. (Oki Koto/Res/107/6-2016)
Dibaca : 1.110 kali.