Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 2.967
Hari ini : 24.601
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.022.546
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Leluhur Orang Rimba, Provinsi Jambi


Orang Rimba

Orang Rimba adalah sebutan untuk sebuah suku bangsa yang hidup di pedalaman hutan Jambi. Mereka tinggal di dalam kawasan hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Terdapat banyak versi tentang asal-usul Orang Rimba. Namun, secara garis besar, Orang Rimba sendiri meyakini bahwa leluhur mereka memiliki tiga ciri, yaitu orang yang kuat pendirian dan gagah berani, orang yang sangat menghormati lingkungan (hutan), dan orang yang setiap hari berpakaian sederhana (memakai cawat, rumah beratap rumbia, dan meminum air kali).

1. Asal-usul

Orang Rimba adalah sebutan untuk sebuah suku bangsa yang hidup di pedalaman hutan Jambi. Mereka tinggal di dalam kawasan hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD.[1] Sebutan ini Orang Rimba berasal dari Orang Rimba sendiri. Sedangkan Orang Rimba menyebut orang dari luar suku mereka sebagai Orang Terang.

Orang Rimba sendiri menganggap bahwa sebutan “Orang Rimba” lebih tepat karena merujuk pada tempat tinggal mereka di rimba. Hal ini juga dinyatakan oleh Butet Manurung (2007), yang mengatakan bahwa sebutan Orang Rimba ini merujuk pada tiga hal, yaitu asal mereka dari rimba, mereka tidak mau keluar dari rimba, dan karena mereka melakukan kegiatan sehari-hari berdasarkan apa yang diberikan oleh rimba (hutan).

Berbeda dengan Orang Rimba, umumnya orang di luar suku Orang Rimba menyebut orang-orang suku Orang Rimba dengan sebutan suku Kubu[2] atau suku Anak Dalam. Istilah Kubu merupakan sebutan yang digunakan oleh para pegawai kolonial Belanda yang kemudian diikuti oleh sebagian besar antropolog. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa Orang Rimba adalah kelompok masyarakat terasing yang berasal dari kerajaan Pagaruyung. Mereka mengungsi ke dalam hutan karena mereka tidak mau dikuasai dan diperintah oleh musuh. Di dalam hutan, mereka membuat pertahanan atau kubu (http://www.jambiprov.go.id).  

Sementara itu, sebutan “Suku Anak Dalam” merupakan sebutan yang digunakan oleh Departemen Sosial Republik Indonesia. “Anak Dalam” memiliki makna orang terbelakang yang tinggal di pedalaman. Oleh karena itulah, dalam perspektif pemerintah, mereka harus dimodernkan dengan cara mengeluarkan mereka dari hutan dan dimukimkan melalui program Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT) (budayanusantara.blogsome.com).

Orang Rimba memiliki leluhur yang asal-usulnya sangat kompleks dan bahkan dapat dikatakan kabur. Asal-usul tersebut dikatakan kompleks karena banyak sekali versi yang menyatakan tentang asal-usul tersebut. Hal ini tentu saja membingungkan sekaligus menimbulkan rasa penasaran beberapa pengkaji budaya. Dalam teori budaya, kompleksitas asal-usul leluhur Orang Rimba ini bisa jadi merupakan salah satu wujud usaha mereka dalam menjaga identitas mereka agar tidak punah.

Versi-versi asal-usul leluhur Orang Rimba secara umum terbagi menjadi dua bagian, yaitu asal-usul yang berdasarkan sejarah dan asal-usul yang berdasarkan cerita atau mitos yang berkembang di masyarakat atau di kalangan Orang Rimba sendiri. Versi-versi tersebut memiliki dasar masing-masing. Kenyataan ini justru semakin menyulitkan untuk menentukan versi mana dari versi-versi tersebut yang benar.

Orang Rimba sendiri meyakini bahwa terdapat tiga ciri umum pada leluhur mereka. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.

a. Orang Rimba meyakini bahwa leluhur mereka adalah orang yang kuat pendiriannya, gagah berani, rendah hati, dan menghormati perempuan.

b. Leluhur Orang Rimba juga diyakini sebagai orang yang sangat menghargai alam sekitar (hutan).

c. Leluhur Orang Rimba mempunyai kebiasaan sehari-hari yang alami, misalnya tidak mengenakan pakaian kecuali cawat untuk menutup kemaluan, rumah mereka beratap rumbia dan berdinding kayu, makan buah-buahan dari hutan, minum air sungai dengan bonggol kayu, dan tidak makan hewan ternak tetapi mengkonsumsi kijang, ayam hutan, dan rusa.

2. Konsep Leluhur Orang Rimba

Orang Rimba merupakan suku yang unik dan mempunyai kebudayaan yang menarik untuk dikaji. Salah satu aspek dari suku ini adalah asal-usul leluhurnya. Secara umum, asal-usul leluhur Orang Rimba terbagi menjadi dua versi besar, yaitu versi sejarah dan versi cerita atau mitos.

a. Versi Sejarah

Leluhur Orang Rimba dimasukkan ke dalam golongan Melayu tua (Proto Melayu) yang berasal dari Yunan (Muntholib, 1995). Golongan ini terdesak masuk ke hutan setelah kedatangan rombongan Melayu Muda (Deutro Melayu). Pandangan yang sama disampaikan oleh Agus Ruliyanto (Tempo, April 2002:70). Sejumlah artikel menyatakan bahwa Orang Rimba merupakan kelompok Melayu Tua dari rumpun Melanesia. Mereka disamakan dengan kelompok Melayu Tua lainnya di Indonesia seperti orang Dayak, Sakai, Mentawai, Nias, Toraja, Sasak, Papua, dan Batak pedalaman. Kelompok Melayu Tua merupakan eksodus gelombang pertama dari Yunan (dekat lembah sungai Yang Tze di Cina Selatan) yang masuk ke Indonesia Selatan pada tahun 2000 SM. Mereka kemudian tersingkir dan lari ke hutan antara tahun 2000 dan 3000 SM ketika kelompok Melayu Muda datang dengan mengusung peradaban yang lebih tinggi.

J.C. Van Dongen (Arsip Museum Provinsi Jambi, n.d.) menyatakan bahwa dalam hubungannya dengan dunia luar, Orang Rimba mempraktekkan silent trade. Mereka melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan melakukan tukar-menukar barang dengan cara meletakkan barang dagangan di pinggir hutan, kemudian orang Melayu akan mengambil dan menukarnya dengan pakaian atau kebutuhan lainnya. Gonggongan anjing merupakan tanda bahwa barang telah ditukar.

b. Versi Cerita atau Mitos

Munawir Muchlas (1975) menyatakan bahwa ada dua versi cerita atau mitos tentang asal-usul leluhur Orang Rimba. Kedua versi tersebut adalah sebagai berikut.

1). Versi cerita tentang perang antara Jambi dan Belanda yang berakhir pada tahun 1904. Versi ini menyebutkan bahwa pasukan Jambi pada saat itu dibela oleh pasukan Orang Rimba yang dipimpin oleh Raden Perang. Dalam perang tersebut, Orang Rimba terkenal dengan sebutan Orang Kubu, artinya orang yang tak mau menyerah kepada penjajah Belanda. Mereka inilah konon yang menjadi cikal bakal Orang Rimba sekarang.

2). Versi peperangan antara Kerajaan Jambi yang dipimpin oleh Puti Selaras Pinang Masak dengan kerajaan Tanjung Jabung yang dipimpin oleh Rangkayo Hitam. Peperangan ini konon didengar oleh Raja Pagaruyung, yaitu ayah dari Puti Selaras Pinang Masak. Raja Pagaruyung kemudian memerintahkan anak dan pasukannya agar menaklukkan Kerajaan Rangkayo Hitam. Si anak menyanggupi dan bersumpah tidak akan kembali sebelum memenangkan peperangan tersebut. Namun, karena jarak antara Kerajaan Pagaruyung dengan Kerajaan Jambi sangat jauh dan mereka menempuh perjalanan hanya dengan berjalan kaki selama berhari-hari, mereka kelelahan dan kehabisan persediaan bahan makanan mereka. Mereka kemudian bersepakat untuk bertahan hidup di dalam rimba karena mereka malu jika harus kembali ke Pagaruyung. Mereka inilah yang nantinya menamakan diri sebagai Orang Rimba.

Versi cerita dari Sumatera Tengah menyebutkan bahwa leluhur Orang Rimba merupakan satu keturunan dengan Puyang Lebar Telapak yang berasal dari Desa Cambai, Muara Enim. Mereka hijrah karena terdesak oleh perang pada zaman Kesultanan Palembang dan pada masa penjajahan kolonial Belanda (Depsos RI, 1998:55-56). Ada pula versi yang menyebutkan bahwa leluhur Orang Rimba adalah orang Malau Sesat yang meninggalkan keluarga dan lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam (TNBD), yang di kemudian hari dinamakan sebagai Moyang Segayo (Kharis Sutarno di http://mamas86.wordpress.com).

Versi terakhir tentang leluhur Orang Rimba berasal dari kerajaan Melayu. Versi ini menceritakan tentang peristiwa yang dialami oleh tiga orang bersaudara. Ketiga bersaudara ini terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki. Mereka adalah putra-putri bangsawan Kerajaan Melayu pada masa pemerintahan Raja Batu. Konon, ketiga bersaudara itu, bersama dengan sebuah rombongan, kabur ketika Kerajaan Melayu diserbu oleh Kerajaan Sriwijaya, kira-kira sebelum abad ke-15 M. Rombongan pelarian tersebut bermaksud pergi ke Batu Sangkar, namun mereka tersesat di Air Hitam, sebuah kawasan hutan di perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan. Di tempat itu, rombongan pelarian tersebut berpisah. Kedua saudara laki-laki berangkat pulang sementara sang putri sulung menolak. Dalam perkembangan lebih lanjut, putri inilah yang dianggap sebagai leluhur Orang Rimba sekarang. Orang Rimba menyebut putri tersebut sebagai “nenek” (Priyono B Sumbogo dalam majalah.tempointeraktif.com).

Orang Rimba sendiri membayangkan leluhur mereka adalah orang-orang yang memiliki tiga buah ciri yang mereka warisi dari leluhur mereka. Ketiga ciri tersebut adalah sebagai berikut.

1). Leluhur Orang Rimba adalah orang yang kuat pendirian, gagah berani, rendah hati, dan menghormati perempuan. Pandangan ini tercermin dalam cerita tentang Bujang Parantau yang justru diajak menikah oleh seorang putri bernama Puti Selaras Pinang Masak. Dari hasil perkawinan itu lahirlah empat orang anak, yaitu Bujang Malapangi, Dewo Tunggal, Putri Gading, dan Putri Selaro Pinang Masak (Muchlas, 1975).

2). Leluhur Orang Rimba juga diyakini sebagai orang yang sangat menghargai alam sekitar (hutan). Hutan dan Orang Rimba dianggap sebagai dua hal yang berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan. Barang siapa merusak hutan berarti merusak kehidupan Orang Rimba sendiri. Aturan-aturan hidup ini telah diwujudkan dalam hukum adat mereka yang berbentuk seloko (mantera) yang selalu dibacakan pada penyelenggaraan upacara adat atau jika terdapat seseorang yang melanggar adat.

Orang Rimba yang melanggar adat akan mendapatkan sanksi adat dan kutukan leluhur. Hal ini tercermin dalam seloko ini: “Di bawah idak berakar, di atai idak bepucuk, kalo di tengah ditebuk kumbang, kalau ke darat diterkam rimau, ke air ditangkap buayo“ (Maknanya lebih kurang adalah jika Orang Rimba melanggar adat pusaka persumpahan nenek moyang, maka hidupnya akan menderita atau mendapat bencana, kecelakaan, dan kesengsaraan).

3). Orang Rimba yakin bahwa pola kehidupan leluhur mereka adalah seperti yang tercermin dalam seloko ini: “Bertubuh onggok, berpisang cangko, beratap tikai, berdinding baner, melemak buah betatal, minum air dari bonggol kayu, berkambing kijang,  berkerbau tenu, bersapi ruso” (Maknanya lebih kurang adalah sehari-hari tanpa baju, kecuali cawat untuk menutup kemaluan, rumah beratap rumbia, berdinding kayu, makan buah-buahan dari hutan, minum air sungai dengan bonggol kayu, tidak makan hewan ternak, tetapi kijang, ayam hutan, dan rusa) (http://www.gp-ansor.org/).

3. Pengaruh Sosial

Asal-usul Orang Rimba memberikan beberapa pengaruh terhadap kehidupan sosial mereka. Pengaruh-pengaruh tersebut adalah sebagai berikut.

a. Pengaruh terhadap pelaksanaan hukum adat.

Leluhur Orang Rimba diyakini telah mewariskan aturan-aturan sosial yang dituangkan dalam hukum adat yang mengambil bentuk sebagai seloko (mantera). Dalam konteks ini, leluhur diposisikan sebagai orang yang dihormati keberadaannya. Salah satu wujud pernghormatan tersebut adalah ketaatan terhadap perintah dan larangan yang termaktub dalam seloko. Beberapa hukum adat tersebut adalah sebagai berikut.


1). Laki-laki dari luar rimba baru boleh masuk hutan tempat tinggal Orang Rimba jika ditemani oleh salah seorang anggota suku Orang rimba. Ketika pertama kali masuk hutan, orang tersebut harus terlebih dahulu meneriakkan semacam salam yang berbunyi “Ado jentan kiuna? (Ada laki-laki di sana?). Setelah memperoleh jawaban dari Orang Rimba, laki-laki tersebut baru boleh masuk.
2). Laki-laki dilarang bertelanjang bulat ketika mandi, melainkan harus tetap mengenakan penutup alat vital. Jika ada orang yang melanggar aturan ini, maka pelaku akan dihukum dengan membayar denda berupa sejumlah kain.
3). Laki-laki dan perempuan dilarang berduaan. Laki-laki dan perempuan yang ketahuan sedang berduaan akan dikawinkan secara paksa. Sebelumnya, badan mereka akan dipukuli dengan rotan sebagai hukuman karena telah mempermalukan orang tua.
4). Upacara Besale dilaksanakan jika terdapat gangguan pada semangat atau jiwa manusia. Besale merupakan istilah Orang Rimba yang secara umum berarti membangunkan semangat atau jiwa manusia untuk dibersihkan dari pengaruh roh-roh jahat yang merasukinya (melayuonline.com).

b. Pengaruh terhadap pengelolaan sumber daya alam.

Leluhur Orang Rimba dikenal sebagai orang yang hidupnya berpindah-pindah. Hal ini dilakukan karena mereka ingin mencari daerah yang dianggap dapat memberikan kehidupan yang lebih baik dan juga untuk menjaga keseimbangan alam. Pola hidup seperti ini sampai sekarang masih dilakukan oleh Orang Rimba sebagai ketaatan mereka terhadap adat warisan dari leluhur. Leluhur Orang Rimba memiliki cara dan istilah tersendiri dalam mengolah hutan. Misalnya, mereka membedakan antara hutan (rimba), sesap, belukor (belukar), dan benuaron (melayuonline.com). Dalam konteks ini, ajaran leluhur menjadi pijakan pokok Orang Rimba dalam menjaga kesimbangan hutan.

c. Pengaruh terhadap sistem kekerabatan.

Orang Rimba menganut sistem kekerabatan matrilineal. Mereka meyakini bahwa leluhur mereka sangat menghormati kaum perempuan sebagaimana yang tercermin dalam cerita Putri Selaro Pinang Masak. Bahkan, jika terjadi perkawinan antarkelompok, ada kencenderungan bahwa pihak laki-laki akan mengikuti kelompok istrinya. Sistem kekerabatan ini masih berlaku hingga sekarang. Hal ini menandakan bahwa Orang Rimba memposisikan perempuan dengan cukup istimewa.

d. Pengaruh terhadap keyakinan akan rimba sebagai tempat tinggal yang sesuai dengan petuah leluhur.

Kawasan hutan yang dipilih menjadi tempat tinggal oleh leluhur Orang Rimba adalah kawasan yang sekarang dikenal sebagai Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Pemilihan tempat ini konon disebabkan oleh keyakinan Orang Rimba bahwa jika mereka tinggal di TNBD, mereka akan selalu dilindungi oleh roh leluhur yang tinggal di kawasan hutan tersebut.

4. Penutup

Orang Rimba menghormati leluhur mereka dengan cara melaksanakan berbagai upacara adat dan mematuhi ketentuan-ketentuan adat yang ada agar keseimbangan alam tetap terjaga. Hal ini menandakan bahwa ajaran leluhur masih dijaga dengan baik oleh Orang Rimba. Mengingat banyaknya bencana banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan yang menimpa Indonesia akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka ajaran leluhur Orang Rimba ini menemukan momentumnya untuk terus dijaga dan diapresiasi. Yusuf Efendi (bdy/23/03-10).

Referensi

Agung Ruliyanto, 2002. “Asal-usul Suku Anak Dalam.” Majalah Tempo 18 April 2002.

Butet Manurung, 2007. Sokola Rimba. Yogyakarta: Insist Press.

C.J. Van Dongen, n.d. Orang Kubu (Suku Kubu). Arsip Museum Provinsi Jambi, Jambi.

Dian Prihatini, 2007. Makalah ”kebudayaan Suku Anak Dalam”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi. Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.

Gerakan Pemuda Ansor. Mengunjungi Orang Rimba, Suku Anak Dalam di Jambi. Terdapat di http://www.gp-ansor.org. (Diunduh pada tanggal 20 Maret 2010).

Kharis Sutarno. Suku Anak Dalam Jambi (Suku Kubu) http://mamas86.wordpress.com. (Diunduh pada tanggal 21 Maret 2010).

Komunitas Budaya Nusantara. Kebudayaan Suku Anak Dalam. Terdapat di http://budayanusantara.blogsome.com. (Diunduh pada tanggal 20 Maret 2010).

Lucky Ayu Wulandari, 2009. Konversi hutan Taman Nasional Bukit 12 menjadi media pendekatan gradual terhadap upaya pengubahan pola hidup Suku Anak Dalam (Suku Kubu) Jambi. Jurusan bahasa Inggris, jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi.

Muzaiin Arfa Satria. Asal-usul dan sejarah suku Anak Dalam.terdapat di http://buletin73.blogspot.com. (Diunduh pada tanggal 20 Maret 2010).

Munawir Muchlas, 1975. Sedikit tentang kehidupan Suku Anak Dalam ( Orang Kubu) di Provinsi Jambi, Jambi: Kanwil Depsos Provinsi Jambi.

Muntholib Soetomo, 1995. Orang Rimbo : Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat terasing di Makekal Provinsi Jambi. Bandung: Universitas Padjajaran.

Pemerintah Provinsi Jambi. Mengenal Suku Anak Dalam. [Online] Tersedia di http://www.jambiprov.go.id [Diunduh pada tanggal 20 Januari 2010].

Priyono B. Sumbogo. “Tersesat di Rimbo”. [Online] Tersedia di http://majalah.tempointeraktif.com [Diunduh pada tanggal 22 Maret 2010].

Tim penelitian Despos RI, 1998. Masyarakat terasing Suku Anak Dalam di Dusun Solea dan Melinani. Jakarta: Direktorat Bina Masyarakat Terasing.

Yusuf Efendi, 2010. “Besale: upacara penyembuhan Orang Rimba”. [Online] Tersedia di http://melayuonline.com [Diunduh pada tanggal 27 Februari 2010].

Yusuf Efendi, 2010. “Halo Nio: dewa dunia dalam pengetahuan Orang Rimba Jambi”. [Online] Tersedia di http://melayuonline.com [Diunduh pada tanggal 27 Februari 2010].

Sumber foto: http://www.jambiprov.go.id



 

[1] Saat ini, mayoritas orang Rimba tinggal di tiga daerah yang terpisah, yaitu di sekitar TNBD 30, TNBD 12 (keduanya di wilayah utara Jambi), dan sepanjang jalan lintas Sumatra (wilayah selatan Jambi). Ketiga wilayah ini diyakini oleh Orang Rimba sebagai tempat tinggal leluhur mereka dahulu. Di wilayah ini, sekarang sedang digalakkan program konversi hutan, salah satunya untuk melindungi keberadaan Orang Rimba (Lucky Ayu Wulandari, 2009).

[2] Menurut Muntholib Soetomo (1995), bagi Orang Rimba sendiri, sebutan Kubu justru dianggap merendahkan mereka karena kata “kubu” dalam percakapan sehari-hari Orang Rimba menunjukan kedudukan dan kebodohan. Sebagai contoh, ketika anak Orang Rimba membuang sampah sembarangan, maka akan ia diumpat “Kubu kau….!”

 

Dibaca : 17.403 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password