Selasa, 28 Maret 2017   |   Arbia', 29 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 6.668
Hari ini : 48.523
Kemarin : 108.208
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.012.426
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



21 februari 2010 00:07

Tuah Sakti Hamba Negeri

Tuah Sakti Hamba Negeri

Judul Buku
:
Hang Tuah Kesatria Melayu
Penulis
:
Musthamir Thalib & Mahyudin Al Mudra
Penerbit:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, 2004
Tebal
:
ix + 88 halaman
Ukuran
:
20,5 x 27,5 cm
 
Judul Buku
:
Hang Tuah
Penulis
:
Musthamir Thalib
Penerbit:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, 2003
Tebal
:
ix + 103 halaman
Ukuran
:
12 x 18 cm


Di masa kini, cerita rakyat, yang termasuk dalam tradisi lisan Melayu, sudah jarang disampaikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Realitas ini disebabkan oleh perubahan pola hidup dan pola berpikir masyarakat Melayu. Para orang tua banyak yang sibuk di luar rumah, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk berkumpul dengan anak dan keluarganya. Tentu saja, kondisi semacam ini cukup memprihatinkan, mengingat urgensi cerita rakyat sebagai sarana pendidikan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai luhur budaya lokal terancam pupus digilas jaman.

Namun sejalan dengan kerinduan masyarakat Melayu akan warisan-warisan budaya lokal, ada perkembangan yang cukup menggembirakan. Ada pihak-pihak, baik individu maupun instansi, yang peduli untuk memelihara dan mengekalkan tradisi lisan tersebut dengan cara modern, yaitu menulis dan mencetak cerita-cerita rakyat Melayu dalam bentuk buku. Salah satu instansi swasta yang telah melakukan hal itu adalah Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM).

BKPBM telah menerbitkan ratusan cerita rakyat Melayu, salah satunya adalah Hikayat Hang Tuah dalam dua versi, dalam bentuk cergam dengan judul Hang Tuah Kesatria Melayu dan fiksi dengan judul Hang Tuah. Penyampaian cerita Melayu melalui buku bergambar agaknya memudahkan proses transformasi nilai-nilai positif yang terkandung dalam hikayat Laksamana Hang Tuah kepada generasi pewaris kebudayaan Melayu, khususnya anak-anak.

Dari segi isi, kedua buah buku ini tidak memiliki perbedaan yang signifikan, kecuali pada kemasan dan bahasa yang digunakan penulis dalam menyampaikan setiap alur cerita. Dalam buku Hang Tuah Kesatria Melayu (edisi cergam), di samping ceritanya lebih singkat, bahasa yang digunakan oleh penulis juga ringan dan mudah dipahami, terutama oleh anak-anak. Sedangkan pada edisi fiksi, bahasa yang digunakan cenderung lebih kompleks. Cerita yang dilansir dalam kedua buku ini merupakan ihktisar dari Hikayat Hang Tuah yang tebalnya hingga mencapai ratusan halaman.  

Hikayat Hang Tuah, sesungguhnya merupakan cerminan tradisi merantau masyarakat Melayu. Hal ini terlihat pada pelayaran Hang Tuah kecil dari Laut Cina Selatan, tanah Jawa, India hingga ke Cina. Hang Tuah rela meninggalkan kampung halamannya guna menimba ilmu dan menambah wawasan. Kebiasaan berlayar ke negeri-negeri seberang tetap ia lakukan pada usia dewasa ketika ia harus menjalankan tugas-tugas kenegaraan.

Dari kebiasaan berlayar tersebut, orang-orang Melayu menyebar ke berbagai kawasan di Nusantara, bahkan sampai ke benua Afrika. Tradisi merantau ini menumbuhkan sikap terbuka dan akomodatif orang-orang Melayu terhadap budaya setempat. Ada ungkapan Melayu berbunyi, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, dalam ungkapan lain dikatakan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Nilai-nilai luhur Melayu dijunjung secara arif oleh puak-puak Melayu di berbagai kawasan, sehingga menciptakan tenggang rasa, saling menghormati dan menghargai, meskipun mereka hidup dalam masyarakat baru yang berbeda secara tradisi dan budaya. Ada pantun Melayu berbunyi:

Ingat-ingat mencari kerang
Mencari kerang ada tempatnya
Ingat-ingat di negeri orang
Negeri orang ada adatnya
".

Pelajaran lain yang dapat digali dari Hikayat Hang Tuah ialah nilai kesetiaan dan keadilan. Dikisahkan bahwa kesetiakawanan antara Hang Tuah dan Hang Jebat harus diakhiri demi pengabdian Hang Tuah kepada negara dan keadilan. Rasa senasib sepenanggungan antara kedua sahabat itu harus pupus karena mereka memiliki pendirian yang berbeda. Hang Jebat telah melakukan tindakan ekstrim yang melanggar undang-undang negara, sehingga Hang Tuah yang begitu setia dan patuh kepada raja terpaksa menghadapi Hang Jebat dengan senjata. Pertempuran antara keduanya tidak dapat dihindarkan. Sebuah pertempuran yang meneteskan darah dan air mata. Kepatuhan Laksamana Hang Tuah ketika diutus raja untuk membunuh Hang Jebat dalam cerita ini, mengingatkan kita kepada Aristoteles yang rela meminum racun karena kepatuhannya kepada negara.

Berbagai pengorbanan yang dilakukan Hang Tuah, mulai dari komitmennya yang tidak mau patuh kepada lebih dari satu raja, menyerahkan kekasih hatinya Tun Teja untuk dipersunting Raja Syah Alam, sampai menghunus keris dan saling tikam dengan sahabat karibnya, Hang Jebat, menunjukan ketaatan Hang Tuah yang begitu agung kepada raja dan negerinya. Hikayat ini sarat dengan muatan nilai-nilai kepahlawanan, kesetiakawanan dan loyalitas yang tinggi kepada saudara, raja dan negeri; berani membela kebenaran dan keadilan serta kewajiban menjaga marwah. Nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Melayu yang tersirat dalam setiap langkah dan perjalanan Hang Tuah itu menjadikan buku ini begitu menarik untuk dibaca. Apalagi alur ceritanya disajikan dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

Mudah-mudahan kehadiran buku ini dapat menanggulangi memudarnya tradisi cerita lisan di tengah masyarakat Melayu. Pendokumentasian cerita-cerita rakyat melalui penerbitan buku-buku memungkinkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat digali, dimanfaatkan dan diwariskan kepeda generasi selanjutnya. Peluncuran buku cerita rakyat Melayu, dengan demikian, menjadi sarana penting untuk tetap mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah arus globalisasi dan westernisasi yang tidak terbendung. Melalui pesan-pesan dalam setiap cerita rakyat, tidak mustahil jika ada generasi penerus Melayu yang suatu saat terlahir dengan jiwa Hang Tuah. Tuah sakti hamba Negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.


Oleh : M. Yusuf (Anggota HIMARISKA)

Dibaca : 11.765 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi