Rabu, 28 Juni 2017   |   Khamis, 3 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 1.360
Hari ini : 13.082
Kemarin : 49.268
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.716.433
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Dialek Melayu Betawi

1. Pengantar (The Description)

Dialek Melayu Betawi (DMB) merupakan sebuah dialek Melayu kreol yang terdapat di wilayah DKI Jakarta, Indonesia, dan beberapa daerah lain di sekitarnya. Dialek ini agak berbeda dari bahasa Melayu/Indonesia standar dan Melayu kreol lain. Fonologinya cukup unik, begitu juga morfologi dan beberapa kosa katanya. Karena kekhasan tata ucap, beberapa bentuk morfologis dan kata-katanya itu, DMB agak sulit dipahami oleh penutur bahasa Indonesia, terutama yang belum begitu terbiasa dengannya.

Keunikan fonologis dapat dilihat pada bagian fonologi dari tulisan ini, sedangkan secara morfologis kekhasan dialek ini terlihat misalnya pada penasalan fonem awal dari bentuk dasar dalam pembentukan kata kerja; pukul ‘pukul‘ menjadi mukul ‘memukul‘, bakar‘bakar‘ menjadi mbakar ‘membakar‘. Dalam hal kosa kata, banyak ditemukan kata-kata pinjaman dari Jawa, Sunda, Cina, Arab dan sebagainya.

Berikut keterangan mengenai dialek ini dalam bentuk tabel data:

2. Tabel (Table)

Kode ISO 639-3: bew
Jumlah Penutur 2,700,000
Wilayah Dituturkan di wilayah provinsi DKI Jakarta dan beberapa daerah di sekitarnya, Indonesia.
Nama lain Melayu Jakarta, Melayu Betawi, Betawi, Melayu Jakarte.
Subdialek Subdialek Tengahan dan subdialek Pinggiran
Klasifikasi Melayu Kreol

3. Daerah Sebar Tutur (Region)

Dialek Melayu Betawi (DMB), selain dituturkan di wilayah DKI Jakarta juga dituturkan di beberapa daerah lain di sekitarnya, seperti kabupaten Bekasi, Bogor dan Tangerang. Meskipun demikian, batas dialek Melayu Betawi ini dengan dialek/bahasa lain di sekitarnya tidak begitu jelas (Muhadjir 2000). Para penutur (Betawi asli) ini hanya tinggal 50% saja yang tinggal di tengah-tengah kota Jakarta, sisanya banyak yang terdesak ke pinggir karena para pendatang (Muhadjir 2000). Di dalam masyarakat penuturnya, DMB difungsikan sebagai bahasa rendah jika penuturnya bilingual, akan tetapi bagi kelas bawah dialek ini cukup berprestise. Penutur asli dari dialek inilah yang disebut sebagai ‘Betawi Asli‘ atau orang ‘Betawi‘, meskipun ada sumber menyebutkan bahwa etnis Betawi sendiri merupakan hasil kawin-mawin dari berbagai etnis pendatang.

Selain itu, dialek ini juga memiliki subdialek yang terbagi kepada subdialek Tengahan dan Pinggiran. Keduanya dibedakan terutama oleh ciri-ciri tata ucap. Apabila kata seperti bedug, urug dan maulud diucapkan sebagai beduk, uruk dan (bulan) mulut pada subdialek Tengahan, maka pada subdialek Pinggiran diucapkan sebagai bedug, urug, dan (bulan) Maulud. Artinya, bunyi konsonan bersuara (d dan g) direalisasikan sebagai tidak bersuara (t dan k) pada subdialek Tengahan, dan tetap direaliasasikan sebagai bersuara pada subdialek Pinggiran. 

Di samping tata ucap, ciri lain yang membedakan adalah banyaknya terdapat kata pinjaman yang merupakan pengaruh dari dialek/bahasa di sekitarnya, yang telah masuk/tercampur ke dalam subdialek itu. Sebagai contoh, lanang, bocah dan kulon yang terdapat dalam subdialek Pinggiran. Pengaruh seperti ini lebih banyak ditemukan pada subdialek Pinggiran, dibandingkan dengan subdialek Tengahan. Dari sisi pengaruh asing, ada pula pengaruh dari dialek Cina Peranakan (terutama dalam hitungan seperti cepek, gopek) dan logat Bali (masuknya akhiran -in di belakang kata kerja; balikin ‘kembalikan‘).

4. Fonologi Sederhana (A Simple Phonology)

DMB memiliki 24 fonem. Fonem /h/ biasanya tidak dapat menempati posisi akhir. Seperti kata /darah/ dalam bahasa Indonesia/Melayu, diucapkan menjadi /darč/ dalam DMB. Sering kali pula kata-katanya berakhiran dengan vokal /č/, apabila dalam bahasa Indonesia/Melayu kata yang sama berakhiran dengan vokal /a/. Sebagai contoh, kata /apa/, /susah/ dan /saya/ dalam bahasa Indonesia/Melayu diucapkan dalam DMB sebagai /apč/, /susč/ dan /sayč/. 

Untuk melihat realisasi fonem-fonem tersebut dalam kata yang sesungguhnya, mari kita lihat tabel berikut ini:

Fonem

Kata

Makna

 

 

 

/b/

bacot

‘mulut‘

/p/

puyan

‘kotoran, daki‘

/m/

mek

‘kawan‘

/d/

kedot

‘kuat‘

/t/

titit

‘kemaluan anak laki-laki kecil‘

/n/

none

‘nona‘

/j/

jobong

‘pelacur‘

/c/

codet

‘bekas luka pada dahi, muka dsb‘

/ń/

nyak

‘ibu‘

/g/

ogah

‘tidak mau‘

/k/

koit

‘mati‘

/ŋ/

limbung

‘tidak mantap‘

/s/

sono

‘sana‘

/l/

laler

‘lalat‘

/r/

rudin

‘miskin‘

/w/

werit

‘sesuatu yang menakutkan‘

/y/

oyot

‘akar‘

/h/

rebeh

‘usang‘

/?/

kagak

‘tidak‘

/i/

isit

‘gusi‘

/e/

ketek

‘ketiak‘

/a/

ape

‘ape‘

/o/

ogah

‘akar‘

/u/

user-user

‘pusar kepala‘

5. Contoh kalimat (The Example of Use)[*]

Berikut adalah beberapa contoh pemakaian DMB dalam keseharian.

Lu

ude

nggak

kenal

langgar

sih

kamu

sudah

tidak

kenal

langgar

sih

‘Kamu tidak lagi mengenal langgar (musalla)‘

 

 

ape

si?

apa

sih?

‘ada apa sih?‘

 

saye

dateng

ke mari

ni

bang,

sebenernya

saya

datang

ke sini

ini

bang,

sebenarnya

‘bang, sebenarnya saya datang ke sini‘

 

 

 

ada

yang

saye

mau

tanya

ada

yang

saya

mau

tanyakan

‘(karena) ada yang mau saya tanyakan!‘

 

Dikutip dari Muhadjir (2000)

(SR/bhs/40/08-07)

Sumber:

http://www.ethnologue.com/show_language.asp?code=bew (akses tanggal 01 Agustus 2007)

Muhadjir. 2000. Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Muhadjir. 2000. “Kata-kata bahasa Melayu Jakarta dalam Kamus Bahasa Indonesia (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Republik Indonesia)” dalam  Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya (penulis Muhadjir). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

www.kompas.com



[*] Lu ‘kamu‘, ude ‘sudah‘, nggak ‘tidak‘, kenal ‘kenal‘, langgar ‘masjid kecil‘; musala, ape ‘apa‘, saye ‘saya‘,  dateng ‘datang‘, ke mari ‘ke mari‘, ni ‘ini‘, bang ‘singkatan dari abang‘, sebenernya ‘sebenarnya‘.

 

 

Dibaca : 12.537 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password