Senin, 8 Juni 2026   |   Tsulasa', 22 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 2.483
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



29 april 2007 23:07

Pahlawan dan Cerita Lainnya, Mozaik Melayu Modern

Penulis: Karim Raslan
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, 2006
Tebal: 164 halaman

Oleh : Istiqomatul Hayati

Puluhan tahun ia menggenggam rahasia itu. Segala tentang dia cukup luar biasa—cerdas, tampan, lajang, dan santun—kecuali satu hal: kakinya. Satu peristiwa tragis terjadi, se­sudah itu sang kaki lumpuh.

Nazrin, nama lelaki itu. Ia masih 20-an tahun ketika peristiwa itu terjadi, 30 Mei 1969. Di Penang, waktu ia menemani seorang utus­an perdana menteri, ak­si kekerasan meletup. Tulang kakinya remuk, sedangkan sang utusan menghilang, menyelamatkan diri, meninggalkan teman yang n­estapa.

Kisah bangsawan pengecut yang menjaga citra sebagai lelaki heroik ini ada dalam Para Pahlawan, ce­rita pendek karya sastra­wan-kolumnis Malaysia, Karim Raslan. Sosok yang oleh pengamat Nirwan Arsuka bisa dibandingkan ­de­ngan Idrus, penulis In­donesia yang melukiskan zaman merdeka dengan gaya realisme dan sarkasme pada 1950-an.

Karim memang berceri­ta tanpa selubung. Dalam Para Pahlawan, ia membongkar rahasia di ujung cerita: Nazrin dan si bangsawan bertemu tanpa rencana me­lalui orang ketiga, yakni putri sang bangsawan, pe­ngagum berat ayahnya sendiri. Dalam cerita lainnya, Tetangga Sebelah, ia menulis tentang Datin Sarina. Ia istri bangsawan yang haus kekuasa­an dan (nyaris) jatuh cinta pa­da te­tangga barunya yang rupawan. Sam­pai akhir­nya ia menjumpai puja­annya ber­cinta dengan seorang banci.

Para Pahlawan adalah satu di antara kumpulan cerita pendek Karim Raslan, Pahlawan dan Cerita Lainnya (terjemahan dari Heroes and Other Stories). Antologi yang memuat delapan kisah: Yang Terkasih, Para Pahlawan, Makan Siang Tahun Baru di Jalan Kia Peng, Warisan, Puan Gundik, Sara dan Perkawinan, Ayo Ke Timur, dan Tetangga Sebelah.

Pahlawan dan Cerita Lainnya bercerita tentang banyak aspek kehi­dupan para bangsawan—semua­nya menggi­ring ke satu titik: hipokrisi aristokrat Melayu. Sosok-sosok yang digambarkannya sering bermain golf atau polo di klub, menenteng tas Louis Vuitton sembari ta­ngan kirinya menjepit rokok Dunhill, senang membanggakan gelar Datuk dan Datin. Di balik aristokrasi ada kegandrungan akan seks, uang, dan kuasa.

Karim Raslan memang ­memiliki ciri khas dalam karya-karyanya, tapi sayangnya ia tak begitu populer di Semenanjung Malaysia. ”Tulisannya berbahasa Inggris tinggi dan tak dimengerti orang Malaysia kebanyakan,” kata Abdul Razak dari Dewan Bahasa Pustaka Malaysia. Selama ini Karim lebih dikenal sebagai kolumnis. Kumpulan tulisan kolomnya telah dibukukan menjadi Ceritalah: Malaysia in Translation yang menjadi buku laris di Malaysia. Juga Journeys Through Southeast Asia: Ceritalah 2.

”Saya menulis apa yang saya alami, lihat, dan temukan dalam riset. Saya hanya ingin jujur,” kata Karim. Karim Raslan dilahirkan pada 2 Agustus 1963 di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Dan ia memang bercerita di luar arus utama penulis Malaysia. Mungkin pengalamannya tinggal 16 tahun di negara ibunya (Inggris) memberi pengaruh dalam gayanya yang blak-blakan. Ia mengambil pendidikan hukum di Inggris dan menjadi pengacara berlidah setajam kritiknya di harian-harian berbahasa Cina dan Inggris di Malaysia yang rutin ditulisnya.

Sejumlah cerita pendek Karim sekarang bisa dibaca dalam Bahasa Indonesia. Yang sedikit mengganggu para pembacanya di sini adalah singkatan-singkatan Malaysia yang acap kali muncul tanpa keterangan apa pun.

Sumber : Majalah Tempo

Dibaca : 7.251 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi