Rabu, 28 Juni 2017   |   Khamis, 3 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 1.582
Hari ini : 12.932
Kemarin : 49.268
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.716.427
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



06 februari 2010 00:07

Srikandi-srikandi dari Riau

Srikandi-srikandi dari Riau

Judul Buku
:
Mutiara yang Terjaring
Penulis
:
Tim Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau (PUSDATIN PUANRI)
Penerbit:
PUSDATIN PUANRI, Riau dan BKPBM, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, 2007
Tebal
:
xii + 277 halaman
 

Dalam sejarah kemerdekaan dan kemajuan Indonesia, terukir jejak-jejak kaum perempuan yang memiliki andil besar di antaranya ialah, Cut Nyak Dien, Srikandi, maupun R.A. Kartini. Mereka memiliki kontribusi yang tidak sedikit dalam memajukan bangsanya. Perempuan-perempuan seperti inilah yang patut kita contoh dan teladani. Srikandi misalnya, terkenal dengan kegigihan dan keberaniannya. Oleh karenanya, namanya menjadi simbol perempuan pejuang dan pemberani.

Di bumi Lancang Kuning, tidak sedikit ‘srikandi-srikandi‘ yang berjasa dalam memajukan bangsanya. Jasa dan pengorbanan mereka layak mendapatkan apresiasi yang tinggi, karena telah mengantarkan masyarakat Melayu pada kemajuan dan peradaban modern, serta berjasa dalam pengembangan budaya Melayu.

Sebagian masyarakat Melayu tentu akrab dengan nama Tengku Agong Syarifah Latifah, perempuan yang berjasa dalam memajukan pendidikan kaum perempuan Melayu, karena namanya telah diabadikan sebagai nama jembatan di Siak, Riau. Namun, bisa jadi masyarakat Melayu tidak mengenal Fatimah Rukun, Masajo, Tengku Badi‘ah ataupun Wak Setah. Padahal, para srikandi tersebut telah membuka pintu peradaban dan memahat ukiran sejarah kemajuan bagi Riau. Oleh sebab itu, agar perjuangan mereka tidak memudar sia-sia, maka muncullah inisiatif pemerintah daerah untuk mendokumentasikan biografi mereka. Diharapkan, biografi ini dapat menjadi cermin bagi perempuan-perempuan Riau sesudahnya, agar dapat meneladani dan meneruskan perjuangan mereka dalam membangun bangsa.

Pemerintah daerah yang concern dengan pelestarian budaya tersebut ialah Tim Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau (PUSDATIN PUANRI). Bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat (BPPM) Provinsi Riau, PUSDATIN PUANRI menyeleksi mutiara berserak dan menerbitkan biografi mereka yang telah banyak berjasa dalam memajukan Riau serta turut mengembangkan dan melestarikan adat resam Melayu di bumi Lancang Kuning. Tokoh-tokoh perempuan Riau yang berjasa ini dijaring melalui seleksi pemilihan tokoh perempuan Melayu melalui fit and proper test yang ketat.

Berdasarkan seleksi itu, terhimpunlah 18 tokoh perempuan Riau yang layak menjadi suri teladan bagi masyarakat Melayu. Tersebutlah, Tengku Agong Syarifah Latifah, permaisuri gahara Tengku Agong di masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II. Ia adalah sosok yang mengangkat martabat perempuan melalui pendidikan. Ia membangun lembaga pendidikan yang diberi nama Sultanah Latifah School, pada tahun 1926. Pendidikannya memberi bekal khas bagi perempuan, melalui kecerdasan dan keterampilan sebagai modal pengetahuan jika kelak berumah tangga. Pendidikan yang digagasnya berpijak pada keterbukaan dan pluralisme, yang bertujuan agar perempuan Siak dan pantai timur Sumatera dapat berhubungan dan membuka diri dengan dunia luar, serta bisa menerima ide-ide dari suku bangsa manapun (hlm. 244). Dari Sultanah Latifah School inilah lahir srikandi-srikandi lainnya yang turut berjasa membangun Riau di kemudian hari.

Sosok perempuan lainnya ialah Masajo, srikandi Riau yang pernah mengenyam pendidikan di Sultanah Latifah School. Masajo berhasil mengenalkan tenun indahnya kepada dunia. Kisah hidupnya berawal ketika tentara Jepang yang kekurangan sandang memerintahkan keluarganya untuk membuatkan kain dari 10 goni kapas yang mereka bawa. Merasa tak memiliki secuil pengetahuan pun dalam membuat kain, Masajo berjuang mengubah kapas menjadi benang, dan dari benang menjadi kain (hlm. 111). Dari kisah kehidupan Masajo inilah terlahir bidal tua Melayu yang menjadi penuntun umum, yang berbunyi:

Dari kapas menjadi benang,
Pilin benang menjadi kain,
Orang lepas jangan dikenang,
Sudah menjadi si orang lain.

Masajo ialah sosok sederhana yang kreatif. Dengan pengetahuan yang sangat minim, ia mampu menghasilkan karya monumental yang tak pernah terlintas di benaknya. Hasil tenun Masajo kemudian menjadi haute couter (tradisi pakaian tinggi), yang dipakai oleh dara, bujang, bahkan petinggi Siak dan Riau, dalam berbagai perhelatan majelis tinggi.

Lain lagi dengan Wak Setah seorang penutur cerita. Perempuan ini mahir dalam bakoba, suatu keahlian untuk mengisahkan secara lisan kisah-kisah masa lalu, seperti sejarah tentang Kerajaan Kunto Darussalam, Pagaruyung, cerita alam, lingkungan, serta aneka dongeng. Kisah-kisah lisan itu sarat dengan muatan moral, tamsil, kekuasaan, serta kearifan lokal (hlm. 269). Dari Wak Setah-lah kelestarian budaya Melayu tetap terjaga. Melalui keahlian Wak Seta generasi muda Melayu mengenal sejarah dan adat resam mereka.

Masih banyak sosok perempuan Riau yang lain. Masing-masing memiliki keunggulan dan karya yang patut dibanggakan. Dengan perjuangan dan kegigihan mereka, kini bumi Lancang Kuning telah menjadi suatu daerah dengan peradaban modern. Perempuan-perempuan Melayu pun tak kalah dengan perempuan dari daerah lain.

Buku ini diterbitkan sebagai upaya untuk menelisik jejak-jejak budaya dan goresan peradaban yang pernah disentuh dan diciptakan oleh para srikandi Riau. Rekam jejak ini diharapkan dapat mengais dan mengangkat kembali nilai-nilai budaya yang telah mereka bangun dan kembangkan.

Membaca biografi para srikandi Riau ini, hati kita hanyut ke dalam alam perjuangan yang terjal. Dengan menyelami kehidupan mereka, setidaknya kita dapat mengambil mauidzah (hikmah) dan ibrah (keteladanan). Tanpa kreativitas dan energi mereka, bisa jadi tanah Melayu belum semaju seperti sekarang ini. Mungkin suluh-suluh peradaban masih gelap tersisa. Atau mentari kebudayaan masih enggan membuka matanya. Namun, berkat kegigihan dan perjuangan mereka, jendela peradaban telah dibuka, sehingga dian mentari dapat menyinari bumi Melayu hingga kini.

Buku ini ditujukan dan dianjurkan untuk dibaca oleh perempuan-perempuan Riau zaman sekarang. Karya-karya mereka setidaknya dapat dikenang dan dikembangkan kembali oleh generasi perempuan di masa sekarang. Dalam senarai ini, kita belajar menyelami nilai-nilai kejujuran, kedermawanan, kesederhanaan, kedisiplinan, dan ketabahan mereka dalam menapaki kehidupan dan menggoreskan bongkahan karya yang berguna untuk dikenang sepanjang masa. ***

Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)
Dibaca : 10.417 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi